WARTAPTM.ID, MAKASSAR – Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Sukri Syamsuri, menegaskan pentingnya penguatan nilai kemanusiaan dalam pendidikan di tengah percepatan digitalisasi.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sabtu (2/5/2026). Seminar ini mengangkat tema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Transformasi Profesionalitas Guru di Era Digital”.
Dalam paparannya, Prof Andi Sukri Syamsuri—yang akrab disapa Prof Andis—menyampaikan bahwa kehadiran teknologi tidak secara otomatis meningkatkan mutu pendidikan. Ia menekankan bahwa kualitas pembelajaran tetap ditentukan oleh peran guru sebagai aktor utama dalam proses pendidikan.
“Teknologi memang memperluas akses, tetapi kualitas pendidikan tetap ditentukan oleh guru yang mampu memanusiakan, merefleksikan, dan memuliakan peserta didik,” ujarnya.
Kearifan Lokal sebagai Fondasi Etika
Prof Andis memperkenalkan konsep nilai kearifan lokal Bugis-Makassar yang dikenal dengan prinsip 3S, yakni Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi, sebagai landasan etika profesi guru di era digital.
Ia menjelaskan, Sipakatau menekankan penghargaan terhadap martabat peserta didik sebagai manusia. Sipakainge mendorong budaya saling mengingatkan melalui refleksi dan umpan balik. Sementara Sipakalebbi membangun suasana pembelajaran yang menghargai, aman, dan berkeadaban.
Menurutnya, ketiga nilai tersebut dapat menjadi kompas moral bagi pendidik dalam menghadapi dinamika pendidikan modern yang semakin kompleks.
Tantangan Global Pendidikan
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti berbagai tantangan global di sektor pendidikan, termasuk potensi kekurangan tenaga pendidik secara global hingga 2030, serta capaian literasi dan numerasi yang masih perlu ditingkatkan.
Ia mengingatkan bahwa digitalisasi harus dimanfaatkan secara tepat untuk mendukung kualitas pembelajaran, bukan sekadar penggunaan teknologi semata.
“Teknologi bisa menjadi distraksi atau bahkan mengurangi relasi manusiawi dalam pendidikan. Karena itu, teknologi harus menjadi penguat nilai, bukan pengganti peran guru,” tegasnya.
Model Guru Digital-Humanistik
Sebagai solusi, Prof Andis menawarkan konsep guru digital-humanistik, yakni pendidik yang mampu mengintegrasikan kompetensi teknologi dengan kekuatan relasi interpersonal dan nilai kemanusiaan.
Menurutnya, profesionalitas guru tidak hanya diukur dari penguasaan teknologi, tetapi juga dari kualitas interaksi, ketepatan pedagogik, serta tanggung jawab moral terhadap peserta didik.
Ia juga mendorong penguatan budaya refleksi dan praktik pembelajaran berkelanjutan, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung diferensiasi pembelajaran dan penguatan karakter.
Menutup paparannya, Prof Andis menegaskan bahwa pendidikan bermutu tidak dapat dilepaskan dari nilai dan budaya yang melandasinya.
“Guru sejati di era digital bukan yang paling cepat menggunakan teknologi, tetapi yang paling bijak memanfaatkannya untuk memanusiakan, mengingatkan, dan memuliakan,” tuturnya.
Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hardiknas 2026 yang diikuti mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG), akademisi, serta praktisi pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.
Be the first to comment