Spirit Ta’awun: Kunci Mengelola PTMA yang Berdampak Sosial

Spirit Ta’awun: Kunci Mengelola PTMA yang Berdampak Sosial
Bachtiar Dwi Kurniawan - Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah.

Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menggelar agenda buka puasa bersama pada Jumat (13/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Bachtiar Dwi Kurniawan selaku Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani PP Muhammadiyah menyampaikan tausiyah yang menyoroti pentingnya integrasi antara ibadah, kepedulian sosial, dan tanggung jawab kelembagaan dalam mengelola Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA).

Dalam pesannya, Bachtiar menegaskan bahwa praktik keberagamaan warga Muhammadiyah tidak cukup berhenti pada pelaksanaan ibadah ritual. Ibadah, menurutnya, harus melahirkan dampak nyata dalam kehidupan sosial maupun dalam pengelolaan amal usaha Muhammadiyah.

Ibadah Mahdhah sebagai Fondasi Keislaman

Bachtiar menjelaskan bahwa tahapan awal berislam dimulai dari keyakinan dalam hati, pengakuan melalui lisan, serta pembuktian melalui tindakan nyata. Pelaksanaan rukun Islam seperti salat dan puasa menjadi fondasi dasar dalam menjalankan ajaran Islam.

Ia mengibaratkan ibadah mahdhah sebagai bentuk pemenuhan kewajiban dasar seorang Muslim. Namun, ia mengingatkan bahwa kualitas keberagamaan tidak boleh berhenti pada pemenuhan kewajiban tersebut semata.

“Ibadah yang kita jalankan harus menjadi dasar untuk melangkah ke tahap berikutnya, yaitu menghadirkan manfaat bagi lingkungan sosial,” ungkapnya.

Mendorong Keislaman yang Berdampak

Lebih lanjut, Bachtiar menekankan pentingnya meningkatkan kualitas keberagamaan menuju tahap yang lebih substansial. Menurutnya, ibadah yang dijalankan seharusnya mendorong lahirnya kepedulian terhadap sesama.

Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an memberikan peringatan keras kepada orang yang rajin beribadah tetapi mengabaikan kepedulian sosial. Oleh karena itu, keberagamaan yang ideal adalah yang mampu memadukan kesalehan personal dengan kesalehan sosial.

Dalam konteks persyarikatan, nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam pengelolaan amal usaha Muhammadiyah, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.

Mengelola Persyarikatan dengan Kesabaran

Bachtiar juga menyinggung dinamika dalam mengelola organisasi besar seperti Muhammadiyah. Menurutnya, keberagaman latar belakang, pandangan, dan kepentingan di dalam persyarikatan membutuhkan kesabaran serta kedewasaan dalam bersikap.

Ia mengingatkan bahwa capaian kelembagaan, seperti reputasi kampus atau penguatan institusi, perlu disertai dengan komitmen moral dan nilai ketakwaan. Dengan demikian, keberhasilan institusi tidak hanya diukur dari capaian duniawi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kemaslahatan umat.

Pentingnya Sinergi dan Ta’awun Antar Amal Usaha

Dalam tausiyahnya, Bachtiar juga menekankan pentingnya semangat ta’awun atau saling menolong di antara amal usaha Muhammadiyah. Ia menggambarkan kondisi amal usaha dengan metafora yang beragam—ada yang sudah berkembang kuat, ada pula yang masih membutuhkan dukungan.

Menurutnya, amal usaha yang telah maju perlu memberikan dukungan bagi yang masih berkembang. Semangat ini mencerminkan nilai kebersamaan dalam membangun persyarikatan.

Muhammadiyah, lanjutnya, tidak dibangun dengan semangat kompetisi internal, melainkan dengan prinsip kebersamaan dan saling menguatkan.

“Kita ingin maju bersama, kuat bersama, dan memberi manfaat bersama,” ujarnya.

Ketakwaan sebagai Fondasi Penguatan Institusi

Pada akhirnya, Bachtiar menegaskan bahwa seluruh proses keberagamaan bermuara pada ketakwaan. Nilai ini menjadi fondasi utama dalam membangun institusi yang kuat sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, kepemimpinan yang dilandasi ketakwaan akan menghadirkan berbagai kebaikan, termasuk kemampuan menemukan jalan keluar dari berbagai tantangan yang dihadapi institusi.

Melalui integrasi antara ibadah yang kuat, kepedulian sosial, serta sinergi antar amal usaha, Bachtiar berharap PTMA dapat terus berkembang sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat luas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*