Perluas Wawasan Internasional, Mahasiswa UMMI Tuntaskan Double Degree di Korea Selatan

Perluas Wawasan Internasional, Mahasiswa UMMI Tuntaskan Double Degree di Korea Selatan

WARTAPTM.ID, SUKABUMI — Rasa penasaran membawa Dede Paturahman, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) angkatan 2021, keluar dari zona nyaman. Berawal dari mengikuti sebuah seminar, ia kemudian mengambil kesempatan mengikuti program Double Degree hingga menempuh pendidikan di Korea Selatan dan menyelesaikan studi dengan mengikuti wisuda di negara tersebut.

Dede mengaku awalnya tidak memiliki rencana mengikuti program tersebut. Ketertarikannya muncul setelah menghadiri seminar bersama teman-teman satu angkatan. Ketika salah seorang temannya yang semula tertarik tidak jadi berangkat, Dede memutuskan mencoba kesempatan tersebut.

“Awalnya saya sebenarnya tidak berniat ikut. Tapi karena penasaran, akhirnya saya memutuskan untuk mencoba. Saat itu saya juga mulai merasa jenuh dengan rutinitas pembelajaran dan ingin keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan pengalaman baru,” ungkap Dede saat dihubungi, Jumat (4/9/2026).

Keputusan tersebut membawanya melalui sejumlah tahapan. Setelah mengikuti wawancara dan dinyatakan lolos, Dede masih harus menunggu sekitar satu semester sebelum keberangkatan. Ia kemudian mempersiapkan berbagai dokumen, meminta izin dari program studi, mengurus visa, menjalani pemeriksaan kesehatan, hingga mempersiapkan keberangkatan.

Proses tersebut dijalani bersama mahasiswa lain yang sebelumnya belum dikenalnya. Berbagai tantangan yang muncul tidak membuatnya mengurungkan niat. Keinginan memperoleh pengalaman baru membuat Dede terus menjalani setiap tahapan hingga akhirnya berangkat ke Korea Selatan.

Di Korea Selatan, Dede melanjutkan pendidikan di Universitas Nasional Changwon Namhae Campus pada bidang Teknik Elektro dan Otomotif. Perubahan lingkungan, bahasa, dan budaya menjadi tantangan baru yang harus dihadapinya.

“Saat pertama datang, saya belum bisa bahasa Korea. Saya hanya tahu hurufnya, tetapi belum bisa berbicara. Jadi ketika ada orang Korea yang bertanya, saya sering bingung harus menjawab apa,” ceritanya.

Untuk beradaptasi, Dede mengikuti kelas bahasa Korea yang difasilitasi kampus. Ia juga berusaha aktif berkomunikasi dengan dosen dan mahasiswa Korea.

Menurutnya, kemampuan bahasa menjadi salah satu faktor penting untuk membangun komunikasi sekaligus memahami lingkungan baru.

Selain kegiatan akademik, Dede memperoleh pengalaman mengenal budaya Korea secara langsung. Salah satunya melalui program pengenalan budaya bersama dosen dan mahasiswa ke Seoul.

Dalam kegiatan tersebut, ia mengunjungi Gyeongbokgung, mencoba mengenakan hanbok, serta mencicipi sejumlah makanan tradisional Korea, seperti bibimbap dan kimchi.

Pengalaman selama di Korea tidak hanya memperluas wawasan budaya, tetapi juga mempertemukannya dengan bidang pembelajaran yang sebelumnya tidak banyak ia temui sebagai mahasiswa Teknik Sipil.

Salah satunya adalah ketika mengikuti pembelajaran pengelasan yang berkaitan dengan perawatan pesawat.

“Awalnya saya tidak terlalu berekspektasi, tetapi ternyata saya bisa mengikuti kelasnya dan belajar beberapa jenis pengelasan, salah satunya CO₂. Walaupun belum terlalu jago, itu menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan,” ujarnya.

Di sisi lain, Dede harus membagi waktu antara perkuliahan di Korea dan kewajiban akademiknya di Indonesia. Perbedaan waktu serta sistem perkuliahan yang berlangsung secara luring di Korea dan daring di Indonesia menuntutnya lebih disiplin mengatur jadwal.

Ia juga menjalani pekerjaan paruh waktu di luar kampus. Untuk menjaga agar pekerjaan tidak mengganggu perkuliahan, Dede biasanya mengambil jadwal pada akhir pekan. Situasi tersebut menjadi bagian dari proses adaptasi yang membentuk kemandirian dan tanggung jawabnya selama berada di negeri orang.

Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mudah. Dede mengakui pernah berada pada titik ketika muncul keinginan untuk menyerah. Namun, dukungan orang tua, keluarga, dan teman-teman membuatnya memilih bertahan.

“Pernah merasa ingin menyerah. Tapi banyak dukungan dari orang tua, keluarga, dan teman-teman. Mereka selalu bilang, ‘De, kamu tetap harus bertahan, nikmati saja prosesnya,’” tuturnya.

Dukungan tersebut menjadi salah satu kekuatan hingga akhirnya Dede berhasil menyelesaikan pendidikan dan mengikuti wisuda di Korea Selatan. Baginya, wisuda bukan hanya tentang memperoleh gelar. Momen tersebut menjadi penanda dari perjalanan panjang yang diwarnai proses adaptasi, kelelahan, pengalaman baru, dan keberanian untuk bertahan.

Dede pun menyampaikan apresiasi kepada orang tua, keluarga, teman-teman, dosen, UMMI, Program Studi Teknik Sipil, serta pihak kampus di Korea yang telah memberikan dukungan. Ia juga secara khusus berterima kasih kepada Mr. Noh yang menjadi salah satu penghubung dalam kesempatan belajar di Korea.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Korea Selatan, Dede ingin membawa pulang lebih dari sekadar ijazah. Pengalaman tersebut memberinya pelajaran tentang kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, manajemen waktu, serta keberanian mengambil kesempatan.

Ia menyebut pengalaman tinggal dan belajar di Korea sebagai cultural shock yang justru memberikan perspektif baru tentang pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan capaian akademik, tetapi juga kemampuan seseorang untuk beradaptasi, bertahan dalam situasi baru, dan memanfaatkan peluang.

Pengalaman tersebut pula yang mendorong Dede berpesan kepada mahasiswa UMMI agar tidak ragu mengambil kesempatan belajar di luar negeri.

“Kalau ada kesempatan, coba saja dulu. Jangan terlalu banyak memikirkan apakah kita bisa atau tidak. Karena kadang kita baru tahu kemampuan kita setelah berani mencoba,” pesannya.

Perjalanan Dede menunjukkan bahwa kesempatan untuk berkembang dapat bermula dari langkah sederhana. Rasa penasaran yang kemudian diikuti keberanian mencoba membawanya melewati lingkungan akademik yang berbeda, beradaptasi dengan budaya baru, hingga menyelesaikan pendidikan dan mengikuti wisuda di Korea Selatan.

Be the first to comment

Leave a Reply