Pakar Ekonomi Unmuh Jember: Gejolak IHSG Tegaskan Pentingnya Transparansi dan Stabilitas

Pakar Ekonomi Unmuh Jember Gejolak IHSG Tegaskan Pentingnya Transparansi dan Stabilitas

WARTAPTM.ID, JEMBER — Gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi pengingat pentingnya transparansi pasar modal dan stabilitas ekonomi dalam menjaga kepercayaan investor. Di tengah dinamika pasar, investor juga perlu memahami fundamental perusahaan agar tidak terburu-buru mengambil keputusan berdasarkan sentimen jangka pendek.

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Rendy Mirwan Aspirandi, menilai pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi kinerja perusahaan, tetapi juga sentimen global, keterbukaan informasi pasar modal, serta kepastian ekonomi dan politik nasional.

Salah satu hal yang menjadi perhatian investor, menurut Rendy, adalah pemberitaan mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks pasar global. Isu tersebut dapat memengaruhi persepsi investor terhadap daya tarik dan prospek pasar modal Indonesia.

Ia menyebut IHSG sempat mengalami penurunan lebih dari 11 persen. Menurutnya, dinamika tersebut menunjukkan pentingnya transparansi dan kepastian dalam pengelolaan pasar modal agar investor memiliki dasar yang memadai untuk menilai risiko.

Rendy menambahkan, upaya meningkatkan transparansi, termasuk kebijakan mengenai free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan kepada publik, perlu terus diperkuat. Keterbukaan informasi dan kejelasan struktur kepemilikan perusahaan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pasar.

“Investor global itu lebih suka kestabilan dibandingkan keuntungan besar dalam waktu singkat,” jelasnya.

Menurut Rendy, investor internasional turut mempertimbangkan konsistensi kebijakan, kepastian hukum, pengendalian inflasi, serta pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ketidakpastian politik dan perubahan kebijakan yang sulit diprediksi dapat memengaruhi penilaian investor terhadap prospek ekonomi jangka panjang.

Rendy menjelaskan, penurunan harga saham tidak selalu mencerminkan memburuknya kinerja perusahaan. Harga saham juga dapat bergerak akibat sentimen pasar dan isu jangka pendek, meskipun perusahaan masih mencatatkan kinerja keuangan yang positif.

Karena itu, investor perlu membedakan perubahan harga saham dari kondisi fundamental perusahaan. Pemahaman tersebut penting agar keputusan investasi tidak semata-mata didorong kepanikan ketika pasar mengalami tekanan.

Bagi investor pemula, Rendy mengingatkan agar tidak mudah melakukan panic selling atau menjual saham karena panik tanpa mempertimbangkan kondisi perusahaan dan tujuan investasi. Keputusan yang hanya mengikuti kepanikan pasar berisiko membuat investor bertindak tanpa analisis yang memadai.

Ia menyarankan investor mempelajari laporan keuangan perusahaan sebelum membeli saham. Beberapa indikator yang perlu diperhatikan meliputi pertumbuhan pendapatan, perkembangan laba bersih, serta rekam jejak manajemen dalam mengelola perusahaan.

“Kalau beli saham itu harus melihat dulu kinerja perusahaannya secara detail dengan membuka laporan keuangan, membaca pertumbuhan pendapatannya, dan membaca pertumbuhan laba bersihnya,” ujarnya.

Selain menilai kinerja perusahaan, investor juga perlu memperhatikan perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Perubahan harga energi, misalnya, dapat memengaruhi biaya produksi dan kondisi perekonomian, yang selanjutnya berdampak pada kinerja sejumlah sektor usaha.

Rendy juga mengingatkan investor agar tidak sekadar mengikuti tren atau rekomendasi investasi yang beredar di media sosial. Keputusan investasi perlu didasarkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, tujuan keuangan yang jelas, dan pemahaman terhadap risiko.

Investasi saham, menurutnya, tetap memiliki risiko penurunan nilai. Oleh sebab itu, investor perlu menyesuaikan pilihan investasinya dengan kebutuhan serta kemampuan menanggung risiko.

Selain literasi investor, Rendy menilai penguatan tata kelola pasar modal membutuhkan peran pemerintah dan lembaga terkait. Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) perlu menjalankan fungsi masing-masing untuk mendukung stabilitas ekonomi dan meningkatkan kepercayaan terhadap pasar modal.

Ia menekankan pentingnya koordinasi OJK dan BEI dalam memperkuat keterbukaan informasi. Informasi yang jelas dan mudah diakses dapat membantu investor, termasuk investor ritel, menilai kondisi perusahaan serta memahami risiko sebelum mengambil keputusan.

Di sisi lain, pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan ekonomi dan kepastian hukum. Langkah tersebut penting agar pelaku pasar memiliki landasan yang lebih jelas dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang.

Menurut Rendy, gejolak IHSG dapat menjadi momentum untuk memperkuat transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia. Kepercayaan investor tidak hanya bergantung pada kinerja perusahaan, tetapi juga pada kualitas informasi, kepastian hukum, dan konsistensi kebijakan ekonomi.

Dengan memahami fundamental perusahaan serta tidak mudah terbawa sentimen jangka pendek, investor diharapkan mampu mengambil keputusan secara lebih rasional di tengah dinamika pasar saham.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply