Mahasiswa Unimus Gagas Sekolah Perempuan, Dorong Kemandirian Ekonomi Desa Kandangrejo

Mahasiswa Unimus Gagas Sekolah Perempuan, Dorong Kemandirian Ekonomi Desa Kandangrejo
Tim PPK Ormawa IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang.

Komitmen mahasiswa dalam menghadirkan dampak sosial ditunjukkan oleh tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang. Melalui program bertajuk Sekolah Perempuan, mahasiswa menginisiasi gerakan pemberdayaan yang menyasar peningkatan literasi, penguatan peran keluarga, hingga kemandirian ekonomi perempuan di Desa Kandangrejo, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Program ini digagas oleh Reffi Naufal Setiawan bersama timnya—Regina Amelia Putri, Laily Muntasiroh, dan Eny Winaryati—di bawah naungan PPK Ormawa IMM Ahmad Dahlan UNIMUS. Kegiatan tersebut memperoleh dukungan pendanaan dari Kementerian Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI melalui skema PPK Ormawa.

Menjawab Tantangan Literasi dan Parenting

Desa Kandangrejo dikenal sebagai desa agraris dengan mayoritas penduduk bekerja di sektor pertanian. Berdasarkan data desa, sekitar 60 persen perempuan memiliki tingkat pendidikan formal yang relatif rendah. Selain itu, sebagian besar belum pernah mendapatkan pendidikan pengasuhan anak (parenting) secara formal.

Kondisi ini menjadi latar belakang lahirnya Sekolah Perempuan pada 2024. Program tersebut menyasar 51 perempuan usia 20–45 tahun. Pada tahun pertama, fokus kegiatan diarahkan pada peningkatan literasi kritis melalui tema Perempuan Tanggap Hoaks dan Perempuan Paham Parenting.

Reffi Naufal Setiawan, Ketua Tim PPK Ormawa IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang
Reffi Naufal Setiawan, Ketua Tim PPK Ormawa IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang.

“Perempuan sering menjadi tokoh sentral dalam keluarga. Penguatan literasi dan parenting menjadi langkah awal agar mereka lebih percaya diri serta aktif dalam pengambilan keputusan di keluarga,” ujar Reffi.

Sekolah Perempuan dirancang bukan sekadar forum belajar, tetapi ruang dialog dan pemberdayaan. Para peserta didorong untuk saling berbagi pengalaman sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya pendidikan keluarga.

Dari Literasi ke Penguatan Ekonomi Lokal

Memasuki tahun kedua (2025), program berkembang dengan memanfaatkan potensi lokal desa. Kandangrejo merupakan salah satu penghasil bawang merah terbesar di Kecamatan Klambu. Namun sebelumnya, masyarakat hanya menjual hasil panen dalam bentuk mentah dengan nilai tambah terbatas.

Melihat peluang tersebut, tim mahasiswa mendorong inovasi pengolahan bawang merah menjadi bawang goreng bernilai jual. Pendampingan dilakukan mulai dari teori produksi, praktik pengolahan, hingga strategi pemasaran.

Hasilnya, warga kini mampu memproduksi bawang goreng secara mandiri. Bahkan, inovasi berkembang dari masyarakat sendiri, seperti varian bawang goreng rasa daun jeruk yang meningkatkan daya saing produk.

“Kalau dibilang mandiri, mereka sangat mandiri. Produksi berjalan tanpa campur tangan kami. Bahkan kualitas produknya kini lebih baik dibanding saat awal pendampingan,” kata Reffi.

Produk olahan tersebut telah dipasarkan dan memberikan tambahan penghasilan bagi warga. Antusiasme masyarakat dinilai menjadi faktor kunci keberlanjutan program.

Menjaga Keberlanjutan Program

Agar dampak tidak berhenti saat program selesai, tim melakukan monitoring dan evaluasi berkala. Salah satunya dilakukan pasca kegiatan Abdidaya Ormawa pada Desember 2025.

Tim PPK Ormawa IMM Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Semarang.

Dalam evaluasi tersebut, mahasiswa dan warga kembali melakukan produksi bersama sekaligus menyiapkan regenerasi tim pelaksana di tingkat desa. Langkah ini dilakukan agar program tetap berjalan secara mandiri.

“Kami ingin memastikan kegiatan ini terus berlanjut, bukan hanya selama masa pendampingan,” ujarnya.

Ke depan, pada 2026, Sekolah Perempuan direncanakan berkembang menjadi lembaga sertifikasi non-profit. Langkah ini diharapkan memperkuat legalitas sekaligus memperluas dampak program.

Tantangan dan Harapan

Dalam pelaksanaannya, Reffi mengakui terdapat sejumlah tantangan, mulai dari perbedaan bahasa, akses lokasi yang relatif jauh, hingga manajemen waktu sebagai mahasiswa. Karena itu, ia menilai dukungan penuh perguruan tinggi sangat penting, baik dari sisi pendanaan maupun mobilitas.

Meski demikian, capaian yang diraih menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan perubahan sosial berbasis kebutuhan riil masyarakat. Program ini tidak hanya meningkatkan literasi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pengolahan potensi lokal.

Sekolah Perempuan menjadi contoh bahwa gerakan kemahasiswaan dapat berkontribusi langsung pada pembangunan desa. Dari ruang belajar sederhana hingga dapur produksi bawang goreng, pemberdayaan tumbuh dari kolaborasi dan konsistensi.

Langkah kecil yang dirintis mahasiswa ini membuktikan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari desa—dan dari keberanian untuk peduli.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*