Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menjadi tuan rumah pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Forum nasional ini menegaskan bahwa dakwah tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas keagamaan, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang berkontribusi langsung terhadap pembangunan masyarakat.
Rakornas II LDK PP Muhammadiyah mempertemukan unsur persyarikatan, akademisi, dan pemangku kebijakan dalam merumuskan arah dakwah komunitas yang adaptif terhadap dinamika sosial. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir yang hadir dalam pembukaan, menegaskan bahwa Muhammadiyah sejak awal dirancang sebagai gerakan Islam yang menyatu dengan kehidupan masyarakat dan bangsa.
Menurut Haedar, dinamika internal organisasi, termasuk kompetisi kader, perlu dipahami sebagai energi pembaruan. Ia menekankan bahwa Muhammadiyah tumbuh melalui sistem kolektif-kolegial yang memberi ruang partisipasi kader secara luas tanpa dominasi personal. Dalam konteks tersebut, Rakornas LDK tidak hanya menjadi agenda konsolidasi organisasi, tetapi juga ruang refleksi atas tantangan sosial yang semakin kompleks.

Fragmentasi masyarakat, perubahan pola relasi sosial, hingga lahirnya komunitas-komunitas baru menuntut pendekatan dakwah yang lebih kontekstual dan berbasis kebutuhan nyata. Haedar kembali menegaskan pentingnya spirit Al-Ma’un sebagai fondasi dakwah Muhammadiyah. Teologi Al-Ma’un, warisan KH Ahmad Dahlan, dipandang sebagai basis etis yang menumbuhkan keberpihakan pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Ia menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat kelas sosial. Kelompok marginal membutuhkan pendampingan berkelanjutan, sementara kelompok menengah dan atas juga memerlukan bimbingan spiritual agar kesadaran sosial tumbuh secara seimbang.
Komitmen dakwah yang membumi tersebut tercermin dalam kerja-kerja LDK Muhammadiyah. Ketua LDK PP Muhammadiyah, Muhammad Arifin, menyampaikan bahwa hingga periode 2024–2025, LDK telah menjangkau 26 segmen dakwah komunitas di berbagai wilayah Indonesia. Para dai LDK tercatat hadir di sekitar 180 titik dakwah, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), mulai dari Aceh hingga Papua.
“Kehadiran dai-dai LDK diharapkan mampu menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan menggembirakan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dalam rangkaian Rakornas II, LDK PP Muhammadiyah juga meluncurkan Sistem Informasi Dakwah Muhammadiyah (SIDAKMU) sebagai platform pemetaan dai Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Selain itu, digelar pula penganugerahan Insan Dakwah untuk Negeri sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdian para dai.
Sementara itu, Rektor Unimus, Masrukhi, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Unimus sebagai tuan rumah pembukaan Rakornas. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi pengakuan atas peran Unimus sebagai bagian dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang terus berkembang.

Masrukhi memaparkan sejumlah capaian Unimus, baik di bidang akademik maupun penguatan fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan. Di antaranya keberadaan rumah sakit pendidikan dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM), serta kerja sama internasional dengan Royal Hospital Guangdong, Tiongkok, dalam pengembangan layanan pengobatan kanker tanpa kemoterapi melalui pendekatan bedah holistik.
Dukungan terhadap dakwah berbasis komunitas juga disampaikan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, M. Tafsir, yang menekankan bahwa dakwah Muhammadiyah harus menyapa seluruh lapisan masyarakat dengan latar belakang yang beragam.
Dari unsur pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menegaskan pentingnya pendekatan kultural dan struktural dalam dakwah. Ia menilai nilai-nilai dakwah Muhammadiyah memiliki kontribusi historis dalam perjuangan bangsa serta relevan dalam mendukung agenda ketahanan pangan nasional.
Hal senada disampaikan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam pembangunan daerah. Menurutnya, Muhammadiyah merupakan mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, termasuk dalam agenda swasembada pangan di Jawa Tengah.
Melalui Rakornas II ini, LDK PP Muhammadiyah diharapkan mampu merumuskan strategi dakwah komunitas yang semakin adaptif dan berdampak nyata. Dengan mengintegrasikan nilai dakwah, pemberdayaan sosial, dan kolaborasi lintas sektor, Muhammadiyah diyakini terus berperan sebagai kekuatan moral dan sosial dalam pembangunan umat dan bangsa.
Be the first to comment