WARTAPTM.ID, DENPASAR — Priska Maskanah Dwi Damayanti, mahasiswa Program Studi Kewirausahaan Bali International Muhammadiyah University (BIM University), mengembangkan usaha keripik pisang hingga produknya masuk ke gerai Alfamart. Ia juga berhasil melewati proses kurasi yang diselenggarakan PLUT KUMKM Jembrana dan Indomaret.
Capaian tersebut tidak diraih dalam perjalanan yang mudah. Priska pernah menghadapi masalah finansial yang menghambat perkembangan usahanya. Kondisi itu membuatnya harus mengevaluasi kembali pengelolaan bisnis, sembari tetap menjalankan tanggung jawab sebagai mahasiswa.
Alih-alih menghentikan usahanya, Priska menjadikan pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi. Ia mulai memperbaiki strategi bisnis dan mengembangkan produk agar lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen serta persyaratan pasar ritel modern.
“Saat mengalami kendala finansial, rasanya memang cukup berat karena saya juga harus fokus menyelesaikan perkuliahan. Namun, saya mencoba tenang dan melihat kembali apa yang perlu diperbaiki agar usaha ini bisa berjalan lagi,” ujar Priska, Kamis (8/10/2026).
Setelah menghadapi masalah finansial, Priska kembali berfokus mengembangkan keripik pisang. Ia memperbaiki sejumlah aspek usaha, mulai dari resep dan rasa, kualitas produk, kemasan, hingga branding dan pemasaran.
Proses tersebut dijalani secara bertahap. Priska harus mempertimbangkan keterbatasan modal sekaligus menjaga kualitas produk agar dapat diterima konsumen. Pengalaman sebelumnya membuatnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis.
“Saya berusaha lebih berhati-hati dalam mengelola usaha ini. Pembelajaran dari kegagalan sebelumnya membuat saya lebih memperhatikan kualitas produk, mulai dari resep hingga tampilan kemasan, supaya bisa diterima masyarakat,” jelasnya.
Upaya tersebut membuka peluang bagi produk keripik pisang yang dikembangkannya untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Produknya kini telah masuk ke gerai Alfamart. Selain itu, ia dinyatakan lolos kurasi PLUT KUMKM Jembrana dan Indomaret.
Pencapaian tersebut menjadi tahap penting dalam pengembangan usahanya. Pasar ritel modern dapat membuka akses kepada konsumen yang lebih luas, tetapi juga menuntut pelaku usaha menjaga konsistensi kualitas dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
Dalam perjalanan tersebut, Priska juga menjadi penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS. Selain membantu keberlanjutan pendidikan, ia mengikuti kegiatan mentoring bulanan yang menjadi salah satu ruang untuk belajar dan mengembangkan kapasitas diri.
Pendampingan tersebut menjadi bagian dari proses Priska membangun kembali usahanya setelah menghadapi kendala finansial. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana pendidikan, pembinaan, dan praktik kewirausahaan dapat berjalan beriringan dalam perjalanan mahasiswa mengembangkan bisnis.
“Pernah mengalami permasalahan finansial bukan berarti perjalanan harus berhenti. Justru dari situ saya belajar untuk lebih berhati-hati, memperbaiki diri, dan terus mencoba. Sampai akhirnya produk keripik pisang ini bisa lolos kurasi dan masuk Alfamart,” ungkapnya.
Perjalanan Priska memperlihatkan bahwa pengembangan usaha membutuhkan lebih dari sekadar gagasan produk. Pengelolaan keuangan, evaluasi, konsistensi kualitas, serta kemampuan membaca peluang pasar menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

Be the first to comment