Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menduduki peringkat pertama dengan guru besar terbanyak di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA). Capaian tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bambang Setiaji, dalam Sidang Senat Terbuka di Edutorium KH. Ahmad Dahlan UMS, Selasa (20/1).
Pada kesempatan tersebut, UMS secara resmi mengukuhkan lima guru besar baru dari berbagai bidang keilmuan. Mereka adalah Suranto, Eko Setiawan, Heru Supriyono, Umi Budi Rahayu, serta Andri Nirwana AN.
Bambang Setiaji menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas pengukuhan lima guru besar tersebut, terlebih tiga di antaranya merupakan lulusan perguruan tinggi luar negeri. Ia menilai kepakaran riset para profesor UMS memiliki karakter keilmuan umum yang tetap terintegrasi dengan nilai-nilai keislaman.
“Walaupun kepakaran guru besar yang dikukuhkan pagi ini bersifat keilmuan umum, namun tetap memiliki korelasi dan integrasi dengan nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Ia juga menyoroti karya ilmiah Andri Nirwana yang mengintegrasikan Ilmu Tafsir dengan nilai-nilai kebangsaan. Menurut Bambang, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa ilmu-ilmu keislaman tetap relevan dan kontekstual dengan perkembangan zaman.
“Riset Prof. Andri menunjukkan bahwa ilmu-ilmu agama, khususnya ilmu tafsir, dapat relevan dengan nilai-nilai kebangsaan dan dinamika zaman,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa Muhammadiyah saat ini mengelola 164 perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dengan pengukuhan lima guru besar baru, UMS dinilai konsisten berkontribusi dalam mencetak profesor di lingkungan persyarikatan.
“Pengukuhan lima guru besar pagi ini menjadikan UMS berada di peringkat pertama dengan jumlah guru besar terbanyak, disusul Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Universitas Ahmad Dahlan,” jelasnya.
Selain kuantitas, Bambang juga menekankan pentingnya orientasi riset yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya bagi penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
“Riset yang baik bukan yang muluk-muluk, tetapi yang sederhana dan mampu membantu UMKM di sekitar kita,” tegasnya.
Be the first to comment