UMSIDA Capai Klaster Mandiri, Bersanding dengan UAD, UMS, UMM, dan UMY

UMSIDA Capai Klaster Mandiri, Bersanding dengan UAD, UMS, UMM, dan UMY
UMSIDA Capai Klaster Mandiri, Bersanding dengan UAD, UMS, UMM, dan UMY

Kabar membanggakan datang dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Lima kampus Muhammadiyah resmi menembus klaster “Mandiri” dalam hasil Klasterisasi Perguruan Tinggi Tahun 2026 yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendikti Saintek berdasarkan surat edaran nomor 1436/C3/AL.04/2025 tanggal 4 November 2025.

Kelima kampus tersebut yakni Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), serta Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) yang menjadi pendatang baru di klaster tertinggi tersebut.

Selain lima kampus di klaster Mandiri, terdapat 28 PTMA di klaster Utama, 27 di klaster Madya, dan 49 PTMA di klaster Pratama.

Klasterisasi Perguruan Tinggi Tahun 2026
Klasterisasi Perguruan Tinggi Tahun 2026 (Sumber: bima.kemdiktisaintek)

Secara nasional, sebanyak 56 Perguruan Tinggi (PT) akademik dan 5 PT vokasi masuk dalam klaster Mandiri, 222 PT akademik dan 37 PT vokasi dalam klaster Utama, 306 PT akademik dan 90 PT vokasi dalam klaster Mandiri, sebanyak 575 PT akademik dan 119 PT vokasi masuk dalam klaster Pratama.

Apa itu Klasterisasi Perguruan Tinggi?

Klasterisasi Perguruan Tinggi merupakan pengelompokkan perguruan tinggi yang dilakukan setiap tahun dan sesuai dengan kualifikasi kinerja perguruan tinggi sebagai dasar penyusunan peta jalan riset dan rencana strategis oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdikti Saintek).

Hasil klasterisasi bisa digunakan untuk landasan penentuan kewenangan pengelolaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di perguruan tinggi. Klasterisasi Perguruan Tinggi Tahun 2026 didasarkan pada kinerja riset dan pengabdian yang diukur secara objektif melalui data Science and Technology Index (SINTA) periode 2022–2024.

Komponen penilaian meliputi produktivitas penulis (author), afiliasi (affiliation), publikasi artikel (article), kegiatan penelitian (research), pengabdian kepada masyarakat (community service), kekayaan intelektual (intellectual property rights), serta penerbitan buku (book). Seluruh data diverifikasi oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) masing-masing perguruan tinggi.

Secara sederhana, klasterisasi dilakukan untuk bisa mengetahui perguruan tinggi mana saja yang kinerjanya sudah terbilang baik dan sebaliknya. Sehingga bisa dijadikan acuan untuk menentukan kebijakan berikutnya. 

Hasil dari Klasterisasi Perguruan Tinggi pun bisa dijadikan acuan bagi perguruan tinggi untuk melakukan langkah berikutnya dalam melaksanakan aktivitas tri dharma. Misalnya bisa menjalin penelitian kolaborasi dengan perguruan tinggi yang masuk klasterisasi Mandiri. 

Sehingga bisa paham bagaimana melaksanakan aktivitas tri dharma yang baik dan benar serta memaksimalkan hasilnya. Sehingga, portofolio di SINTA semakin baik dan berdampak pada kenaikan klasterisasi di tahun berikutnya.

UMSIDA Pendatang Baru di Klaster Mandiri

Capaian UMSIDA sebagai pendatang baru di klaster Mandiri menjadi sorotan tersendiri. Kampus yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur ini menembus klaster tertinggi berkat peningkatan signifikan dalam produktivitas penelitian dan pengabdian masyarakat.

Kehadiran UMSIDA di klaster yang sama dengan kampus Muhammadiyah unggul lainnya, seperti UAD, UMS, UMM, dan UMY menegaskan bahwa penguatan riset di lingkungan PTMA semakin merata. UMSIDA menjadi contoh bahwa dengan strategi penguatan kelembagaan dan kolaborasi riset yang berkelanjutan, perguruan tinggi dapat mencapai kemajuan yang signifikan.

Berdasarkan Keputusan Direktur DPPM Nomor 0968/C3/DT.05.00/2025, hasil klasterisasi digunakan untuk menyusun peta jalan riset dan rencana strategis nasional di bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Klasterisasi juga menjadi acuan pengembangan kebijakan tri dharma perguruan tinggi, termasuk kolaborasi lintas kampus. Perguruan tinggi di klaster bawah dapat menjalin kemitraan riset dengan kampus di klaster Mandiri untuk memperkuat kinerja dan memperluas dampak penelitian.

Dengan memahami posisi dalam klasterisasi, kampus dapat menyusun strategi peningkatan mutu secara lebih terarah. Baik dalam publikasi ilmiah, kekayaan intelektual, maupun inovasi berbasis masyarakat.

PTMA Mampu Bersaing Secara Nasional

Menanggapi capaian ini, Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mahfud Sholihin, menyampaikan apresiasi dan optimisme terhadap kemajuan PTMA di bidang riset dan pengabdian.

“Capaian lima PTM di klaster Mandiri menunjukkan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki kapasitas riset yang kuat dan diakui secara nasional. Ini bukan sekadar prestasi administratif, tetapi bukti bahwa semangat riset dan pengabdian di lingkungan PTMA tumbuh secara nyata dan berkelanjutan,” ujarnya, Kamis (13/11).

Mahfud menambahkan, capaian tersebut menjadi motivasi bagi PTMA lain untuk terus memperkuat kapasitas riset dan publikasi.

“Kami berharap semakin banyak PTMA yang naik kelas di tahun mendatang. Dengan kolaborasi, dukungan kelembagaan, dan komitmen pada mutu, kita bisa membangun ekosistem riset Muhammadiyah yang unggul dan berdaya saing global,” tambahnya.

“Capaian ini bukan akhir, melainkan bagian dari proses panjang menuju keunggulan riset dan pengabdian yang berorientasi pada kemaslahatan umat. Lima kampus di klaster Mandiri menjadi role model bagi PTMA lain untuk terus berinovasi dan bersinergi,” tutup Mahfud.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*