Tauhid dalam perspektif Muhammadiyah tidak berhenti pada pengakuan atas keesaan Allah secara teologis. Lebih dari itu, tauhid menjadi landasan etis dan praksis dalam membangun relasi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Achmad Jainuri, dalam sesi ketiga Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (21/2).
Menurut Jainuri, pemahaman tauhid yang komprehensif menjadi fondasi bagi lahirnya sikap pluralitas dan toleransi dalam gerakan Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa ibadah dalam pandangan Muhammadiyah tidak hanya dimaknai sebagai ritual individual, tetapi memiliki dimensi sosial yang luas.
“Ibadah menurut Muhammadiyah memiliki makna sosial yang sangat luas,” ujarnya.
Jainuri menjelaskan bahwa orientasi tersebut dikenal sebagai filsafat praksis—yakni penekanan pada tindakan nyata sebagai perwujudan ajaran Islam. Prinsip ini selaras dengan semangat “sedikit bicara banyak kerja” yang pernah digaungkan oleh Ahmad Syafii Maarif.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa akar pemikiran ini telah diletakkan oleh Ahmad Dahlan. Menurutnya, Islam tidak hanya berhenti pada teks Al-Qur’an dan Hadis, tetapi harus tampak dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Islam itu tidak hanya yang tertulis dalam Al-Qur’an dan Hadis, tetapi pada akhirnya adalah yang tampak dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Orientasi praksis tersebut kemudian dilembagakan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, yang menegaskan pentingnya kehadiran amal usaha sebagai wujud konkret dakwah. Bahkan, dalam banyak kasus, amal usaha hadir lebih dahulu sebelum struktur organisasi berdiri di suatu wilayah.
Jainuri menambahkan bahwa konsep tauhid dalam Muhammadiyah memiliki implikasi luas terhadap pemaknaan ibadah. Ibadah tidak hanya dipahami sebagai ibadah mahdhah, melainkan juga mencakup dimensi sosial yang membentuk karakter dan tanggung jawab moral.
Puasa, misalnya, tidak sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi proses pembentukan kepribadian yang amanah, sabar, berorientasi pada kebenaran, dan ikhlas.
“Ikhlas secara teologis berarti memahami bahwa seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan kita didasarkan semata-mata karena Allah,” tegasnya.
Melalui pemahaman tersebut, tauhid dalam Muhammadiyah ditegaskan sebagai kekuatan transformatif. Ia tidak hanya membentuk kesalehan individual, tetapi juga mendorong hadirnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sosial, pendidikan, dan pelayanan kepada masyarakat.
Be the first to comment