Prof Budu: PTMA Harus Jadi Media Dakwah dan Pusat Kaderisasi Muhammadiyah

Prof Budu: PTMA Harus Jadi Media Dakwah dan Pusat Kaderisasi Muhammadiyah
PTMA Harus Jadi Media Dakwah dan Pusat Kaderisasi Muhammadiyah

Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah, Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.Med.Ed., menegaskan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai media dakwah sekaligus pusat kaderisasi ideologis bagi masa depan persyarikatan.

Hal tersebut disampaikan Budu dalam sesi penutup Pengajian Ramadan 1447 H PWM Sulsel yang dihadiri pimpinan perguruan tinggi serta Badan Pembina Harian PTMA, Sabtu (28/2/2026).

“Amal Usaha Muhammadiyah, khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah, harus menjadi media dakwah dan kaderisasi,” ujarnya.

Transformasi Amal Usaha Muhammadiyah

Dalam pemaparannya, Budu yang juga sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya Muhammadiyah, telah ditopang oleh kekuatan sosial para saudagar dermawan. Modal sosial tersebut kemudian berkembang menjadi amal usaha yang lebih terstruktur dan melembaga.

“Awalnya ditopang para saudagar yang berjiwa dermawan. Modal sosial itu kemudian bertransformasi menjadi amal usaha yang melembaga,” jelasnya.

Saat ini, PTMA telah berkembang pesat dengan ratusan perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah di antaranya bahkan telah meraih akreditasi unggul, termasuk Universitas Muhammadiyah Makassar.

Budu juga menyoroti perkembangan fakultas kedokteran di lingkungan PTMA yang terus bertambah serta pembukaan program pendidikan dokter spesialis di sejumlah kampus Muhammadiyah.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa PTMA memiliki potensi besar sebagai instrumen dakwah sekaligus motor transformasi sosial bagi masyarakat.

Tauhid sebagai Ruh

Dalam kesempatan tersebut, Budu menekankan pentingnya nilai tauhid sebagai fondasi dalam pengelolaan perguruan tinggi Muhammadiyah. Ia menilai tauhid tidak hanya dimaknai sebagai doktrin teologis, tetapi harus terwujud dalam praktik tata kelola yang jujur, amanah, dan akuntabel.

“Tauhid bukan hanya dibaca atau diucapkan, tetapi harus diaktualisasi dalam amal saleh, termasuk dalam pengelolaan perguruan tinggi,” katanya.

Menurutnya, lemahnya internalisasi nilai tauhid sering kali menjadi akar berbagai penyimpangan tata kelola lembaga. Oleh karena itu, PTMA perlu menjaga karakter sebagai kampus yang menjunjung tinggi integritas dan nilai moral.

Ia juga menambahkan bahwa internalisasi tauhid di lingkungan kampus dapat menjadi kekuatan moral untuk mencegah berbagai persoalan seperti kekerasan, amoralitas, maupun penyimpangan yang kerap terjadi di dunia pendidikan.

Budu menjelaskan bahwa PTMA memiliki perangkat dakwah yang lengkap, baik melalui dakwah bil lisan, bil qalam, maupun bil hal. Dakwah melalui perkuliahan, pengajian, dan diskusi ilmiah dapat memperkuat dakwah intelektual, sementara kegiatan pengabdian masyarakat dan pelayanan sosial menjadi bentuk dakwah nyata di tengah masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dalam kurikulum perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai ciri khas yang membedakan lulusan PTMA dengan lulusan perguruan tinggi lainnya.

“Alumni PTMA harus lahir sebagai insan berilmu dan berakhlak, insan kamil yang mampu mengintegrasikan sains dan dakwah,” ujarnya.

PTMA sebagai Pusat Kaderisasi

Selain menjadi media dakwah, Budu menegaskan bahwa PTMA juga memiliki peran strategis sebagai pusat kaderisasi ideologis dan kepemimpinan bagi persyarikatan.

“Kaderisasi adalah proses sistematis untuk menyiapkan generasi penerus yang kompeten, berkarakter, dan loyal terhadap nilai persyarikatan,” jelasnya.

Menurutnya, proses kaderisasi dapat diperkuat melalui berbagai instrumen seperti organisasi kemahasiswaan, asrama mahasiswa, pesantren mahasiswa, serta program pembinaan kepemimpinan di kampus. Dalam konteks ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) memiliki peran penting sebagai ujung tombak kaderisasi di lingkungan perguruan tinggi.

Menutup pemaparannya, Budu menegaskan bahwa masa depan persyarikatan sangat ditentukan oleh kekuatan PTMA sebagai media dakwah, pusat kaderisasi, sekaligus ruang integrasi antara sains dan nilai-nilai Islam.

“Perguruan Tinggi Muhammadiyah harus menjadi agen perubahan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mampu menjawab persoalan umat,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*