WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Sebastiana Bwarleling, seorang biarawati Katolik asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, memilih Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta sebagai tempat melanjutkan pendidikan di Program Studi D3 Radiologi. Kehadirannya menjadi bagian dari keberagaman mahasiswa baru Unisa Yogyakarta Tahun Akademik 2026/2027.
Sebastiana merupakan anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado. Ia mendapat mandat dari kongregasinya untuk menempuh pendidikan radiologi sebagai bagian dari kebutuhan pengembangan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, Maluku Utara, yang dikelola kongregasi tersebut.
“Saya memilih kuliah di Unisa Yogyakarta karena pertama, di bidang pendidikan kesehatan itu unggul. Yang kedua, sarana prasarana yang sangat memadai. Karena mengambil jurusan radiologi, dan sebelum itu saya sudah mencari tempat di Jogja dan Unisa Yogyakarta punya fasilitas yang sangat memadai untuk mengembangkan minat dan bakat,” ujar Sebastiana saat pembukaan Masa Ta’aruf (Mataf) Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).
Selain pertimbangan akademik dan fasilitas pembelajaran, Sebastiana melihat lingkungan Unisa Yogyakarta sebagai kampus yang terbuka terhadap perbedaan. Ia mengaku mendapat sambutan baik meski berasal dari latar belakang agama yang berbeda dengan mayoritas mahasiswa.
“Saya memilih Unisa Yogyakarta juga karena mempunyai iman yang lebih dan bertoleransi tinggi di tempat ini. Dan juga terbuka bagi siapa saja, terlebih khusus bagi saya seorang biarawati juga diterima dengan baik di tempat ini,” katanya.
Belajar dalam Lingkungan yang Beragam
Sebastiana tidak mengalami kesulitan berarti dalam beradaptasi dengan lingkungan baru. Pengalamannya bekerja di rumah sakit di Ternate membuatnya terbiasa berinteraksi dengan masyarakat dari latar belakang yang beragam.
Ia menyebut sekitar 90 persen karyawan di rumah sakit tempatnya bekerja merupakan Muslim. Pengalaman tersebut membantunya membangun komunikasi dan kehidupan bersama dengan kelompok yang berbeda latar belakang.
“Kalau saya pribadi mau bersosialisasi sudah terbiasa. Di Ternate, kami punya mayoritas karyawannya masih dibilang 90 persen Islam. Jadi untuk mau beradaptasi atau mau bersosialisasi dengan yang lain saya sudah terbiasa,” ungkapnya.
Tantangan yang lebih ia rasakan justru berkaitan dengan perbedaan usia. Sebagai anggota kongregasi sejak 2015, Sebastiana sempat merasa canggung ketika harus berbaur dengan mahasiswa baru yang sebagian besar baru menyelesaikan pendidikan SMA.
Namun, penerimaan dari teman-teman barunya membuat proses adaptasi berjalan lebih mudah.
“Pas mulai dari pra Mataf, itu kelompok baru bagi saya, semua masih mau dibilang adik-adik yang baru tamat SMA. Kalau saya kan masuk biara sudah dari 2015, jadi untuk membaur dengan teman-teman ini sebenarnya rasa canggung ada. Tapi karena teman-teman yang lain juga menerima saya dengan baik, kami membangun komunitas seperti kelompok saya dari Khafilah 37,” tuturnya.
Pilihan Sebastiana mengambil Radiologi juga berkaitan langsung dengan kebutuhan rumah sakit yang dikelola kongregasinya. Menurutnya, tenaga kesehatan pada sejumlah unit sudah tersedia, tetapi layanan radiologi masih membutuhkan tenaga yang dipersiapkan secara khusus.
“Memilih jurusan itu bukan pilihan saya, tetapi karena kebutuhan Kongregasi kami. Di rumah sakit kami diwajibkan untuk setiap unit itu harus dipegang oleh para suster. Di apoteker dan lain-lain sudah ada, tapi di radiologi belum ada,” jelasnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Sebastiana diharapkan kembali ke Ternate untuk mengembangkan layanan kesehatan di rumah sakit tersebut.
“Jadi saya diutus untuk berkuliah radiologi untuk bisa kembali mengembangkan rumah sakit kami yang ada di Ternate,” katanya.
Unisa Terima Mahasiswa dari Beragam Latar Belakang
Kehadiran Sebastiana menjadi bagian dari keberagaman mahasiswa baru Unisa Yogyakarta. Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, mengatakan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027 berasal dari berbagai daerah, budaya, dan latar belakang agama.
Dari 14.872 pendaftar, sebanyak 2.878 mahasiswa diterima. Mereka berasal dari 34 provinsi di Indonesia serta empat negara, yakni Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand.
Unisa Yogyakarta juga mencatat puluhan mahasiswa baru non-Muslim dari kalangan Hindu, Katolik, dan Kristen. Para mahasiswa tersebut bergabung dalam berbagai jenjang pendidikan, mulai dari diploma dan sarjana hingga pascasarjana, profesi, dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Selain itu, Unisa Yogyakarta menyalurkan beasiswa senilai Rp18,3 miliar kepada 596 mahasiswa.
Warsiti menegaskan keberagaman mahasiswa merupakan kekayaan yang perlu dijaga bersama. Perbedaan daerah asal, budaya, bahasa, maupun latar belakang agama, menurutnya, tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun lingkungan akademik yang saling menghormati.
Mahasiswa juga didorong untuk memperluas pengetahuan, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta membangun integritas dan sikap toleran. Pendidikan yang ditempuh di Unisa Yogyakarta diharapkan pada akhirnya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Harapan tersebut sejalan dengan pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, dalam pembukaan Mataf Unisa Yogyakarta. Ia mengatakan masa pengenalan mahasiswa tidak hanya menjadi ruang untuk mengenal kampus, tetapi juga momentum untuk menemukan dan mengembangkan potensi setiap mahasiswa.
“Jadi selain kalian akan menempuh ilmu yang kalian minati di Unisa Yogyakarta, tentunya potensi yang kalian punya itu juga akan dikembangkan di Unisa Yogyakarta melalui berbagai macam program-program yang ada. Jangan sampai ada yang tertinggal. No one left behind,” ujar Salmah.
Menurut Salmah, prinsip tersebut perlu diwujudkan melalui keterbukaan akses mahasiswa terhadap berbagai informasi, fasilitas, beasiswa, maupun kegiatan kemahasiswaan.
“Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal. Sehingga Unisa Yogyakarta menyediakan itu semuanya, fasilitas yang ada untuk menjadikan kalian semua kelak menjadi generasi yang hebat, generasi yang berkualitas, tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan tentunya peduli terhadap sesama,” katanya.
Ia menambahkan, berbagai kegiatan kemahasiswaan yang diperkenalkan selama Mataf menjadi bagian dari upaya menggali minat dan bakat mahasiswa, termasuk kegiatan bela diri melalui Tapak Suci.
Bagi Sebastiana, pengalaman diterima dan belajar di Unisa Yogyakarta menjadi ruang untuk terus berkembang sekaligus mempersiapkan diri memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di Ternate.
“Harapan saya semoga hal baik yang telah dikembangkan oleh universitas bisa ke depannya dikembangkan lebih baik lagi. Walaupun saya dari agama lain, tetapi saya merasa bahwa tempat ini mempunyai toleransi yang tinggi,” pungkasnya.

Be the first to comment