WARTAPTM.ID, SIDOARJO — Mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) memanen perdana melon hasil budidaya di lahan pertanian Umsida, Modong, Tulangan, Rabu (7/10/2026). Budidaya tersebut menjadi bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Manajemen Produksi Tanaman (MPT) bagi mahasiswa semester 3.
Budidaya dilakukan di lahan sekitar 2.500 meter persegi dengan lebih dari 2.500 benih. Mahasiswa menanam tiga varietas melon, yakni sweet net, amanda, dan lavender, sekaligus terlibat dalam pemantauan tanaman selama masa produksi.
Dosen Agroteknologi Umsida, Abror, menjelaskan budidaya tersebut berlangsung sekitar 60–65 hari. Sekitar enam mahasiswa secara rutin datang ke lahan untuk memantau pertumbuhan tanaman dan kondisi budidaya.
“Jadi secara akademik mereka belajar, lalu penerapannya di kebun ini sebagai luaran mata kuliah,” ujar Abror.
Menurutnya, keterlibatan langsung di lahan membuat mahasiswa tidak hanya mempelajari teori produksi tanaman, tetapi juga memahami kondisi iklim mikro dan makro serta persoalan yang muncul selama proses budidaya.
Dari tiga varietas yang ditanam, sweet net dan amanda menunjukkan tingkat kemanisan yang lebih tinggi dibandingkan lavender.
Abror mengatakan, tingkat kemanisan sweet net berada pada kisaran 14–18 Brix. Hasil pengukuran pada budidaya Umsida mencapai 14–16 Brix. Sementara itu, varietas amanda mencapai 14 Brix dan lavender sekitar 10 Brix.
“Kalau yang sweet net tingkat kemanisannya antara 14 sampai 18 Brix. Alhamdulillah di kita hasil panennya antara 14 sampai 16 Brix. Untuk yang amanda 14 Brix. Untuk yang lavender 10 Brix saja, tidak begitu manis,” jelasnya.
Hasil tersebut sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi mahasiswa untuk memahami karakter setiap varietas dan faktor yang memengaruhi hasil produksi.
Dalam proses budidaya, mahasiswa juga menghadapi tantangan perubahan kondisi cuaca. Perbedaan suhu antara pagi hingga siang yang panas dan malam hari yang lebih dingin turut memengaruhi pengelolaan tanaman, terutama berkaitan dengan hama dan penyakit.
“Kendalanya ketika suhu di pagi sampai siang itu panas. Kemudian nanti di malam hari dingin, itu jadi kendala di hama dan penyakit,” kata Abror.
Tidak seluruh hasil budidaya mencapai kondisi yang diharapkan. Namun, capaian tingkat kemanisan pada varietas sweet net menjadi salah satu hasil yang dinilai cukup baik dalam panen perdana tersebut.
Rektor Umsida, Hidayatulloh mengatakan, lahan pertanian kampus dapat menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk menguji berbagai jenis tanaman sekaligus mengembangkan pembelajaran berbasis praktik.
Menurutnya, pendidikan tinggi perlu menghubungkan pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di kelas dengan penerapan langsung di lapangan.
“Kita perlu mengajak mereka untuk menerapkan, dipraktekkan, dan hasil praktek tersebut memberikan kemanfaatan bagi masyarakat,” tutur Hidayatulloh.
Ia mendorong hasil uji coba yang menunjukkan potensi untuk terus dikembangkan melalui dukungan teknologi dan inovasi yang lebih mutakhir. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan upaya Umsida membangun perguruan tinggi yang unggul dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan nilai-nilai Islam.
Selain menjadi sarana pembelajaran, pengembangan komoditas pertanian juga dinilai memiliki peluang untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap produk pangan. Karena itu, perguruan tinggi dapat berperan dalam mengembangkan pengetahuan dan teknologi sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat.
“Di samping untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dikembangkan oleh dosen, kita juga berharap market pasarnya juga sangat memerlukan adanya produk-produk yang dihasilkan itu,” pungkasnya.

Be the first to comment