WARTAPTM.ID, JATINANGOR – Universitas Muhammadiyah (Unismuh Makassar) Makassar terlibat dalam kajian hilirisasi inovasi suplemen pakan ikan berbahan hasil samping industri kelapa yang dikembangkan Universitas Padjadjaran (Unpad). Melalui tim pakarnya, Unismuh menilai kesiapan teknologi dan kelayakan pengembangan produk agar hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan lebih luas oleh pembudidaya ikan.
Kajian dilakukan melalui diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion/FGD) dan kunjungan lapangan di Kampus Unpad, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada 29–30 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas dan Strategis–Dorongan Teknologi Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Tim pakar dari Lembaga Penelitian, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) Unismuh Makassar dipimpin Dr. Ir. Rahmi, SPi., MSi., IPU., dosen Program Studi Budidaya Perairan. Tim tersebut bertugas menyusun prastudi kelayakan produk Lemak-Mineral-Organik (LMO), suplemen pakan ikan hasil penelitian tim Unpad yang dipimpin Dr. Ir. Kiki Haetami, MP.
LMO dikembangkan dengan memanfaatkan hasil samping industri kelapa melalui proses fermentasi padat menggunakan kapang dan khamir. Pengembangan ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan sekaligus memberikan nilai tambah pada bahan yang sebelumnya menjadi produk sampingan industri.
Potensi LMO didukung hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Aquaculture International pada Mei 2026. Pengujian laboratorium selama 12 minggu pada ikan nila menunjukkan bahwa pemberian ekstrak LMO sebesar 2 persen dapat menurunkan rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR) dari 1,52 menjadi 1,33.
FCR menunjukkan perbandingan jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan pertambahan bobot ikan. Semakin rendah nilainya, semakin efisien penggunaan pakan. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar untuk mengkaji potensi LMO dalam mendukung efisiensi biaya produksi budidaya ikan.
Uji Kesiapan Teknologi Sebelum Hilirisasi
Ketua Tim Pakar Unismuh Makassar, Rahmi, mengatakan kajian ini diperlukan untuk memastikan kesiapan teknologi LMO sebelum dikembangkan menuju produksi dan pemanfaatan yang lebih luas. Penilaian dilakukan dengan memeriksa bukti penelitian sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperkuat.
“Kami datang untuk memastikan sejauh mana teknologi ini siap diproduksi dan dimanfaatkan pembudidaya, sekaligus memetakan apa yang masih perlu disiapkan. Penilaian kami berpijak pada bukti, agar rekomendasinya benar-benar membantu produk ini sampai ke tangan pengguna,” ujar Rahmi.
Selama dua hari, tim Unismuh berdiskusi dengan peneliti Unpad untuk memverifikasi sejumlah aspek pengembangan produk. Pembahasan meliputi ketersediaan bahan baku, proses fermentasi, mutu produk, hasil pengujian pada ikan, hingga status perlindungan kekayaan intelektual.
Tim juga meninjau fasilitas produksi di lingkungan Unpad guna melihat kesiapan teknologi dan kebutuhan pengembangan lebih lanjut. Hasil diskusi dan kunjungan tersebut akan menjadi bahan penyusunan rekomendasi dalam prastudi kelayakan hilirisasi LMO.
Rahmi menilai kajian berbasis bukti penting agar hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah. Melalui penilaian yang menyeluruh, inovasi diharapkan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan pembudidaya.
Penyusunan kajian ini melibatkan akademisi Unismuh Makassar dari sejumlah bidang keilmuan. Dr. Nur Insana Salam, SPi., MSi., menangani aspek nutrisi dan pakan, sedangkan Dr. Asriyanti Syarif, SP., MSi., mengkaji potensi pasar.
Aspek keuangan ditangani Dr. Khadijah Darwin, SE., MAk., Ak., sementara aspek hukum dan perlindungan kekayaan intelektual dikaji Dr. Auliah Andika Rukman, SH., MH. Diskusi juga melibatkan sejumlah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Dr. Hidayat Suryanto Suwoyo, Dr. Sri Rejeki Hesty Mulyaningrum, Dr. Khairun Nisaa, Dr. Amriana, dan Dr. Kamaruddin.
Keterlibatan pakar lintas disiplin tersebut mencerminkan bahwa hilirisasi riset membutuhkan lebih dari sekadar kesiapan teknologi. Kelayakan ekonomi, kebutuhan pasar, kapasitas produksi, serta kepastian hukum juga perlu diperhitungkan sebelum inovasi dikembangkan untuk pemanfaatan yang lebih luas.
Melalui keterlibatan ini, Unismuh Makassar mengambil bagian dalam menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Kolaborasi bersama Unpad dan peneliti BRIN diharapkan dapat memperkuat pengembangan inovasi pakan ikan yang efisien sekaligus mendorong pemanfaatan hasil samping industri kelapa.

Be the first to comment