Dokter Mata Indonesia Prof Budu Terima Penghargaan Internasional di Forum Oftalmologi Dunia di India

Dokter Mata Indonesia Prof Budu Terima Penghargaan Internasional di Forum Oftalmologi Dunia di India
Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.Med.Ed. saat menerima penghargaan Internasional di Forum Oftalmologi Dunia di India.

Budu menerima penghargaan internasional dalam Annual Meeting All India Ophthalmological Society (AIOS) 2026 yang digelar di Jaipur, India. Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam mendorong upaya pemberantasan kebutaan, khususnya melalui perannya sebagai Ketua Umum Persatuan Dokter Mata Indonesia (PP PERDAMI).

Selain aktif di bidang kesehatan, Prof. dr. Budu, Ph.D., Sp.M(K)., M.Med.Ed. atau yang kerap disapa Prof. Budu ini merupakan salah satu pimpinan di Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Penghargaan yang diterima dalam forum ilmiah internasional tersebut menjadi pengakuan atas kiprah dokter mata dari Indonesia dalam agenda kesehatan global. Pertemuan tahunan AIOS sendiri mempertemukan para ahli, klinisi, peneliti, dan pimpinan organisasi profesi dari berbagai negara untuk membahas perkembangan ilmu oftalmologi dan upaya penanganan gangguan penglihatan.

Budu hadir dalam forum tersebut setelah menerima undangan resmi sebagai guest faculty dari Ketua Komite Ilmiah AIOS, Namrata Sharma. Konferensi tahunan ke-84 AIOS berlangsung pada 12–15 Maret 2026 di Jaipur Exhibition and Convention Centre, Rajasthan, India.

erima Penghargaan Internasional di Forum Oftalmologi Dunia di India

Dalam kegiatan tersebut, Budu turut didampingi sejumlah dokter mata Indonesia, di antaranya Yunia Irawati, Yeni Dwi Lestari, dan Astrianda Nadya Suryono yang juga berpartisipasi sebagai pemateri dalam forum ilmiah tersebut.

Bagi Budu, penghargaan tersebut bukan semata pengakuan pribadi, melainkan bentuk apresiasi terhadap kerja kolektif komunitas dokter mata Indonesia dalam memperluas layanan kesehatan mata, edukasi masyarakat, serta advokasi kebijakan di bidang kesehatan.

“Upaya pemberantasan kebutaan tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi antarnegara, organisasi profesi, serta jejaring internasional agar target Sight 2030 dapat tercapai,” ujarnya saat dikonfirmasi (13/3).

Selain menerima penghargaan, Budu juga mengikuti agenda penting lainnya, yakni penandatanganan deklarasi kerja sama antara India, Indonesia, Nepal, dan Sri Lanka dalam gerakan global pemberantasan kebutaan Sight 2030. Dalam momentum tersebut ia didampingi oleh Yeni Dwi Lestari yang juga menjadi perwakilan Indonesia di International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB).

Deklarasi tersebut menegaskan komitmen bersama antarnegara untuk menekan angka kebutaan yang sebenarnya dapat dicegah. Kerja sama tersebut mencakup penguatan layanan kesehatan mata, upaya pencegahan, edukasi masyarakat, hingga dukungan kelembagaan.

Menurut Budu, keterlibatan Indonesia dalam deklarasi tersebut menunjukkan peran aktif Indonesia dalam agenda kesehatan mata internasional. Indonesia kini juga menjadi bagian dari jaringan global IAPB yang berfokus pada pencegahan kebutaan dan gangguan penglihatan.

Annual Meeting AIOS merupakan salah satu forum ilmiah oftalmologi terbesar di kawasan Asia. Kehadiran dan penghargaan yang diterima Budu dalam forum tersebut menjadi simbol semakin luasnya pengakuan terhadap kontribusi dokter mata Indonesia di tingkat internasional.

Momentum ini diharapkan dapat memperkuat jejaring kolaborasi global sekaligus mendorong penguatan upaya pencegahan kebutaan di Indonesia agar lebih terarah dan berdampak bagi masyarakat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*