Mengenang Malik Fadjar, Tokoh Muhammadiyah Penggagas Hari Buku Nasional

Mengenang Malik Fadjar, Tokoh Muhammadiyah Penggagas Hari Buku Nasional
Mengenang Malik Fadjar, Tokoh Muhammadiyah Penggagas Hari Buku Nasional.

WARTAPTM.ID, MALANG — Di tengah derasnya arus informasi instan dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang kian masif, tantangan terbesar masyarakat modern bukan lagi sekadar akses informasi, melainkan menjaga daya kritis dan ketajaman nalar. Momentum peringatan Hari Buku Nasional setiap 17 Mei menjadi saat yang tepat untuk kembali mengingat sosok penggagasnya, Abdul Malik Fadjar.

Tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sekaligus Menteri Pendidikan Nasional tersebut dikenal sebagai figur visioner yang menempatkan literasi sebagai fondasi peradaban. Bagi Malik Fadjar, persoalan bangsa tidak berhenti pada rendahnya minat baca, tetapi lebih dalam: melemahnya tradisi berpikir di tengah masyarakat.

Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM, Faizin, menjelaskan bahwa Malik Fadjar memandang buku bukan sekadar pelengkap pendidikan formal, melainkan sarana utama pembentukan nalar.

“Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan,” ungkapnya.

Hari Buku Nasional sebagai Gerakan Kebudayaan

Gagasan Hari Buku Nasional yang dicetuskan pada 2002 bukanlah kebijakan simbolik semata. Malik Fadjar merancangnya sebagai bagian dari strategi kebudayaan untuk menghidupkan kembali tradisi membaca di tengah masyarakat.

Menurut Faizin, penetapan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional dimaksudkan untuk mengaitkan buku dengan gerakan nasional yang lebih luas, sekaligus menegaskan bahwa literasi merupakan pilar penting dalam kehidupan berbangsa.

“Sebagai pencetus, Prof. Malik senantiasa melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional, sehingga literasi benar-benar menjelma menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi,” tegasnya.

Kegelisahan Malik Fadjar terhadap krisis nalar tidak berhenti pada gagasan. Ia mewujudkannya melalui langkah konkret dengan mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Bahkan, ia menghibahkan ribuan buku koleksi pribadinya untuk memastikan akses literasi tetap terbuka bagi masyarakat.

“Agar budaya membaca tidak hilang di tengah hiruk-pikuk zaman, Prof. Malik rela memindahkan koleksi pribadinya ke RBC. Beliau ingin semangat literasi terus hidup dan tidak ditinggalkan generasi muda,” kenang Faizin.

Kini, RBC A. Malik Fadjar Institute berkembang menjadi ruang pengembangan pemikiran sekaligus laboratorium nalar publik. Berbagai program dikembangkan, mulai dari Ruang Gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan lembaga pendidikan, hingga layanan perpustakaan keliling melalui Mobil Bakti untuk Bangsa.

Keteladanan Malik Fadjar meninggalkan pesan kuat bagi generasi saat ini. Di era post-truth, ketika informasi kerap bercampur dengan disinformasi, tradisi membaca tidak lagi sekadar aktivitas intelektual, tetapi menjadi benteng pertahanan nalar.

Memperingati Hari Buku Nasional, dengan demikian, bukan hanya mengenang sebuah gagasan, melainkan memperbarui komitmen bersama untuk merawat budaya ilmu dan menjaga akal sehat bangsa. Perjuangan Malik Fadjar melalui literasi menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak mungkin dicapai tanpa masyarakat yang berpikir kritis dan berakar kuat pada tradisi membaca.

Be the first to comment

Leave a Reply