Wisudawan Katolik Penerima Beasiswa Penuh Lazismu, Lusia Temukan Arti Toleransi di Umsida

Wisudawan Katolik Penerima Beasiswa Penuh Lazismu, Lusia Temukan Arti Toleransi di Umsida

WARTAPTM.ID, SIDOARJO — Jauh dari keluarga di Flores, Nusa Tenggara Timur, Lusia Cherlyana Moi menuntaskan pendidikan di Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dengan beasiswa penuh dari Lazismu. Sebagai mahasiswa Katolik di perguruan tinggi Muhammadiyah, ia menemukan pengalaman tentang persahabatan, kekeluargaan, dan penghargaan terhadap perbedaan yang membekas selama masa kuliahnya.

Lusia menjadi salah satu wisudawan Umsida pada Ahad (25/10/2026). Perjalanannya menuju kelulusan bermula dari keinginan melanjutkan pendidikan tinggi melalui jalur beasiswa. Ia mencari perguruan tinggi yang dapat memberinya kesempatan kuliah, hingga akhirnya mendaftar secara mandiri ke Umsida dan memperoleh beasiswa penuh dari Lazismu.

Pilihan terhadap program studi TLM juga didasari pertimbangannya mengenai peluang bidang tersebut di daerah asalnya. Ia melihat bidang teknologi laboratorium medis masih memiliki peminat yang relatif sedikit di lingkungannya.

Namun, keputusan merantau ke Jawa sempat diiringi kekhawatiran. Lusia harus meninggalkan keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan baru, termasuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa nonmuslim di kampus yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Sempat Khawatir Kuliah di Kampus Muhammadiyah

Sebelum berangkat ke Sidoarjo, Lusia sempat mempertanyakan bagaimana dirinya akan diterima di lingkungan kampus Muhammadiyah. Kekhawatiran itu berkurang setelah ia berdiskusi dengan kakaknya yang memiliki relasi dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kupang.

Dari percakapan tersebut, Lusia mengetahui bahwa mahasiswa nonmuslim juga menempuh pendidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah.

“Ternyata malah banyak yang di Muhammadiyah Kupang itu malah banyak yang Kristen,” tuturnya, mengingat percakapan dengan sang kakak.

Pengalaman yang ia temui setelah mulai kuliah pun berbeda dari kekhawatirannya. Lusia merasa diterima oleh teman-teman yang terbuka dan bersedia membantu tanpa membedakan latar belakang.

“Dari awal kuliah sampai akhir ini banyak sekali teman-teman yang bantu. Kayak enggak pilih-pilih teman gitu. Semuanya mau dari latar belakang apa pun itu, mereka berteman,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Lusia merasa memiliki lingkungan pendukung selama tinggal jauh dari keluarga. Baginya, pertemanan yang terbangun selama kuliah menjadi bagian penting dalam menjalani kehidupan di perantauan.

Menemukan Kekeluargaan di Kelas dan Organisasi

Pengalaman Lusia selama di Umsida tidak hanya terbentuk melalui kegiatan akademik. Ia juga aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), organisasi yang memberinya kesempatan untuk berinteraksi dan belajar bersama mahasiswa dari latar belakang berbeda.

Di lingkungan organisasi maupun Program Studi TLM, Lusia merasakan suasana kekeluargaan yang membantunya beradaptasi. Ia juga mengingat peran para dosen sebagai bagian penting dari pengalaman selama menempuh pendidikan.

Selain mengikuti perkuliahan, Lusia pernah menjadi asisten laboratorium mikrobiologi. Ia juga bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa Surya Nada dan meraih juara pertama tingkat nasional dalam kategori paduan suara Mars Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Berbagai pengalaman tersebut memperluas ruang belajarnya, baik dalam bidang akademik maupun kegiatan kemahasiswaan. Ia tidak hanya memperoleh pengetahuan sesuai program studi, tetapi juga kesempatan mengembangkan kemampuan melalui organisasi dan aktivitas di luar kelas.

Bagi Lusia, pengalaman itu memperlihatkan bahwa perbedaan latar belakang tidak harus menjadi penghalang untuk membangun persahabatan dan bekerja bersama.

“Saya datang ke Umsida dengan membawa keyakinan saya sendiri, dan hari ini saya meninggalkan kampus ini dengan keyakinan yang sama, tetapi dengan pemahaman yang jauh lebih luas tentang arti menghargai perbedaan,” ungkapnya.

Beasiswa yang Menguatkan Harapan Keluarga

Di balik perjalanan Lusia, terdapat dukungan orang tua yang menjadi sumber kekuatannya. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang sayur di Labuan Bajo. Keputusan Lusia untuk melanjutkan pendidikan ke Jawa menjadi kebahagiaan sekaligus tantangan bagi keluarga, terutama karena ia harus menempuh perjalanan jauh dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantau.

Ibunya, Mariana Ale, mengaku sempat memikirkan biaya perjalanan dan kebutuhan putrinya ketika Lusia menyampaikan keinginan mengikuti seleksi kuliah di Umsida. Sebagai putri sulung, Lusia harus meninggalkan keluarga untuk menempuh pendidikan di luar daerah.

“Saya bilang, puji Tuhan. Tapi bagaimana perjalanan nanti? Ongkosnya bagaimana? Rumahnya jauh, saya hanya pedagang sayur di Labuan Bajo,” kenang Mariana.

Kabar bahwa Lusia diterima di Umsida melalui beasiswa penuh pun menjadi kebahagiaan bagi keluarga. Dukungan tersebut membuka kesempatan bagi Lusia untuk menempuh pendidikan tinggi sekaligus mengurangi beban biaya kuliah yang harus ditanggung orang tuanya.

Kini, kelulusan Lusia menjadi pencapaian yang membanggakan bagi keluarganya. Mariana berharap putrinya dapat memperoleh pekerjaan yang layak dan melanjutkan perjalanan hidup dengan baik.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Umsida karena telah memberikan kesempatan pendidikan kepada putrinya.

“Terima kasih Umsida karena telah menerima putri kami dengan beasiswa penuh, kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk bisa saling menghormati, saling mendukung, dan bersama-sama menebarkan kebaikan,” ujarnya.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply