Pengajian Kamisan Diktilitbang: Inward vs Outward Looking

Pengajian Diktilitbang Inward vs Outward Looking
Pengajian Diktilitbang Inward vs Outward Looking

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah mengadakan Pengajian Kamisan dengan tema “Pengajian Majelis Inward vs Outward Looking” secara daring, Kamis (24/08/2023). Program ini digagas bertujuan untuk mendukung tradisi literasi di Majelis dan PTMA. Program perdana ini diikuti hingga 150 peserta yang terdiri dari pimpinan harian, anggota pleno, dan pimpinan PTMA.

“Ini merupakan program perdana dari pengajian rutin bulanan,” papar Prof Achmad Jainuri memberikan pengantar. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan dan sarana silaturahmi. “Ke depannya tema yang diangkat yakni terkait dengan AIK, PTMA, dan aspek lain seperti ekonomi, sosial, budaya, politik dsb,” papar Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PPM Bidang AIK tersebut. Paparan pengajian nantinya diharapkan dapat menghasilkan output berupa buku sehingga menjadi tradisi literasi yang ada di Muhammadiyah.

Pengajian Diktilitbang Inward vs Outward Looking

Dalam materinya, Prof Bambang Setiaji selaku Ketua Majelis Diktilitbang PPM memaparkan terkait Outward Looking dan Inward Looking dalam Islam. Ajaran ini dapat diterapkan oleh pimpinan PTMA dalam memimpin dan mengelola manajemen PTMA dengan baik. Strategi yang dapat diterapkan seperti strategi Sun Tzu yakni mengenai ajaran atau strategi perang yang selalu memikirkan lawan. “Tentu pimpinan PTMA perlu mendalami strategi Sun Tzu agar dapat menjadi strategi andalan dalam mengelola dan mengembangkan SDM PTMA ke depannya,” paparnya.

Outward Looking dalam Islam terwujud dalam perintah dakwah, perjalanan, musafir, dan jihad. Sejarah mencatat pertumbuhan yang cepat, pada tahun ke 13 hijriah Islam sudah menguasai seluruh semenanjung Arab, Fathul Makkah, Perang Hunain, Perang Tabuk. Pada 21 H Iraq Syria, dan pada 98 H menguasai Spanyol. “Outward looking ini dapat digambarkan sebagai strategi dalam menyerang,” paparnya. Jika dilihat pada Inward Looking yakni setiap perang adanya pasukan kuda yang dipersiapkan. Jika dibawa pada ranah PTMA, kuda dapat digambarkan sebagai fasilitas yang dibutuhkan dalam menunjang kemajuan PTMA. “Jika PTMA tidak menyediakan kuda (fasilitas) yang sehat, tempat duduk yang empuk, dan baik, tentu akan menyulitkan kemajuan SDM nantinya,” paparnya.

Keuntungan Outward Looking atau dikenal dengan kata jihad didalam Islam diantaranya (1) diampuni dosa-dosanya, (2) dibimbing dalam strategi, (3) kemenangan yang dekat, (4) tidak bisa mati (selalui hidup), (5) boleh tricky yakni pemimpin yang cakap walau agak sembrono lebih dipilih daripada yang religius an sich. (6) harus berkonsorsium, berbaris rapi, dan satu komando (As Shaf ayat 4).

Prof Bambang juga memaparkan bahwa tahapan SDM terdiri atas tiga yakni (1) Tijar (hire) pegawai yang baik, (2) Amal, yakni pertahan yang gigih, (3) Jihad, para pengerang, komandan, dan inspirator. “Perlu diwaspadai yakni para free rider yang berarti orang-orang yang tidak peduli dan tidak ingin turut andil dalam kemajuan institusi,” paparnya.

Dalam memimpin PTMA perlu adanya keseimbangan bertahan dan menyerang. Ia menambahkan, ciri kekalahan dalam managemen SDM yakni (1) tidak bisa membiayai investasi dan reinvestasi, tidak visa membayar SDM, tidak bisa menabung (uang dan aset tetap), serta tidak ada progress (tidak berkembang). Adanya strategi moratorium papar Prof Bambang Setiaji dapat menjadi masalah pada industri pendidikan. “Moratorium benar dilakukan oleh negara supaya tidak kebanyakan pemain. Tetapi tidak benar dilakukan oleh pemain. Jika pemain moratorium 5 tahun, pemain lain tumbuh 5 persen, market share kita berkurang 25% dalam pasar nasional,” paparnya. Terlebih, PTMA masih kekurangan dalam penyediaan modal. Kesalahan lain yang dapat menjadi masalah yakni banyaknya PTMA yang mendirikan kampus baru. Padahal, adanya PSDKU (cabang) dapat menjadi solusi bagi PTMA. “Strategi yang tepat yakni mendirikan cabang dari kampus yang sudah berhasil,” paparnya. Diakhir ia berpesan agar pimpinan PTMA dapat merealisasikan nilai-nilai AIK pada sivitas akademika. “Perlu diingat dalam mengelola PTMA perlu menggunakan nilai-nilai spiritual didalamnya,” paparnya. []APR

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*