WARTAPTM.ID, SIDOARJO — Sebanyak 38 mahasiswa Program Bahasa Arab dan Studi Islam Ma’had Umar bin Al-Khattab Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dinyatakan lulus setelah menempuh pendidikan sekitar dua tahun. Kelulusan tersebut ditandai dengan Haflu Takharruj ke-38 Tahun Akademik 2025–2026 di Aula KH Mas Mansyur, Gedung GKB 2 Umsida, Kamis (8/10/2026).
Direktur Direktorat Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (Dismu) Umsida, Muadz, mengingatkan para lulusan agar memaknai syahadah atau ijazah sebagai pengakuan atas proses pendidikan yang telah ditempuh, baik secara formal maupun dari sisi keilmuan.
“Syahadah itu penting karena pengakuan itu tidak hanya kita katakan secara lisan. Jadi bukan hanya pengetahuannya yang disetarakan, tapi sudah ada bukti fisik,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kompetensi yang diperoleh selama belajar di Ma’had dapat menjadi bekal bagi lulusan untuk melanjutkan aktivitas, termasuk apabila memiliki rencana ke luar negeri.
Namun, Muadz menegaskan bahwa kelulusan tidak seharusnya menghentikan proses menuntut ilmu. Ia mengajak para lulusan untuk terus mengembangkan pengetahuan sekaligus menjalankan peran dalam dakwah Islam.
“Long life education. Jadi pendidikan seumur hidup, menjalankan kewajiban kita untuk dakwah Islam,” tuturnya.
Haflu Takharruj ke-38 tersebut turut dihadiri Rektor Umsida Dr. Hidayatulloh, M.Si., Ketua Ma’had Umar bin Al-Khattab Rizki Yatul Mahmudah, M.Pd., serta para wali lulusan.
Bagi salah satu lulusan, Abdul Kharis, proses belajar di Ma’had tidak hanya memberinya pengetahuan tentang tata bahasa Arab, seperti nahwu dan sharaf, serta tahfiz Al-Qur’an. Pembelajaran tersebut juga mengubah caranya memahami ayat-ayat Al-Qur’an, terutama ketika menjumpai kosakata yang belum dikenal.
Kharis mengungkapkan, sebelum belajar di Ma’had, ia belum terbiasa menelusuri makna kata secara mendalam ketika membaca Al-Qur’an. Setelah mempelajari bahasa Arab, ia mulai terdorong mencari kata dasar dan memahami maknanya.
“Sebelum menimba ilmu di sini, saat membaca Al-Qur’an mungkin terasa biasa saja dan tidak terpikirkan untuk belajar. Setelah melalui proses belajar di Ma’had ini, misalnya saat bertemu kata yang asing, pikiran kita refleks berpikir dan mencari tahu apa kata dasarnya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu perubahan yang ia rasakan setelah menjalani pendidikan selama kurang lebih dua tahun bersama para ustaz dan ustazah.
Kharis mengaku bersyukur dapat menyelesaikan pendidikan di Ma’had Umar bin Al-Khattab. Menurutnya, proses pembelajaran tidak selalu mudah karena para peserta berasal dari latar belakang usia dan kesibukan yang berbeda.
“Ada yang tua, ada yang muda. Dan kami punya kesibukan masing-masing. Rasa lelah dan jenuh terkadang muncul selama mengikuti pembelajaran,” ungkapnya.
Dukungan antarsantri menjadi salah satu hal yang membantu mereka bertahan hingga menyelesaikan pendidikan. Kharis menilai pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memberinya pelajaran tentang konsistensi dalam menuntut ilmu.
“Selama belajar di Ma’had, rasanya sungguh luar biasa, penuh rasa syukur bahwa ilmu yang kita dapatkan selama belajar di Ma’had ini benar-benar membawa manfaat yang begitu besar,” katanya.
Ia berharap bekal bahasa Arab yang diperoleh selama pendidikan dapat mempererat kedekatan para lulusan dengan Al-Qur’an. Karena itu, ia mengajak rekan-rekannya untuk terus belajar meskipun telah menyelesaikan pendidikan di Ma’had.
“Melalui proses belajar ini kita semakin sadar bahwa bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an. Dengan bekal ilmu bahasa Arab yang kita peroleh ini, semoga menjadikan kita semakin akrab dan semakin mencintai Al-Qur’an,” pungkasnya.
Bagi Kharis, penyelesaian pendidikan di Ma’had menjadi bekal untuk melanjutkan pembelajaran dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut sekaligus menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan antara penguasaan ilmu, pemahaman agama, dan pengabdian kepada masyarakat.

Be the first to comment