Dampak Pelecehan Seksual: Tidak Hanya Psikis, Tapi Juga Fisik dan Sosial

Dampak Pelecehan Seksual: Tidak Hanya Psikis, Tapi Juga Fisik dan Sosial
Dampak Pelecehan Seksual: Tidak Hanya Psikis, Tapi Juga Fisik dan Sosial.

WARTAPTM.ID, SIDOARJO – Kasus pelecehan seksual tidak berhenti pada peristiwa yang dialami korban, tetapi sering meninggalkan dampak berkepanjangan yang memengaruhi kondisi psikologis, fisik, hingga kehidupan sosial.

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Nurfi Laili, menjelaskan bahwa tekanan psikologis menjadi dampak utama yang dirasakan korban, terutama ketika mereka menjadi objek pembicaraan yang bersifat seksual.

“Dampak paling besar memang ada di area psikologis. Ketika seseorang tahu dirinya menjadi objek pembicaraan yang bersifat porno atau seksual, itu bisa menghancurkan harga dirinya,” ujarnya, Jumat (8/5).

Menurutnya, kondisi tersebut kerap memunculkan perasaan malu, tidak aman, bahkan meragukan diri sendiri. Reaksi seperti gemetar, pingsan, hingga freeze menjadi bentuk respons alami tubuh terhadap tekanan yang berat.

“Korban kerap merasa, ‘sejijik itu kah diri kita?’,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa gangguan psikologis yang tidak tertangani dapat berdampak pada kesehatan fisik. Hal ini terjadi karena keterkaitan erat antara kesehatan mental dan kondisi tubuh.

“Kalau psikologisnya terganggu, itu akan berdampak juga pada area fisik karena kesehatan mental sangat berhubungan dengan kesehatan fisik,” jelasnya.

Dampak tersebut dapat berkembang menjadi gangguan psikosomatis, seperti jantung berdebar, tangan dingin, kesulitan berpikir, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Bahkan, dalam kondisi tertentu, korban dapat kehilangan kendali tubuh saat mengingat kembali peristiwa yang dialami.

“Sedikit saja diajak bicara tentang kejadian itu, korban bisa langsung freeze. Badannya seperti tidak bisa diajak berkompromi,” tambahnya.

Lebih jauh, Nurfi menegaskan bahwa trauma akibat pelecehan seksual dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi kehidupan korban di masa depan, termasuk dalam membangun kepercayaan diri dan pola relasi sosial.

“Kalau pengalaman traumatis itu belum selesai, dampaknya bisa panjang sekali, bahkan mempengaruhi bagaimana seseorang membangun fondasi harga diri anaknya kelak,” ujarnya.

Pentingnya Satgas PPKPT sebagai Ruang Aman

Dalam konteks pencegahan dan penanganan di perguruan tinggi, keberadaan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) dinilai memiliki peran strategis.

Namun demikian, Nurfi menilai masih terdapat tantangan, terutama terkait budaya masyarakat yang menganggap isu seksual sebagai hal tabu.

“Kasus pelecehan seksual sering dianggap sebagai aib, baik bagi korban, keluarga, maupun institusi. Karena itu banyak korban akhirnya memilih diam,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Satgas PPKPT seharusnya menjadi ruang aman (safe place) bagi korban untuk menyampaikan pengalaman tanpa rasa takut, sekaligus mendapatkan pendampingan yang komprehensif.

“Mahasiswa harus tahu bahwa mereka punya safe place untuk bercerita secara aman dan mendapatkan bantuan,” tegasnya.

Selain pendampingan psikologis, Satgas juga memiliki peran dalam memberikan bantuan hukum, mediasi, hingga fasilitasi pelaporan jika diperlukan.

“Tidak semua kasus harus disebarluaskan ke media sosial. Ada juga penyelesaian yang dilakukan secara tertutup selama semua pihak mau bekerja sama,” tambahnya.

Peran Lingkungan dalam Pencegahan

Nurfi menekankan bahwa penanganan kasus pelecehan seksual tidak dapat dibebankan hanya kepada korban atau institusi semata. Dukungan dari lingkungan sekitar menjadi faktor penting dalam proses pemulihan sekaligus pencegahan.

Menurutnya, teman dan orang terdekat memiliki peran strategis dalam membantu korban keluar dari situasi yang dialami.

“Ini harus menjadi kesadaran bersama. Kalau tidak ada yang berani memutus mata rantainya, maka kasus seperti ini akan terus terjadi,” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply