Fortama 2026, Umsida Sambut 3.000 Mahasiswa Baru dan Kenalkan Arah Kampus

Fortama 2026, Umsida Sambut 3.000 Mahasiswa Baru dan Kenalkan Arah Kampus

WARTAPTM.ID, SIDOARJO — Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menyambut sekitar 3.000 mahasiswa baru melalui Forum Ta’aruf Mahasiswa (Fortama) 2026. Selain menjadi ruang pengenalan kehidupan kampus, Fortama menjadi momentum bagi Umsida untuk memperkenalkan arah pengembangan institusi sekaligus mendorong mahasiswa baru berani berprestasi dan membangun karakter.

Fortama 2026 mengusung tema “Membangun Generasi Berkarakter Unggul, Adaptif dan Berdampak untuk Indonesia Berkemajuan”. Sesi pertama berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus 1 Umsida, Sabtu (15/8/2026), sementara sesi kedua dijadwalkan pada 17 September 2026.

Rektor Umsida, Hidayatulloh, mengatakan tema Fortama tahun ini disusun selaras dengan perjalanan pengembangan Umsida yang telah dirancang melalui lima milestone sejak 2018 hingga 2038.

Menurutnya, Umsida telah melewati tahap pertama, yakni Good University Governance pada 2018–2022, yang ditandai dengan penguatan tata kelola berbasis sistem informasi terintegrasi.

“Sejak mendaftar sampai lulus nanti, semuanya terfasilitasi dalam sistem informasi yang terintegrasi,” tutur Hidayatulloh.

Periode 2022–2026 menjadi fase National Recognition. Selanjutnya, mulai September 2026, Umsida memasuki milestone ketiga, yakni National Competitiveness. Tahap tersebut diarahkan untuk memperkuat daya saing Umsida di tingkat nasional sebelum melangkah menuju tingkat ASEAN.

Dorong Mahasiswa Berani Berprestasi

Di hadapan mahasiswa baru, Hidayatulloh juga memperkenalkan perkembangan Umsida. Pada tahun akademik 2025–2026, Umsida memiliki tiga kampus, sekitar 11.500 mahasiswa, dan 37 program studi.

Ia menilai perkembangan institusi perlu diikuti dengan keberanian mahasiswa memanfaatkan berbagai kesempatan untuk mengembangkan kompetensi selama menempuh pendidikan.

Hal tersebut tercermin dari capaian mahasiswa Umsida dalam satu tahun terakhir. Pada tingkat nasional, mahasiswa Umsida meraih 51 prestasi akademik dan 152 prestasi nonakademik. Sementara pada tingkat internasional, tercatat 15 prestasi akademik dan 24 prestasi nonakademik.

Capaian tersebut, kata Hidayatulloh, menjadi gambaran bahwa mahasiswa Umsida memiliki ruang yang luas untuk berkembang dan berprestasi.

“Banyak mahasiswa yang berkata kepada saya bahwa Umsida saat ini kancahnya ada di level setidaknya nasional,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa baru untuk meneruskan budaya berprestasi yang telah dibangun mahasiswa sebelumnya.

“Karena kita sudah mempunyai landasan yang sangat kuat. Need for achievement sudah menggulir di Umsida. Tinggal adik-adik nanti menangkap peluang, meneruskan kebiasaan baik yang telah ditorehkan oleh mahasiswa,” pesannya.

Selain capaian mahasiswa, Hidayatulloh menyampaikan perkembangan sarana pendukung pendidikan Umsida. Seiring dengan keberadaan Program Studi Kedokteran dan Kedokteran Gigi, universitas saat ini tengah menyelesaikan pembangunan rumah sakit di kawasan Sekardangan.

Rumah sakit tersebut nantinya tidak hanya ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari dukungan terhadap proses pendidikan mahasiswa.

Fortama Tekankan Karakter dan Integritas

Penguatan mahasiswa baru tidak hanya diarahkan pada prestasi akademik dan pengembangan kompetensi. Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Achmad Jainuri, turut memberikan penguatan sekaligus mengukuhkan mahasiswa baru Umsida.

Jainuri mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak semata-mata berorientasi pada kelulusan. Mahasiswa perlu membangun kompetensi sekaligus karakter sebagai bekal ketika terjun ke masyarakat.

“Semua yang dibicarakan dalam masa Fortama ini akan membekali saudara-saudara sekalian selama belajar di Umsida untuk keluar bukan sekadar lulus, tapi juga berkompeten,” terangnya.

Menurutnya, salah satu unsur penting dalam membangun karakter adalah integritas diri. Integritas tercermin dari keselarasan antara ucapan dan tindakan.

“Komponen karakter yang penting itu adalah integritas diri, bertemunya antara ucapan dan tindakan,” jelas Jainuri.

Ia menambahkan, kejujuran, komitmen terhadap kebenaran, dan perilaku baik bukan sesuatu yang terbentuk secara otomatis. Karakter perlu dibangun melalui proses pendidikan dan pembiasaan.

Karena itu, mahasiswa baru didorong untuk menjaga fokus selama menjalani pendidikan serta memanfaatkan masa kuliah untuk membangun kapasitas diri.

“Jangan terpengaruh oleh kondisi yang ada di sekitar Anda sekarang. Cobalah konsentrasi dan istiqamah mencari ilmu, membekali diri menjadi orang-orang yang punya karakter,” pesannya.

Pesan tersebut menjadi penting seiring langkah Umsida memasuki fase National Competitiveness. Perjalanan menuju kampus yang semakin berdaya saing tidak hanya membutuhkan penguatan kelembagaan dan fasilitas, tetapi juga mahasiswa yang mampu membawa kompetensi dan nilai-nilai yang diperoleh selama di kampus ke tengah masyarakat.

Be the first to comment

Leave a Reply