Prestasi akademik membanggakan kembali ditorehkan sivitas alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Nur Rahmah Awaliah, alumnus Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar), berhasil menembus jurnal internasional bereputasi tinggi Scopus Q1, Advances in Pharmaceutical Bulletin, melalui kolaborasi riset bersama 25 ilmuwan lintas negara.
Capaian ini diraih hanya dua hari setelah Rahmah mengucapkan sumpah dokter pada 22 September 2025. Manuskrip berjudul “The Art of Nanoimmunobiotechnomedicine in Depression Management” tersebut diterima dan dipublikasikan sebagai hasil kerja kolaboratif peneliti dari Indonesia, Malaysia, dan Taiwan.
Dokter muda kelahiran Bantaeng tahun 2001 itu mengungkapkan bahwa proses riset dan penulisan artikel ilmiah ini memakan waktu sekitar satu tahun. Kolaborasi dilakukan bersama para akademisi dan peneliti dari beragam latar belakang keilmuan, mulai dari kedokteran, farmasi, bioteknologi, hingga bioinformatika.
Dalam perjalanannya menuju publikasi internasional, tim peneliti menghadapi sejumlah tantangan teknis. Salah satunya adalah kendala akses pada laman penerbit jurnal yang berbasis di Iran, yang sempat beberapa kali tidak aktif akibat situasi geopolitik setempat.
“Website jurnal sempat tidak dapat diakses beberapa kali, terutama saat terjadi eskalasi konflik dan gelombang demonstrasi besar di Iran,” ungkap dr. Rahmah. Ia menilai pengalaman tersebut sebagai proses pembelajaran berharga yang mengajarkan ketekunan dan kesabaran dalam dunia riset ilmiah.
Artikel yang dipublikasikan mengulas pendekatan inovatif Nanoimmunobiotechnomedicine (NiBTM) dalam manajemen depresi. Depresi dipahami sebagai gangguan kompleks yang melibatkan peradangan saraf (neuroinflammation) serta ketidakseimbangan sitokin, seperti IL-6 dan TNF-alpha, sehingga membutuhkan pendekatan terapi yang lebih presisi.
Konsep NiBTM memadukan berbagai disiplin ilmu, di antaranya nanoteknologi, imunologi, biologi molekuler, bioinformatika, bioteknologi, serta teknologi omics. Melalui pemanfaatan nanocarrier, terapi diharapkan mampu menembus blood-brain barrier secara lebih efektif, menekan peradangan otak, serta mengurangi stres oksidatif.
Pendekatan ini membuka peluang pengembangan terapi depresi yang lebih personal dengan mempertimbangkan data multiomics, gut-brain axis, dan profil genetik pasien.
Rahmah menyampaikan apresiasi kepada para pembimbing dan kolaborator, khususnya Dito Anurogo, yang telah memberikan pendampingan dan kesempatan untuk terlibat dalam publikasi internasional bereputasi.
“Ini merupakan kesempatan berharga yang membuka banyak peluang akademik ke depan,” ungkapnya.
Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi inspirasi, khususnya bagi mahasiswa dan dosen muda di lingkungan PTMA, untuk terus mengembangkan riset kolaboratif berbasis sains yang berdampak global. Hingga berita ini diturunkan, artikel tersebut telah menarik ratusan pembaca dan unduhan, menandakan tingginya perhatian komunitas ilmiah internasional terhadap topik yang diangkat.
Be the first to comment