Ketika AI Semakin Canggih, Perpustakaan Tetap Jadi Penjaga Akal Kritis Bangsa

Ketika AI Semakin Canggih, Perpustakaan Tetap Jadi Penjaga Akal Kritis Bangsa

WARTAPTM.ID, BANDUNG – Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin pesat kerap memunculkan anggapan bahwa perpustakaan akan kehilangan relevansinya. Namun pandangan tersebut dinilai tidak tepat. Justru di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan hadir sebagai fondasi literasi dan penjaga akal kritis masyarakat.

Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Bandung, Muhsin Jazuli, menegaskan bahwa perpustakaan tidak dapat diposisikan sekadar sebagai fasilitas pelengkap dalam ekosistem pendidikan, melainkan sebagai infrastruktur pengetahuan yang strategis.

“Saya memahami efisiensi anggaran merupakan kebutuhan negara. Namun, perpustakaan bukanlah beban, melainkan fondasi lahirnya masyarakat pembelajar, riset, dan inovasi,” ujarnya di Kampus Universitas Muhammadiyah Bandung, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Muhsin, perkembangan AI justru mempertegas pentingnya peran perpustakaan. Selama ini, AI dipandang mampu menggantikan fungsi perpustakaan karena dapat menyajikan informasi secara instan.

Padahal, AI bekerja dengan mengolah data dan pengetahuan yang telah tersedia. Sementara itu, perpustakaan berperan dalam menghimpun, mengkurasi, dan memverifikasi sumber pengetahuan tersebut.

“AI itu ibarat mesin, sedangkan perpustakaan menyediakan bahan bakarnya berupa buku, jurnal, dan data yang telah dikurasi. AI memberi jawaban cepat, tetapi perpustakaan mengajarkan kita bertanya dan berpikir kritis,” jelasnya.

Dalam konteks ini, perpustakaan tidak hanya menjadi ruang penyimpanan informasi, tetapi juga institusi akademik yang membentuk cara berpikir masyarakat dalam memilah informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Muhsin menilai bahwa tantangan utama di era AI bukan lagi sekadar akses informasi, melainkan kemampuan untuk memverifikasi dan memahami kebenaran informasi tersebut. Karena itu, penguatan literasi menjadi investasi strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan efisiensi anggaran, termasuk yang berdampak pada sektor perpustakaan, perlu dipertimbangkan secara komprehensif agar tidak mengganggu pembangunan ekosistem pengetahuan jangka panjang.

“Jika investasi pada perpustakaan dikurangi, maka lima hingga sepuluh tahun ke depan kita berisiko kekurangan bahan bakar pengetahuan. SDM kehilangan kompas literasi,” tegasnya.

Selain sebagai pusat literasi, perpustakaan juga memiliki peran penting dalam pemerataan akses pengetahuan. Di tengah kesenjangan akses teknologi, perpustakaan tetap menjadi ruang belajar yang terbuka bagi semua kalangan.

Hal ini menjadikan perpustakaan sebagai instrumen penting dalam menciptakan keadilan pendidikan dan memperluas kesempatan belajar sepanjang hayat. Muhsin mendorong agar perpustakaan, termasuk Perpustakaan Nasional, dikembangkan tidak hanya sebagai pengelola koleksi, tetapi juga sebagai pusat data, literasi digital, dan literasi AI.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa pembangunan peradaban tidak hanya bergantung pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada keberadaan ruang berpikir yang hidup dan berkelanjutan.

“Membangun gedung bisa selesai dalam beberapa tahun, tetapi membangun peradaban membutuhkan ruang berpikir yang terus hidup. Perpustakaan adalah investasi paling murah untuk melahirkan bangsa yang cerdas,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply