WARTAPTM.ID, MEDAN — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) harus menghadirkan karakter kuat berbasis nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai identitas utama.
Hal tersebut disampaikannya dalam bimbingan dan arahan pada pelantikan empat Wakil Rektor UMSU masa jabatan 2026–2030, Sabtu (25/7/2026).
Menurut Agus, AIK merupakan ruh yang membedakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) dengan institusi pendidikan lainnya. “Al-Islam dan Kemuhammadiyahan adalah ruh pembeda. Di situlah identitas kita dibangun, bukan sekadar pada capaian administratif,” tuturnya.
Ia menekankan bahwa target UMSU tidak cukup hanya meraih predikat unggul, tetapi harus mencapai tingkat “unggul seunggul-unggulnya”.
Dalam arahannya, Agus mengutip pesan KH. AR Fachruddin (Pak AR) mengenai karakter lulusan Muhammadiyah yang harus memiliki keunggulan menyeluruh. Menurutnya, lulusan PTMA harus unggul dalam tiga dimensi utama: moral-spiritual, intelektual, dan peran sosial.
“Kita tidak hanya mencetak sarjana, tetapi mencetak kader yang unggul dalam akhlak, cerdas secara intelektual, dan hadir memberi solusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa konsep tersebut sejalan dengan semangat “kampus berdampak”, di mana perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga kontribusi nyata bagi umat.
Agus memberikan penegasan tegas kepada para Wakil Rektor mengenai hakikat kepemimpinan dalam Muhammadiyah. Menurutnya, jabatan bukanlah fasilitas atau simbol kehormatan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
“Jabatan itu amanah, bukan fasilitas. Tugas pimpinan adalah menyelesaikan masalah, bukan mengeluh,” tegasnya.
Ia bahkan mengingatkan bahwa seorang pimpinan tidak boleh larut dalam keluhan. “Jika pimpinan mulai mengeluh, lebih baik amanah itu dikembalikan. Karena pemimpin ditugasi untuk menyelesaikan, bukan mengeluhkan keadaan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Agus menekankan pentingnya kekuatan spiritual sebagai fondasi kepemimpinan di lingkungan Muhammadiyah. Ia mengingatkan bahwa tantangan pimpinan jauh lebih besar, sehingga membutuhkan kekuatan ibadah yang lebih kuat.
“Seorang pimpinan itu tugasnya lebih berat, maka tahajudnya harus lebih kuat daripada anggotanya,” tuturnya.
Dalam konteks global, Agus mendorong UMSU untuk terus mengembangkan internasionalisasi ide dan gagasan melalui riset dan publikasi. Menurutnya, UMSU harus menjadi representasi Islam yang berkemajuan di tingkat dunia.
“Internasionalisasi bukan sekadar kerja sama, tetapi bagaimana kita menghadirkan gagasan Islam yang ramah, santun, dan berkemajuan di kancah global,” jelasnya.
Be the first to comment