WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menambah jajaran guru besar melalui pengukuhan Ridho Al Hamdi sebagai profesor di bidang partai politik, Kamis (16/4/2026). Pengukuhan ini berlangsung dalam Rapat Senat Terbuka yang dirangkaikan dengan orasi ilmiah.
Momentum akademik tersebut turut dihadiri Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, bersama sejumlah pimpinan Muhammadiyah, tokoh nasional, serta perwakilan majelis, lembaga, dan organisasi otonom.
Dalam sambutannya, Haedar Nashir menyampaikan apresiasi atas capaian Ridho yang berhasil meraih jabatan guru besar di usia relatif muda. Ia menilai pencapaian tersebut mencerminkan konsistensi dan dedikasi dalam dunia akademik sejak masa awal berkiprah di Muhammadiyah.
Haedar juga mendorong kader-kader Muhammadiyah lainnya yang telah memenuhi kualifikasi untuk segera meraih gelar profesor. Menurutnya, peningkatan jumlah guru besar menjadi salah satu indikator penting dalam memperkuat kualitas Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) sebagai institusi unggul.
“Penambahan guru besar harus terus didorong sebagai bagian dari penguatan marwah akademik PTMA,” ujarnya.
Sementara itu, dalam orasi ilmiahnya, Ridho Al Hamdi mengangkat tema Dis(mal)Fungsi Partai Politik: Tren Selatan Global dan Model Pelembagaan Sistem Kepartaian.
Ia menjelaskan bahwa istilah “dis(mal)fungsi” merujuk pada dua kondisi, yakni disfungsi dan malfungsi partai politik, yang dapat terjadi secara terpisah maupun bersamaan dalam sistem demokrasi.
Menurutnya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi kecenderungan di berbagai negara yang tergolong dalam kawasan Global South atau Selatan Global.
Ridho memilih menggunakan istilah Global South sebagai pendekatan konseptual yang lebih merepresentasikan solidaritas dan pengalaman bersama negara-negara berkembang dalam menghadapi tantangan demokrasi, dibandingkan istilah “Gelombang Ketiga” yang dipopulerkan oleh Samuel P. Huntington.
Ia menegaskan bahwa dis(mal)fungsi partai politik telah menjadi tren global, terutama di negara-negara demokrasi berkembang. Kondisi ini ditandai dengan melemahnya fungsi representasi, kaderisasi, hingga penyaluran aspirasi publik.
Melalui orasi tersebut, Ridho berupaya menawarkan kerangka analisis sekaligus model pelembagaan sistem kepartaian yang lebih adaptif dan responsif terhadap dinamika masyarakat kontemporer.
Pengukuhan ini sekaligus menegaskan kontribusi akademisi PTMA dalam memperkaya wacana keilmuan, khususnya di bidang politik, serta menghadirkan perspektif kritis terhadap dinamika demokrasi global.
Be the first to comment