Muhammadiyah kembali menunjukkan komitmennya dalam misi kemanusiaan nasional. Melalui sinergi perguruan tinggi dan lembaga relawan, Muhammadiyah menambah dan menerjunkan tim medis ke kawasan terdampak banjir dan longsor di Aceh Tengah, khususnya wilayah terpencil Kecamatan Linge yang sulit dijangkau.
Pada Jumat (2/1), Ketua Poskorda Tanggap Bencana Muhammadiyah Aceh Tengah, Yan Budianto, menyampaikan bahwa rombongan terbaru terdiri dari 10 tenaga medis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Tim ini merupakan gelombang kedua setelah sebelumnya tenaga medis dari Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) bertugas di Desa Serule.
Nama-nama tenaga medis yang bertugas antara lain dr. Andika Ilham Rahmatullah, Sp.B; Muhammad Difa Nugraha, S.Ked; Ibrahim Hasan Ali, S.Ked; Muhammad Naufal Kharisma Putra, S.Ked; Maulana Faris Ikhzul Haq, S.Ked; Dega Satria Widyawibowo; dr. Iman Permana, Ph.D; Arif Wahyu Setyo Budi, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.MB; Titik Puspari, S.Kep., Ns.; serta Apt. Karinda Suryandaru, S.Farm., dari RS PKU Muhammadiyah Nanggulan.
Selain layanan medis, Muhammadiyah juga menyiapkan program pendampingan psikososial bagi penyintas, mengingat dampak bencana tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga mental masyarakat.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh, A. Malik Musa, secara resmi melepas keberangkatan tim medis tersebut. Total terdapat 11 personel yang terdiri dari sembilan relawan laki-laki dan dua perempuan. Mereka akan bertugas selama satu bulan penuh di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Tim tidak hanya membuka pos kesehatan terpadu, tetapi juga menjalankan layanan jemput bola dengan menyambangi rumah-rumah warga yang kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
“Ini adalah bagian dari komitmen Muhammadiyah untuk hadir di tengah masyarakat pada masa-masa sulit. Kami ingin memastikan setiap warga terdampak mendapatkan pelayanan dan pendampingan yang layak,” tegas Malik Musa.
Di saat bersamaan, Muhammadiyah juga terus menyalurkan bantuan logistik seperti sembako, makanan siap saji, serta kebutuhan pokok lainnya. Sinergi antara relawan medis, pemerintah daerah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci percepatan pemulihan pascabencana.
Dengan spirit kesiapsiagaan dan kepedulian sosial yang menjadi ciri gerakan Muhammadiyah, organisasi ini menegaskan komitmennya untuk terus membersamai masyarakat Aceh hingga kondisi kembali stabil dan kehidupan warga pulih secara menyeluruh.
Be the first to comment