Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar baru saja menyelenggarakan Darul Arqam Gelombang II yang telah berjalan selama empat hari tiga malam dan resmi ditutup pada Selasa (6/1/2026).
Master of Training Darul Arqam, Muhammad Irfan Islami, menegaskan bahwa proses perkaderan tidak berhenti pada seremoni penerimaan syahadah, akan tetapi terus berlanjut pada Rencana Tindak Lanjut (RTL). Di hadapan pimpinan universitas, Irfan menyerahkan dokumen RTL peserta kepada Rektor Unismuh Makassar.
“Kami menyerahkan daftar nama beserta dokumen RTL yang disusun peserta. Inilah bentuk komitmen berkelanjutan dari proses kaderisasi,” ujarnya.
Bagi Unismuh Makassar, penguatan kader tidak berhenti pada pengayaan wawasan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), tetapi diarahkan pada pembentukan watak institusi—mulai dari disiplin ibadah, etos kerja, hingga loyalitas terhadap misi Persyarikatan.
“Detoks” dari Rutinitas Akademik
Salah satu peserta, Hadisaputra, Kepala Subdirektorat Humas Unismuh Makassar, menggambarkan Darul Arqam sebagai ruang “detoks” bagi aktivisme kampus. Bukan hanya melepaskan diri dari rutinitas kerja, tetapi juga dari kenyamanan yang kerap membius kepekaan kader.
Menurutnya, hasil terpenting dari empat hari pembinaan bukanlah sertifikat, melainkan energi baru untuk menata ulang orientasi hidup sebagai civitas akademika Muhammadiyah.
“Kami mendapatkan spirit baru untuk menjalani kehidupan profesional sebagai bagian dari Universitas Muhammadiyah Makassar,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa kaderisasi adalah “mesin” yang menjaga Muhammadiyah tetap hidup. Individu hebat boleh datang dan pergi, tetapi proses perkaderan tidak boleh berhenti. Bahkan, alumni Darul Arqam memikul tanggung jawab moral untuk melahirkan kader-kader baru.
Kesan serupa disampaikan Amirah Mawardi, Dekan Fakultas Agama Islam Unismuh Makassar, yang mewakili peserta perempuan. Ia menyoroti suasana Darul Arqam sebagai ruang perjumpaan lintas latar dan peran—sesuatu yang jarang ditemui dalam rutinitas kampus yang sering terkotak oleh jabatan dan unit kerja.
Meski berlangsung hanya empat hari, Amirah menilai forum ini cukup efektif “memaksa” peserta keluar dari pola lama: dari ruang kerja yang rapi menuju ruang pembinaan yang menuntut kedisiplinan, keseragaman jadwal, dan kesediaan untuk belajar ulang.
Evaluasi Akademik: Ada Kenaikan Signifikan
Secara evaluatif, laporan penyelenggaraan menunjukkan peningkatan hasil belajar peserta, terutama di kelas B. Nilai rata-rata kognitif naik dari 67 pada pre-test menjadi 80 pada post-test, dengan nilai tertinggi mencapai 100.
Pada aspek psikomotorik, nilai tertinggi tercatat 93 dengan rata-rata 85, sementara aspek afektif mencapai nilai tertinggi 97 dengan rata-rata 82. Data ini menunjukkan bahwa Darul Arqam tidak hanya menyentuh aspek pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan kader.
Bagian yang paling ditekankan dalam laporan Master of Training adalah Rencana Tindak Lanjut (RTL). RTL diposisikan sebagai tugas melekat peserta, baik yang dirancang secara personal maupun disusun panitia dan instruktur.
RTL pribadi mencakup peningkatan kualitas keislaman, profesionalisme kerja, serta partisipasi aktif dalam Muhammadiyah di level cabang dan ranting. Setiap peserta diwajibkan menuliskan rencana kegiatannya dan mendokumentasikan pelaksanaan sebagai bukti nyata.
Dengan skema ini, Darul Arqam tidak berhenti sebagai pelatihan in-class, tetapi diproyeksikan sebagai mekanisme perubahan perilaku—menghadirkan nilai AIK dalam kerja sehari-hari, tata kelola unit kerja, hingga tradisi akademik kampus.
Be the first to comment