Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Milad ke-45 Universitas Muhammadiyah (Unmuh) Jember pada Kamis (2/4/2026). Dalam pidatonya yang bertajuk “Meneguhkan Mutu Unggul, Mewujudkan Unmuh Jember Kampus Berdampak,” ia menekankan pentingnya kematangan institusi yang tidak hanya diukur secara kuantitatif, tetapi juga melalui kedalaman mutu dan luasnya dampak bagi masyarakat.
PTMA sebagai Kekuatan Sistemik Nasional
Mengawali orasinya, Ahmad Muttaqin memaparkan data terkini Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) per Maret 2026. Saat ini, persyarikaatan memiliki 163 PTMA yang terdiri dari 102 universitas, 30 sekolah tinggi, dan 26 institut. Secara agregat, PTMA menyumbang sekitar 4 persen dari total perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
PTMA juga mengelola 2.472 program studi (sekitar 9 persen secara nasional) dan mendidik kurang lebih 677.251 mahasiswa (sekitar 7 persen secara nasional). Prestasinya pun membanggakan, di mana sebanyak 21 PTMA telah berhasil meraih akreditasi Unggul.
“Data ini memberi pesan strategis bahwa PTMA adalah kekuatan sistemik, bukan lagi pelengkap, melainkan aktor utama pendidikan tinggi nasional,” tegas Muttaqin.
Namun, ia juga memberikan catatan kritis bahwa transformasi mutu secara sistemik masih menjadi tantangan, mengingat baru sekitar 13% atau 21 PTMA yang telah terakreditasi Unggul.
Ahmad Muttaqin mengajak seluruh sivitas akademika untuk melakukan pergeseran paradigma (shifting toward new paradigm) dalam memaknai mutu. Menurutnya, mutu unggul tidak boleh berhenti pada pemenuhan administratif akreditasi semata, tetapi harus diwujudkan menjadi keunggulan ekselensi (excellency) dan reputasi global.
Keunggulan yang diharapkan meliputi keunggulan akademik, riset, pengabdian masyarakat, serta keunggulan moral-spiritual melalui integrasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Mewujudkan Kampus Berdampak
Salah satu poin krusial dalam orasi tersebut adalah transformasi kampus dari citra “Menara Gading” menjadi “Menara Air”. Ahmad Muttaqin menjelaskan bahwa kampus tidak boleh hanya menjadi gedung tinggi yang megah namun sulit disentuh masyarakat. Sebaliknya, kampus harus menjadi sumber mata air yang mengalirkan manfaat dan memberi kehidupan bagi sekitarnya.
“Kampus berdampak adalah kampus yang tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi menyelesaikan masalah; tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi mengubah kehidupan,” ungkapnya.
Keberdampakan ini mencakup empat area utama, yaitu dampak sosial dalam pengentasan kemiskinan, dampak ekonomi melalui inkubator bisnis dan start-up, dampak kebijakan melalui riset publik, serta dampak peradaban dalam membentuk karakter manusia.
Strategi Transformasi Kampus Unggul dan Berdampak
Sebagai kampus yang telah terakreditasi Unggul, Unmuh Jember didorong untuk menjadi pusat rujukan regional, khususnya di kawasan Tapal Kuda. Ahmad Muttaqin menawarkan lima strategi kunci untuk Unmuh Jember dan PTMA lainnya:
- Deepening Quality: Fokus pada prodi unggulan dan internasionalisasi kurikulum.
- Research for Impact: Memastikan riset sampai ke tangan masyarakat, tidak hanya berhenti di jurnal.
- Digital Transformation: Mengadopsi AI dan big data dalam pembelajaran.
- Collaboration Ecosystem: Memperkuat jejaring dengan industri, pemerintah, dan mitra global.
- AIK sebagai Core Value: Mengintegrasikan ilmu, iman, dan amal sebagai pusat pencerahan.
Menutup orasi ilmiahnya, Ahmad Muttaqin memberikan pesan agar seluruh sivitas akademika Unmuh Jember tidak sekadar menjadi pelaku sejarah yang mengikuti arus, tetapi menjadi pembuat sejarah (history maker).
“Kita harus naik satu tingkat: menjadi pembuat sejarah atau history maker. History maker adalah mereka yang tidak menunggu perubahan, tetapi menciptakan perubahan,” pungkasnya.
Ia berharap di usia ke-45 ini, Unmuh Jember terus tumbuh menjadi cahaya bagi Indonesia dan dunia melalui komitmen terhadap mutu unggul dan keberdampakan yang nyata.
Be the first to comment