WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pentingnya kepemimpinan yang progresif dalam mengelola Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Menurutnya, setiap pimpinan Muhammadiyah perlu memiliki kemampuan manajerial serta memahami kondisi riil institusi yang dipimpinnya.
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat menghadiri Pelatihan High Impact Leader and Manager Batch III yang diselenggarakan Pusat Pendidikan dan Latihan Muhammadiyah (Pusdiklatmu) di Hotel Grand Rohan, Yogyakarta, Kamis-Jumat (3-4/9/2026).
Pelatihan tersebut diikuti sekitar 30 peserta dari unsur sekolah, perguruan tinggi, badan usaha, dan perusahaan, baik di lingkungan internal maupun eksternal Muhammadiyah. Hingga angkatan ketiga, program ini telah diikuti sekitar 100 peserta yang sebagian di antaranya berasal dari luar Yogyakarta.
Dalam penyampaiannya, Haedar menekankan bahwa posisi sebagai pimpinan Muhammadiyah tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengelola organisasi.
“Kita menyatukan semuanya itu,” ujar Haedar, seraya menegaskan bahwa siapa pun yang berada dalam jajaran pimpinan Muhammadiyah pada dasarnya merupakan pemimpin yang harus memiliki kemampuan manajerial.
Haedar mendorong agar Muhammadiyah ditata dengan pendekatan yang progresif. Menurutnya, pimpinan AUM tidak cukup hanya menerima dan mengandalkan laporan administratif, tetapi perlu turun langsung untuk melihat kondisi institusi yang dipimpinnya.
Langkah tersebut penting agar pimpinan dapat mengenali persoalan secara lebih utuh, menentukan pembenahan yang diperlukan, sekaligus memastikan organisasi berkembang sesuai kebutuhan.
Kepemimpinan, kata Haedar, juga perlu dibangun melalui ekosistem dan budaya organisasi yang sehat. Lingkungan kerja yang baik menjadi bagian penting untuk memastikan fungsi kepemimpinan berjalan secara optimal sekaligus memungkinkan kualitas organisasi dinilai secara objektif oleh pihak eksternal.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan kemampuan manajerial sebagai bagian penting dari kepemimpinan Muhammadiyah. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu memberikan arah, tetapi juga memastikan arah tersebut diterjemahkan dalam tata kelola dan kinerja organisasi.
Pusdiklatmu Perkuat Kapasitas SDM
Pelatihan High Impact Leader and Manager Batch III dirancang dengan pendekatan interaktif dan aplikatif. Peserta tidak hanya menerima materi melalui ceramah, tetapi juga mengikuti simulasi dan studi kasus yang mendekati persoalan kepemimpinan dalam organisasi.
Pada hari pertama, peserta mengikuti LEGO Leadership Simulation untuk membedah tantangan organisasi modern, kemudian dilanjutkan dengan materi Building High Performance Team yang membahas trust, ownership, dan accountability melalui studi kasus.
Pada hari kedua, peserta mengikuti Change Leadership Simulation, pengambilan keputusan berbasis data, serta penyusunan Personal Leadership Blueprint dan Individual Action Plan. Rangkaian tersebut diakhiri dengan presentasi rencana aksi masing-masing peserta.
Direktur Pusdiklatmu Sarjilah mengatakan pendekatan tersebut dirancang agar peserta tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu menerapkannya setelah kembali ke institusi masing-masing.
“Kami berharap pelatihan ini memberi tambahan wawasan dan perubahan sikap serta perilaku kerja di lingkungan masing-masing, sehingga membawa dampak positif setelahnya,” ujar Sarjilah.
Ia menjelaskan, pelatihan kepemimpinan merupakan salah satu bagian dari program pengembangan kompetensi yang diselenggarakan Pusdiklatmu. Selain pelatihan non-BNSP, Pusdiklatmu juga mengembangkan sejumlah program yang dipadukan dengan uji kompetensi tersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sesuai kebutuhan peserta dan institusi.
“Pusdiklatmu hadir untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian SDM, baik di internal maupun eksternal Persyarikatan, demi kemajuan umat dan bangsa,” kata Sarjilah.
Memasuki angkatan ketiga, Pusdiklatmu telah menghimpun sekitar 100 peserta dari berbagai latar belakang kelembagaan. Kehadiran peserta dari luar Yogyakarta menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap penguatan kapasitas kepemimpinan tidak hanya muncul dari lingkungan internal Persyarikatan.
Bagi Pusdiklatmu, tantangan berikutnya adalah memastikan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan diterjemahkan menjadi perubahan di tempat kerja. Hal tersebut sejalan dengan pesan Haedar agar kepemimpinan Muhammadiyah bergerak secara progresif, memahami persoalan secara langsung, dan membangun tata kelola organisasi yang sehat.
Dengan demikian, keberhasilan pelatihan tidak berhenti pada selesainya rangkaian kegiatan, tetapi terlihat dari perubahan cara pemimpin membaca persoalan, mengambil keputusan, mengelola tim, dan mendorong kemajuan institusinya.
Be the first to comment