WARTAPTM.ID, JEMBER – Kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini dinilai bukan sekadar tantangan bagi pelaku usaha, tetapi juga peluang untuk bertransformasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Kepala Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Muhammadiyah Jember (Unmuh Jember), Latifa Mirzatika Al-Rosyid, melihat kondisi ini sebagai momentum penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik, khususnya di kalangan UMKM.
Menurutnya, penggunaan plastik yang masif selama ini telah memicu berbagai persoalan lingkungan serius. Sampah plastik yang sulit terurai dapat bertahan dalam jangka waktu sangat lama, mencemari ekosistem darat dan laut, hingga berpotensi masuk ke rantai makanan dalam bentuk mikroplastik.
Dampaknya tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga sektor ekonomi. Mulai dari banjir akibat saluran tersumbat, kerusakan ekosistem laut, hingga menurunnya hasil tangkapan nelayan.
“Ini saat yang tepat untuk mulai beralih. Kenaikan harga plastik bisa menjadi pemicu perubahan menuju praktik yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini tersedia berbagai alternatif kemasan yang lebih berkelanjutan. Kemasan berbahan kertas dan karton menjadi opsi yang paling mudah diakses dan relatif stabil dari sisi harga, terutama untuk produk makanan kering.
Selain itu, terdapat pula bioplastik berbasis bahan alami seperti singkong, jagung, dan sagu yang bersifat biodegradable. Meski demikian, penggunaan bioplastik masih menghadapi kendala dari sisi harga yang relatif lebih tinggi dibanding plastik konvensional.
Alternatif lain yang mulai berkembang adalah penggunaan kemasan guna ulang, seperti tas kain, wadah kaca, atau stainless steel, yang dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus memiliki nilai tambah bagi produk.
Namun, Latifa menekankan bahwa proses transisi tidak bisa dilakukan secara seragam. Setiap produk memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga pemilihan kemasan harus disesuaikan dengan kebutuhan.
“Kertas misalnya tidak tahan air atau minyak, sementara bahan tradisional seperti daun juga memiliki keterbatasan dalam skala produksi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menilai tantangan terbesar justru terletak pada aspek ekonomi dan perilaku konsumen. Harga kemasan ramah lingkungan yang bisa dua hingga tiga kali lebih mahal, serta kebiasaan masyarakat yang masih memilih plastik karena praktis, menjadi hambatan tersendiri bagi UMKM.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa perubahan tidak harus dilakukan secara drastis. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih efektif dalam jangka panjang.
Pelaku usaha, kata dia, dapat mulai mengurangi penggunaan plastik secara bertahap. Bahkan, penggunaan kemasan ramah lingkungan dapat menjadi nilai tambah yang meningkatkan citra produk di mata konsumen.
“Sekarang mulai banyak konsumen yang peduli lingkungan. Ini bisa menjadi peluang bagi UMKM untuk meningkatkan daya saing,” tambahnya.
Selain pelaku usaha, masyarakat juga didorong untuk ikut berkontribusi melalui kebiasaan sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan wadah pribadi saat membeli makanan, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Melalui momentum kenaikan harga plastik ini, perubahan menuju gaya hidup dan praktik usaha yang lebih berkelanjutan dinilai semakin relevan. Dengan dukungan kebijakan, kesiapan pelaku usaha, serta kesadaran konsumen, pengurangan plastik tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga peluang strategis bagi UMKM di masa depan.
Be the first to comment