WARTAPTM.ID, SIDOARJO — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menyiapkan 37 fasilitator untuk mendampingi pelaksanaan Pendidikan Karakter Mahasiswa Umsida (PKMU) periode 2026–2027. Pembekalan dilakukan melalui Training of Trainer (ToT) Fasilitator PKMU yang digelar Direktorat Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Umsida di Graha Umsida, 15–16 Agustus 2026.
ToT tersebut tidak hanya membekali peserta dengan kemampuan teknis mengelola kelas. Para calon fasilitator juga dipersiapkan dari sisi kemampuan membaca Al-Qur’an, pemahaman ibadah, pembinaan akidah dan akhlak, komunikasi, kerja sama, hingga ketahanan dalam menjalankan pendampingan mahasiswa.
Program PKMU sendiri telah diterapkan Umsida sejak 2016. Pada periode 2026–2027, sebanyak 37 fasilitator akan mendampingi delapan gelombang PKMU yang berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Mei 2027.
Setiap gelombang dilaksanakan selama tiga pekan dan diakhiri dengan kegiatan bermalam pada pekan terakhir.
Direktur Direktorat AIK Umsida, Muadz, mengatakan peran fasilitator membutuhkan kesiapan yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga fisik dan mental. Sebab, proses pendampingan mahasiswa berlangsung dalam rentang waktu yang cukup panjang.
“Kalau lari 100 meter atau 200 meter tentu berbeda dengan lari maraton yang jauh. Jadi kesehatannya perlu dijaga supaya nanti bisa terus mengiringi pendidikan karakter sampai gelombang terakhir,” ujarnya.
Menurut Muadz, fasilitator juga harus mampu menjadi contoh bagi mahasiswa yang didampinginya. Karena itu, proses pembentukan karakter perlu dimulai dari pribadi fasilitator sendiri.
“Jangan hanya membangun karakter orang lain, tapi karakter kita sendiri masih kurang,” pesannya.
Ia juga mengingatkan fasilitator yang masih berstatus mahasiswa agar mampu membagi waktu antara tugas pendampingan dan perkuliahan.
“Jangan sampai nanti kita membina orang lain, membina BQ, setelah itu kuliahnya hancur. Jadi harus berjalan sama-sama,” katanya.
Kasi Pembinaan AIK Mahasiswa Umsida, Ima Faizah, menjelaskan bahwa fasilitator merupakan bagian penting dalam pelaksanaan PKMU. Karena itu, proses seleksi dilakukan untuk memastikan calon fasilitator memiliki kompetensi dan kesiapan menjalankan tugas pendampingan.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain kemampuan membaca Al-Qur’an, kemampuan ibadah, karakter, kemampuan bekerja sama, hingga ketahanan dalam menjalankan tugas.
“Fasilitator itu tugasnya berat. Karena tugasnya berat, kami ingin tahu bagaimana ketahanan mereka terhadap pekerjaan, kemampuan bekerja sama, sampai kemampuan menangkap perintah,” jelas Ima.
Ia menambahkan, tanggung jawab fasilitator tidak berhenti ketika kegiatan PKMU berlangsung. Di luar pertemuan utama, mereka juga akan melakukan mentoring dan pembimbingan terhadap mahasiswa.
Karena itu, ToT diarahkan agar peserta memahami bagaimana mendampingi mahasiswa dalam berbagai situasi yang mungkin muncul selama proses pendidikan karakter.
Pembekalan fasilitator juga diarahkan pada kemampuan praktis. Peserta tidak hanya kembali mempelajari materi dasar seperti membaca Al-Qur’an dan tata cara ibadah, tetapi dilatih bagaimana membimbing mahasiswa ketika menghadapi persoalan dalam pembelajaran.
Dalam materi akidah dan akhlak, misalnya, fasilitator disiapkan untuk memandu diskusi ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan mengenai akhlak, tauhid, maupun persoalan keagamaan lainnya.
Hal serupa dilakukan dalam materi ibadah. Fasilitator dibekali kemampuan merespons pertanyaan mahasiswa, termasuk ketika menemukan perbedaan dalam praktik ibadah.
“Lebih ke teknis bagaimana mendampingi mahasiswa. Termasuk bagaimana membimbing, bagaimana mengelola kelas, kalau dosennya datang terlambat mereka harus apa, atau ketika materi selesai tetapi masih ada waktu itu mau digunakan untuk apa,” terang Ima.
Rangkaian ToT mencakup materi pembinaan akidah dan akhlak, Metode Tarjih Muhammadiyah, tata cara ibadah sesuai Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (HPTM), pembelajaran Baca Al-Qur’an (BQ) bagi orang dewasa, serta penilaian BQ dan PKMU.
Pada hari kedua, peserta mengikuti microtraining yang membahas komunikasi di depan kelas, pengelolaan kelas, ice breaking, membaca kondisi mahasiswa yang mulai bosan atau mengantuk, hingga sikap yang perlu ditunjukkan fasilitator selama berada di kelas.
Pembekalan kemudian dilengkapi dengan kegiatan outbound yang mengasah kemampuan kerja sama tim, komunikasi, pemecahan masalah, ketahanan kerja, dan kepemimpinan.
Bagi sebagian peserta, menjadi fasilitator PKMU juga menjadi kesempatan untuk memperluas pengalaman dalam mendampingi mahasiswa.
Muhammad Dzulfahmi Al Abror, salah satu peserta ToT yang juga mengajar di TPQ, mengaku tertarik mengikuti seleksi karena ingin mendapatkan pengalaman mengajar dalam lingkungan yang berbeda.
“Saya guru TPQ juga. Fasilitator PKMU ini hampir sama seperti guru TPQ, cuma yang diajar sederajat. Saya ingin mencoba dan mencari pengalaman, kalau mengajar seangkatan itu seperti apa,” ungkapnya.
Menurut Dzulfahmi, proses seleksi menjadi pengalaman tersendiri. Ia menyebut tahapan psikotes sebagai salah satu bagian yang cukup menantang sebelum akhirnya dinyatakan lolos sebagai fasilitator.
Setelah mengikuti ToT, ia mulai memperoleh gambaran mengenai tantangan yang akan dihadapi selama pendampingan, termasuk kemungkinan mendampingi mahasiswa yang belum menuntaskan PKMU maupun yang masih mengalami kesulitan dalam BQ.
Ia berharap dapat memberikan pendampingan yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk bertanya dan berkonsultasi ketika menghadapi kesulitan.
“Saya bisa meluangkan waktu buat teman-teman yang masih bingung. Kalau materi atau ilmu, ya pasti saya salurkan juga,” katanya.
Be the first to comment