Dari Menara Gading ke Menara Air, Ini Pesan Kuat untuk Kampus Muhammadiyah

Dari Menara Gading ke Menara Air, Ini Pesan Kuat untuk Kampus Muhammadiyah

WARTAPTM.ID, SUKABUMI – Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) kini menempati posisi strategis sebagai aktor penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan solusi atas persoalan di tengah masyarakat. Karena itu, eksistensi kampus Muhammadiyah harus benar-benar menyatu dan berdampak dalam kehidupan Masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, saat memberikan amanat dalam agenda Sidang Terbuka Senat Akademik Milad Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) ke-23, Jumat (12/6/2026).

Muttaqin memberikan penekanan terhadap arah gerak dan kontribusi perguruan tinggi, khususnya di lingkungan Muhammadiyah. “Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari realitas sosial. Ia harus menjadi menara air yang mengalirkan manfaat seluas-luasnya bagi umat,” ujar Muttaqin.

Menurutnya, tantangan perguruan tinggi Muhammadiyah ke depan bukan sekadar berlomba mencari reputasi akademik semata, tetapi sejauh mana kontribusi dan solusi nyata yang dapat dihadirkan untuk masyarakat luas.

Salah satu contoh aksi nyata yang diapresiasi oleh Muttaqin adalah inisiasi program OVOD (One Village One Dose) oleh UMMI. Ia menegaskan bahwa program tersebut merupakan manifestasi konkret dari teologi Al-Ma’un yang selama ini menjadi fondasi gerakan Muhammadiyah. Nilai utama dari teologi Al-Ma’un terletak pada keberpihakan terhadap kelompok yang lemah (mustadhafin) dan upaya sistematis untuk meningkatkan kualitas hidup mereka secara berkelanjutan.

Dalam konteks kekinian, tantangan masyarakat—khususnya di wilayah perdesaan—tidak lagi cukup dijawab dengan pendekatan karitatif atau sekadar santunan. Penyelesaian masalah umat kini membutuhkan sentuhan ilmu pengetahuan, teknologi, dan manajemen modern yang terintegrasi secara utuh.

“Kalau hari ini masyarakat desa membutuhkan penguatan kapasitas, akses ekonomi, dan pendampingan berkelanjutan, maka perguruan tinggi harus hadir sebagai mitra strategis yang membawa solusi berbasis ilmu,” ujarnya.

Melalui konsep OVOD, Muttaqin melihat bahwa dosen dan mahasiswa tidak hanya dibatasi pada fungsi akademisi, tetapi harus turun langsung sebagai agen perubahan sosial yang bekerja bersama rakyat. “Gerakan Muhammadiyah sejak awal tidak pernah berhenti pada wacana. Ia selalu hadir dalam bentuk aksi nyata. Karena itu, program seperti OVOD harus dikelola secara profesional, terukur, dan berkelanjutan agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Muttaqin mendorong UMMI untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan mutu akademik, dan memperluas jejaring kolaborasi lintas sektor bersama pemerintah, dunia usaha, maupun komunitas global. Ia mengingatkan bahwa tantangan masa depan PTMA bukan lagi sekadar membesarkan reputasi nama, melainkan mengukur sejauh mana kontribusi institusi tersebut diakui dan dirasakan manfaatnya sebagai orientasi masa depan.

Ia turut menyampaikan optimisme yang tinggi bahwa UMMI memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu institusi pendidikan unggulan di wilayah Jawa Barat. Dengan catatan, kampus ini terus menjaga konsistensi pada kualitas, inovasi, dan dampak sosial yang terukur.

Be the first to comment

Leave a Reply