Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah dinilai tidak semata-mata berkaitan dengan isu keamanan dan ancaman nuklir. Di balik narasi resmi tersebut, terdapat kepentingan strategis yang lebih luas, terutama terkait perebutan akses energi global.
Pakar ekonomi politik internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Faris Al-Fadhat, menegaskan bahwa konflik ini perlu dibaca dalam perspektif ekonomi politik global.
“Kita harus melihat dari sudut pandang yang lebih luas bahwa ada perebutan sumber-sumber ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar menyerang Iran karena dianggap sebagai ancaman politik,” ujar Faris dalam keterangannya, Selasa (3/3).
Menurutnya, isu bahaya nuklir kerap menjadi pintu masuk legitimasi politik, tetapi kepentingan ekonomi—khususnya penguasaan sumber daya energi—tidak bisa diabaikan dalam membaca dinamika konflik tersebut.
Iran diketahui memiliki cadangan minyak mentah yang sangat besar dan menempati posisi strategis dalam peta energi dunia. Setiap gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak Iran berpotensi memengaruhi stabilitas pasar energi internasional, terutama jika konflik berdampak pada jalur transit utama seperti Selat Hormuz.
Dampak konflik pun dapat dirasakan oleh perekonomian negara lain. Sebagian besar ekspor minyak Iran selama ini menuju China, yang merupakan salah satu konsumen energi terbesar dunia. Gangguan suplai dapat memicu lonjakan harga minyak serta gejolak di pasar energi internasional.
Faris menilai bahwa dalam sejarah kebijakan luar negeri AS, akses terhadap energi sering menjadi faktor penting dalam menentukan arah intervensi maupun strategi geopolitik.
“Dalam konteks kebijakan luar negeri AS, penguasaan akses energi menjadi instrumen penting untuk mempertahankan dominasi ekonomi dan politik global,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia serta gejolak ekonomi di berbagai kawasan, termasuk negara-negara berkembang yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi.
“Jika ketegangan terus meningkat dan jalur distribusi energi terganggu, dampaknya bisa meluas ke pasar global dan memperlemah stabilitas ekonomi banyak negara,” tambahnya.
Faris menekankan pentingnya membaca konflik secara komprehensif, tidak hanya dari sudut keamanan regional, tetapi juga dari perspektif struktur ekonomi global yang saling terhubung.
Be the first to comment