WARTAPTM.ID, SIDOARJO — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali menegaskan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui pemberangkatan 955 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pencerahan dan KKN Muhammadiyah ’Aisyiyah tahun 2026.
Kegiatan pelepasan berlangsung di halaman Kampus 3 Umsida pada Selasa (21/7/2026), mengusung tema “Sinergi Membangun Desa Mandiri, Berdaya, dan Berdampak untuk Kemajuan Desa dan Ranting.” Program ini menjadi bagian dari implementasi Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah, khususnya dalam aspek pengabdian kepada masyarakat.
Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Umsida, Sigit Hermawan, menjelaskan bahwa sebanyak 944 mahasiswa mengikuti KKN Pencerahan yang terbagi dalam 72 kelompok dan ditempatkan di 72 desa di Jawa Timur.
“Sementara itu, 11 mahasiswa lainnya mengikuti KKN Muhammadiyah–’Aisyiyah yang akan dilaksanakan di Kabupaten Malang Selatan bersama mahasiswa dari berbagai PTMA di Indonesia,” ujarnya.
Program KKN Pencerahan Umsida tahun ini menjangkau wilayah yang lebih luas, meliputi Kabupaten Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Kediri, Nganjuk, dan Lamongan. Seluruh mahasiswa akan didampingi oleh 37 dosen pembimbing lapangan selama menjalankan pengabdian di masyarakat.
Menurut Sigit, perluasan wilayah ini merupakan bagian dari ikhtiar Umsida untuk menghadirkan manfaat yang lebih merata.
“Sebelumnya lokasi KKN biasanya berada di sekitar Pasuruan, Mojokerto, dan Kediri. Sekarang sudah menjangkau Lamongan dan Nganjuk. Semoga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di berbagai kabupaten tersebut,” jelasnya.
Selain itu, Umsida juga menyelenggarakan program KKN-PLP (Praktik Lapangan Persekolahan) di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, yang diikuti mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.
Lebih dari sekadar menjalankan program kerja, KKN Umsida diarahkan sebagai ruang pembelajaran sosial bagi mahasiswa. Mereka diharapkan mampu memahami kondisi riil masyarakat serta membangun kolaborasi dengan berbagai elemen desa.
“Mahasiswa juga perlu belajar dari masyarakat, memahami kondisi desa, dan membangun kolaborasi dengan pemerintah desa, RT/RW, karang taruna, PKK, bidan, serta berbagai kelompok masyarakat,” terang Sigit.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan partisipatif dalam menyusun program kerja.
“Jangan memaksakan program tanpa berdiskusi. Dengarkan terlebih dahulu apa yang menjadi permasalahan masyarakat, lalu koordinasikan dengan desa sebelum memberikan solusi,” pesannya.
Rektor Umsida, Hidayatulloh, yang secara resmi memberangkatkan mahasiswa, menegaskan bahwa KKN merupakan wujud nyata pengamalan ilmu yang telah diperoleh mahasiswa selama proses pembelajaran di kampus.
Meski berlangsung sekitar satu bulan, ia menilai KKN memiliki potensi besar dalam memberikan pengalaman bermakna sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Tidak boleh hanya sekadar hadir. Semua harus memberikan kontribusi terbaik dan melakukannya secara konsisten sejak awal hingga hari terakhir KKN,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kekompakan dalam kelompok serta sinergi dengan masyarakat desa agar program yang dijalankan benar-benar memberikan dampak.
“Pastikan ada sesuatu yang berubah antara sebelum mahasiswa datang dan setelah mahasiswa pulang. Perubahannya harus mengarah pada kemajuan dan pengembangan desa,” tuturnya.
Sebagai bagian dari akuntabilitas akademik, mahasiswa juga diminta menyusun laporan KKN secara sistematis. Hasil pengabdian tersebut akan dipublikasikan sebagai bagian dari kontribusi ilmiah sekaligus penguatan reputasi institusi.
Melalui program ini, Umsida tidak hanya mendorong mahasiswa untuk belajar di tengah masyarakat, tetapi juga meneguhkan peran perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai motor penggerak pemberdayaan dan pembangunan berbasis nilai-nilai Islam berkemajuan.
Be the first to comment