Forum Guru Besar PTMA Bahas Pemerataan dan Penguatan Kepakaran

Forum Guru Besar PTMA Bahas Pemerataan dan Penguatan Kepakaran

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Forum Komunikasi Guru Besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (Forkom GB-PTMA) 2026 membahas penguatan kapasitas akademik perguruan tinggi, pemerataan guru besar, penguatan kepakaran serta etika penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan tinggi. Forum ini menjadi ruang konsolidasi kepakaran untuk memperkuat peran PTMA dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan menjawab persoalan masyarakat.

Forum yang dihadiri lebih dari 100 guru besar tersebut dibuka di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026). Selain membahas pengembangan akademik, forum juga menyoroti pentingnya interkoneksi ilmu pengetahuan, kontribusi perguruan tinggi terhadap persoalan kebangsaan, serta keberlanjutan riset dan pendidikan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengingatkan bahwa pertambahan jumlah guru besar perlu diikuti peningkatan kualitas dan kemajuan institusi. Menurutnya, guru besar tidak seharusnya menjadi kelompok akademisi yang eksklusif, tetapi perlu hadir sebagai sumber inspirasi dan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi masyarakat.

“Semakin banyak jumlah guru besar, tapi tidak semakin menambah kemajuan universitasnya, maka forum ini harus bisa mengeliminasi,” ungkapnya.

Dalam isu kebangsaan, Haedar turut menyoroti perlunya rekonstruksi pemikiran keindonesiaan, termasuk pemahaman mengenai demokrasi dan hak asasi manusia dalam kaitannya dengan nilai-nilai Pancasila. Ia juga menekankan pengelolaan sumber daya alam secara arif untuk kemakmuran rakyat, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan dan kepentingan generasi mendatang.

Persoalan pemerataan kapasitas akademik menjadi salah satu perhatian dalam forum tersebut. Ketua Panitia Forkom GB-PTMA 2026, Sidik Jatmika, mengungkapkan bahwa 117 dari 165 PTMA belum memiliki guru besar. Sementara itu, sekitar 480–500 guru besar di lingkungan PTMA masih terkonsentrasi di 45–48 kampus.

Data tersebut menunjukkan perlunya kolaborasi antarkampus agar kepakaran yang telah tersedia dapat turut mendukung pengembangan perguruan tinggi yang belum memiliki guru besar. Salah satu gagasan yang mengemuka ialah membentuk Muhammadiyah United, sebuah wadah kolaborasi profesor untuk mendampingi dosen dan memperkuat ekosistem akademik di lingkungan PTMA.

“Dalam forum ini salah satu tujuannya kita ingin membentuk apa yang disebut Muhammadiyah United. Ini dimaksudkan sebagai wadah profesor Muhammadiyah bagi seluruh PTMA,” jelas Sidik.

Melalui gagasan tersebut, guru besar dapat dipetakan berdasarkan rumpun keahlian, seperti Al-Islam, kependidikan, humaniora, ilmu alam, dan ilmu sosial. Kolaborasi yang direncanakan tidak hanya berupa pengajaran sebagai dosen tamu, tetapi juga pendampingan akademik, penelitian dan publikasi bersama, konsultasi pengembangan program studi, serta pemberian masukan kepakaran bagi lembaga internal Persyarikatan.

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Nurmandi, menyambut baik gagasan pendampingan lintas kampus tersebut. Ia menilai kolaborasi dapat membantu dosen yang telah mencapai jabatan Lektor Kepala, tetapi belum memiliki ekosistem yang mendukung pengembangan karier akademiknya. Lebih lanjut Nurmandi juga meminta pendampingan dalam melahirkan guru besar di PTMA supaya diselenggarakan secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM).

“Jadi, harapan saya dengan adanya MU (Muhammadiyah United), itu nanti bisa TSM. Jadi, kita membantu teman-teman yang sudah Lektor Kepala, Lektor Kepala tetapi ekosistemnya tidak mendukung,” harap Nurmandi.

Selain pemerataan guru besar, forum juga membahas tantangan penggunaan AI dalam proses pembelajaran dan penelitian. Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Bambang Setiaji, mendorong PTMA merumuskan batas etik pemanfaatan teknologi tersebut agar tidak mengurangi kedalaman pemahaman mahasiswa.

Bambang mengusulkan agar setiap program studi menetapkan enam hingga delapan mata kuliah inti yang dipelajari secara mendalam dengan pendampingan guru besar. Salah satu metode yang ia tawarkan ialah sorogan, yaitu pembelajaran melalui pembacaan dan pembahasan teks secara terperinci. Mahasiswa diharapkan memahami konsep dasar terlebih dahulu sebelum memanfaatkan AI untuk berdiskusi atau memperluas pengetahuan.

Dalam penelitian, Bambang mengusulkan pembagian peran yang jelas antara bantuan AI dan tanggung jawab peneliti. Menurutnya, AI dapat membantu penyusunan tinjauan pustaka hingga batas yang diusulkannya sebesar 85 persen. Namun, penentuan kebaruan penelitian (novelty), arah riset, serta pengumpulan data lapangan atau laboratorium tetap harus menjadi tanggung jawab peneliti.

Ia juga mendorong penguatan infrastruktur laboratorium teknologi melalui dukungan anggaran publik serta mengajak sekitar 22.000 dosen PTMA memanfaatkan ruang digital untuk menyediakan perkuliahan terbuka. Upaya tersebut diharapkan memperluas akses pembelajaran sekaligus memperkuat kontribusi akademisi kepada masyarakat.

Rangkaian Forkom GB-PTMA 2026 dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu (10/10/2026), dengan agenda rapat komisi yang membahas isu sosial-humaniora serta sains. Komisi sosial-humaniora berfokus pada politik, pemerintahan, dan kebijakan publik, sedangkan komisi sains membahas energi, sumber daya alam, dan keberlanjutan lingkungan.

Forum ini ditargetkan menghasilkan pernyataan bersama, rekomendasi strategis, dan matriks rencana tindak lanjut untuk periode 2026–2027. Agenda tersebut juga mencakup pembentukan kepengurusan Forkom GB-PTMA periode 2026–2030.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply