Bambang Setiaji Ajak BEM PTMA Kawal Reformasi Ekonomi untuk Perluas Lapangan Kerja

Bambang Setiaji Ajak BEM PTMA Kawal Reformasi Ekonomi untuk Perluas Lapangan Kerja

WARTAPTM.ID, SURAKARTA – Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Bambang Setiaji, menegaskan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi generasi muda dan lulusan perguruan tinggi saat ini adalah terbatasnya ketersediaan lapangan kerja yang layak.

Hal tersebut disampaikannya dalam Pembukaan Silaturahmi Nasional (Silatnas) BEM Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, gerakan dan nalar kritis mahasiswa tidak hanya cukup diwujudkan melalui aksi turun ke jalan, melainkan harus didasari pada pemahaman mendasar terhadap akar masalah ekonomi nasional yang menjadi penyebab maraknya sektor informal dan pengangguran terdidik.

Bambang memaparkan bahwa Indonesia membutuhkan iklim usaha yang sehat untuk menjawab kebutuhan sekitar 160 juta lapangan kerja yang layak dan memberikan martabat bagi rakyat, khususnya bagi lulusan S1. Sayangnya, keterbatasan lapangan kerja di sektor formal membuat banyak sarjana terpaksa bertahan di sektor informal maupun menjadi pengemudi ojek online (ojol).

“Tantangan adik-adik yang sangat besar adalah kurangnya pekerjaan yang layak. Di negara kita, kalau pekerjaan sektor informal itu banyak, tetapi pekerjaan yang minimal lulusan S1 yang layak dan memberi martabat yang baik itu masih kurang,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia menilai Indonesia membutuhkan lahirnya setidaknya 16 juta pengusaha tangguh yang mampu membangun usaha berkualitas dan menyediakan lapangan kerja bermartabat bagi pemuda Indonesia.

Lebih lanjut, Bambang menyoroti masalah fundamental ekonomi nasional berupa konsentrasi aset yang sangat timpang. Mengutip data nasional, ia mengungkapkan bahwa 1 persen kelompok teratas menguasai hingga 60 persen aset ekonomi, sementara 40 persen kelompok terbawah hanya menguasai 1 persen aset.

Ia mengibaratkan ketimpangan struktur ekonomi ini seperti jalan raya utama yang tertutup sehingga rakyat terpaksa berdesak-desakan di gang-gang kecil.

“Gambarannya itu seperti jalan raya yang tertutup, sehingga orang masuk di jalan gang-gang berbondong-bondong di jalan tikus berdesak-desakan. Timbullah sektor informal yang kurang layak karena tidak ada laba yang memadai,” jelasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Bambang mengajak para aktivis BEM PTMA se-Indonesia yang hadir dalam Silatnas untuk mengawal dan mendorong terciptanya Reformasi Ekonomi Jilid Dua. Reformasi ini berfokus pada penataan kembali dan redistribusi konsentrasi aset ekonomi agar terjadi pemerataan kesempatan berusaha.

Ia mendorong mahasiswa untuk menyumbangkan pemikiran kritis serta mengawal kebijakan pembenahan aset ekonomi demi kemaslahatan rakyat luas.

“Problem utama kita ini bagaimana ada suatu reformasi jilid dua yang memperbaiki konsentrasi aset ekonomi tadi. Bantulah pemikiran-pemikiran untuk mereformasi aset-aset ekonomi yang terkonsentrasi itu supaya terjadi suatu pemerataan, sehingga lahir 16 juta perusahaan yang bagus yang memberi rakyat Indonesia tempat kerja yang bermartabat,” tegas Bambang.

Menutup sambutannya, Bambang berharap isu strategis mengenai penataan aset ekonomi dan ketersediaan lapangan kerja layak ini dapat menjadi salah satu pilar gagasan utama yang dikaji dan dirumuskan oleh seluruh pengurus BEM PTMA se-Indonesia selama agenda Silatnas berlangsung.

BSI Emas Capek Kerja

Be the first to comment

Leave a Reply