Perguruan Tinggi Muhammadiyah ’Aisyiyah (PTMA) menegaskan kesiapan untuk tampil sebagai pemain strategis dalam lanskap pendidikan tinggi ASEAN. Komitmen tersebut disampaikan oleh Bendahara Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Andy Dwi Bayu Bawono, dalam International Conference 2025 yang diselenggarakan Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Kangar Perlis, Malaysia Rabu (26/11).
Kegiatan bertajuk “Strengthening Transformative Leadership for Sustainable Muhammadiyah Higher Education” ini merupakan bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat kapasitas kepemimpinan dan jejaring PTMA di tingkat regional maupun global.
Dalam presentasi berjudul “Building Collaboration Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (PTMA) & ASEAN Universities”, Andy menegaskan bahwa PTMA kini berada pada momentum penting untuk bertransformasi dari jejaring nasional menuju ekosistem kolaborasi internasional.
Dalam pemaparannya, Andy menyebutkan sejumlah indikator yang menunjukkan kekuatan PTMA sebagai jaringan pendidikan tinggi besar di Indonesia. Saat ini PTMA terdiri atas 164 perguruan tinggi dari Aceh hingga Papua, dengan 675.000 mahasiswa aktif dan 2.382 program studi lintas bidang. Sebanyak 20 PTMA telah meraih akreditasi Unggul, serta memiliki lebih dari 745 mitra internasional di sekitar 45 negara, ditunjang oleh berbagai skema beasiswa bagi mahasiswa asing melalui pemerintah, Baznas, Lazismu, dan lembaga lainnya.
“Kekuatan ini adalah fondasi kita untuk memperluas kolaborasi, tidak hanya di ASEAN, tetapi juga ke seluruh dunia,” ujarnya.
Lima Pilar Kolaborasi Strategis PTMA–ASEAN
Andy menjelaskan bahwa Majelis Diktilitbang telah merumuskan lima fokus utama yang menjadi prioritas percepatan kolaborasi PTMA dengan perguruan tinggi di kawasan ASEAN.
Pilar pertama adalah penguatan program akademik bersama, mencakup pengembangan skema dual degree, mobilitas mahasiswa, dan berbagai inisiatif akademik kolaboratif. Upaya ini diharapkan memperluas ruang pertukaran keilmuan dan mendorong lahirnya talenta global dari lingkungan PTMA.
Pilar kedua adalah penelitian dan publikasi kolaboratif. Setiap kegiatan riset bersama harus menghasilkan aksi nyata dan bermuara pada publikasi bereputasi internasional sebagai kontribusi terhadap pengembangan pengetahuan di kawasan.
Selanjutnya, capacity building menjadi agenda strategis yang mencakup peningkatan kompetensi dosen, penguatan kepemimpinan perguruan tinggi, serta pembenahan manajemen institusi agar PTMA lebih adaptif menghadapi dinamika global.
Pilar keempat adalah pengabdian masyarakat regional, melalui program-program lintas batas yang sebelumnya telah dilaksanakan di Thailand Selatan dan Malaysia. Kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi PTMA terhadap pembangunan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Terakhir, Majelis menempatkan edukasi digital dan pertukaran teknologi sebagai prioritas untuk memastikan kesiapan PTMA menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Integrasi teknologi menjadi kunci agar PTMA mampu bergerak selaras dengan perkembangan pendidikan tinggi modern.
Mitigasi Tantangan Kolaborasi
Andy juga menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi demi keberlanjutan kerja sama internasional. Perbedaan regulasi antarnegara harus dijembatani melalui dialog dan penyelarasan kebijakan. Dari aspek pendanaan, diperlukan skema blended funding untuk memperluas peluang pembiayaan kolaboratif.
Kendala bahasa dan budaya antar-mitra juga perlu ditangani melalui pelatihan dan program imersi. Selain itu, kesiapan infrastruktur digital harus diperkuat melalui peningkatan kapasitas teknologi informasi yang dilakukan bersama perguruan tinggi mitra di ASEAN.
“Kita sudah berada di era digital. Platform daring harus menjadi alat utama untuk mengembangkan kolaborasi dan mengatasi jarak,” tegasnya.
Pada bagian penutup, Andy memaparkan empat target strategis yang ingin dicapai melalui perluasan kolaborasi internasional, yaitu Kehadiran PTMA yang lebih kuat dalam ekosistem pendidikan tinggi ASEAN; Peningkatan dampak riset dan kualitas publikasi ilmiah melalui kolaborasi global; Mobilitas mahasiswa dan tenaga pendidik yang lebih masif di seluruh jaringan mitra; Penguatan kapasitas institusional menuju daya saing global.
“Dengan fondasi ideologis yang kuat dan jaringan akademik yang luas, PTMA berkomitmen untuk menjadi kekuatan transformatif dalam membentuk masa depan pendidikan tinggi di Asia Tenggara maupun global,” jelas Andy.
Be the first to comment