Puskesmas Warsawe Rusak Berat, KKN AB UAD Siapkan Dukungan Psikososial bagi Korban Gempa

Puskesmas Warsawe Rusak Berat, KKN AB UAD Siapkan Dukungan Psikososial bagi Korban Gempa

WARTAPTM.ID, MANGGARAI BARAT, NTT — Gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan, tetapi juga berdampak pada keberlangsungan pelayanan publik dan kondisi psikologis masyarakat. Salah satu fasilitas yang terdampak cukup berat adalah Puskesmas Warsawe di Dusun Watu Weri, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat.

Kerusakan pada bangunan puskesmas membuat pelayanan kesehatan untuk sementara harus dilakukan di luar gedung. Para tenaga medis memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan memanfaatkan tenda darurat yang didirikan di area puskesmas.

Kepala Puskesmas Warsawe, Yohanes, mengatakan kondisi bangunan perlu segera mendapatkan pengkajian dari pihak berwenang untuk memastikan kelayakan dan keamanan fasilitas tersebut.

“Harapan kami tentu kondisi bisa segera membaik. Kami sangat mengharapkan adanya pengkajian cepat dari dinas terkait atau Kementerian PUPR mengenai kelayakan gedung Puskesmas Warsawe ini, apakah masih memungkinkan untuk kembali digunakan melalui renovasi tingkat berat, ataukah memang sudah harus direlokasi total,” ungkap Yohanes saat ditemui tim KKN  AB UAD, Jumat (21/8/2026).

Di tengah kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Anak Bangsa (KKN AB) Periode XIII Universitas Ahmad Dahlan (UAD) turut menyesuaikan program pengabdian dengan kebutuhan masyarakat terdampak.

Setelah sebelumnya terlibat dalam pendataan warga dan pemetaan kerusakan, mahasiswa KKN UAD kini menyiapkan dukungan psikososial melalui pendekatan Psychological First Aid (PFA), terutama bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan pendampingan setelah mengalami situasi kebencanaan.

Sekretaris KKN AB XIII UAD, Aisyah Mujahidah Belangi, mengatakan perubahan fokus program dilakukan setelah mahasiswa melihat langsung kondisi masyarakat serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pihak Puskesmas Warsawe.

“Sejak awal penerjunan, kami sudah mendiskusikan bahwa prioritas program kerja dialihkan pada aspek psikososial untuk menyesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat yang kondisi psikisnya terdampak akibat gempa,” jelas Aisyah.

Menurutnya, keberadaan mahasiswa dari Program Studi Psikologi dalam kelompok KKN menjadi salah satu modal untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

“Kebetulan di kelompok kami ada beberapa mahasiswa dari Program Studi Psikologi yang siap diterjunkan penuh untuk membantu memulihkan trauma warga, khususnya anak-anak dan lansia,” katanya.

Namun, pendampingan tersebut tidak dilakukan secara sendiri. Mahasiswa KKN UAD akan berkoordinasi dengan pihak medis dan jaringan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Manggarai Barat untuk melakukan asesmen terhadap kondisi masyarakat.

“Kami terafiliasi dengan MDMC Manggarai Barat untuk pelaksanaan asesmen, sehingga akan lebih terpetakan korban yang membutuhkan intervensi lanjutan selain trauma healing,” ujar Aisyah.

Puskesmas Warsawe Rusak Berat, KKN AB UAD Siapkan Dukungan Psikososial bagi Korban Gempa

Pendekatan tersebut penting agar dukungan yang diberikan tidak berhenti pada kegiatan pemulihan psikologis secara umum, tetapi dapat mengidentifikasi warga yang membutuhkan penanganan atau pendampingan lebih lanjut.

Pemerintah Desa Cunca Wulang menyatakan dukungan terhadap rencana pendampingan psikososial yang akan dilakukan mahasiswa KKN UAD.

Kepala Desa Cunca Wulang, Pius Suparjo Sadu, menyatakan pemerintah desa siap membantu komunikasi dengan pihak terkait sekaligus mendampingi mahasiswa selama proses sosialisasi dan pelaksanaan program di lapangan.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari respons bersama terhadap kondisi masyarakat setelah gempa. Penanganan tidak hanya diarahkan pada pemulihan fasilitas fisik dan pemenuhan kebutuhan logistik, tetapi juga pada kondisi psikologis warga yang terdampak.

Di sisi lain, kebutuhan dasar untuk mendukung pelayanan darurat masih menjadi perhatian. Salah satunya adalah ketersediaan tenda posko yang representatif untuk menampung berbagai aktivitas penanganan pascabencana.

Berdasarkan pemetaan di lapangan, salah satu lokasi yang direkomendasikan untuk menjadi titik evakuasi dan posko utama adalah Lapangan SDK Warsawe.

Pemusatan posko di satu lokasi diharapkan dapat memudahkan koordinasi antara berbagai pihak, mulai dari pelayanan kesehatan, distribusi logistik, hingga pelaksanaan dukungan psikososial bagi warga.

Dengan kondisi wilayah terdampak yang tersebar, keberadaan posko terpusat juga diharapkan dapat membuat penanganan lebih terorganisasi dan memudahkan bantuan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Be the first to comment

Leave a Reply