Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dipercaya menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pengelolaan Asrama (Aslama) Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) yang digelar pada Kamis–Sabtu, 29–31 Januari 2026.
Munas Aslama merupakan forum nasional yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan ini bertujuan memperkuat tata kelola asrama atau pesantren mahasiswa sekaligus menegaskan peran strategisnya dalam proses pembinaan dan kaderisasi Muhammadiyah di lingkungan PTMA.
Ketua Panitia Munas Aslama yang juga Kepala Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS, Muamaroh, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan kepada UMS sebagai tuan rumah. Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi momentum pembelajaran dan penguatan kapasitas kelembagaan.
“Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami sebagai tuan rumah. Bagi UMS, ini menjadi kesempatan berharga untuk terus belajar dan berbenah dalam pengelolaan pesantren mahasiswa,” ujarnya saat pembukaan Munas, Kamis (29/1).
Muamaroh juga menjelaskan bahwa Pesma merupakan nomenklatur baru yang sebelumnya dikenal sebagai Asrama Mahasiswa (Aslama). Perubahan nomenklatur tersebut, kata dia, berawal dari inisiatif UMS sejak pendirian Pesma pada 2008, yang kemudian menginspirasi sejumlah PTMA lain untuk melakukan inovasi serupa.
Sementara itu, Ketua Aslama PTMA, Wawan Kusnawan, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 56 PTMA di seluruh Indonesia yang memiliki asrama atau pesantren mahasiswa. Pada Munas kali ini, sebanyak 47 PTMA hadir dan berpartisipasi aktif.
“Pada kesempatan ini, Aslama PTMA juga akan meluncurkan buku panduan pengelolaan asrama sebagai rujukan bersama dalam meningkatkan kualitas pengelolaan dan pembinaan mahasiswa,” jelasnya.
Wawan menekankan bahwa asrama atau pesantren mahasiswa memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter dan ideologi kader Muhammadiyah. Ia menyebut asrama sebagai ruang pembinaan intensif atau kawah candradimuka bagi calon pemimpin persyarikatan.
“Ilmu tidak berhenti pada pengetahuan semata, tetapi harus bermuara pada ibadah dan pengabdian sosial. Mahasantri di asrama inilah yang kelak menjadi aktor utama dalam mewujudkan cita-cita Muhammadiyah,” tegasnya.
Wakil Rektor III UMS, Mutohharun Jinan, dalam sambutannya menyoroti fenomena menurunnya minat mahasiswa untuk tinggal di asrama atau pesantren mahasiswa. Menurutnya, kecenderungan generasi Z yang lebih memilih hidup mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi PTMA.
“Melalui Munas Aslama ini, diharapkan lahir gagasan dan terobosan baru agar asrama dan pesantren mahasiswa kembali diminati sebagai ruang pembinaan ideologis,” ujarnya.
Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah, Bambang Setiaji, turut menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai salah satu tantangan perguruan tinggi saat ini adalah penguatan kompetensi teknologi, khususnya dalam menjawab kebutuhan sektor industri.
Dalam konteks pengelolaan asrama dan pesantren mahasiswa, Bambang menekankan pentingnya penguatan kurikulum kemandirian dan integrasi keilmuan. Mahasiswa, menurutnya, perlu dibekali kompetensi lintas bidang agar tidak bergantung secara berlebihan dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Mahasiswa perlu dibentuk menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter, dan memiliki kompetensi teknologi. Di sinilah peran strategis asrama dan pesantren mahasiswa dalam mengintegrasikan nilai keislaman, keilmuan, dan keterampilan,” paparnya.
Rangkaian pembukaan Munas Aslama ditutup dengan peluncuran buku Panduan Pengelolaan Asrama Mahasiswa Berbasis Pendidikan Karakter Berkemajuan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah. Peluncuran dilakukan secara simbolis melalui penandatanganan oleh Ketua Diktilitbang PP Muhammadiyah, Wakil Rektor III UMS, dan Ketua Aslama PTMA.
Be the first to comment