WARTAPTM.ID, BEIJING – Enam doktor alumni perguruan tinggi di Tiongkok yang berkiprah di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) mengunjungi Beijing dan Chongqing pada 10–16 Oktober 2026 atas undangan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mempelajari pengembangan teknologi dan ekosistem inovasi Tiongkok, terutama dalam menghubungkan riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Keenam akademisi tersebut adalah Muhammad Aziz, Henri Setiawan, Anang Masduki, Lolita, Sucipto, dan Sarianawati. Mereka tergabung dalam jejaring akademisi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah, dengan keterkaitan pada sejumlah institusi, antara lain Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), dan STIKes Muhammadiyah Ciamis.
Salah satu agenda kunjungan ialah mendatangi Pusat Pameran Kawasan Demonstrasi Inovasi Nasional Zhongguancun di Beijing. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan teknologi Tiongkok yang menghubungkan perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan perusahaan.
Pusat pameran tersebut menampilkan lebih dari 560 teknologi dan produk inovatif dari lebih dari 350 lembaga penelitian dan perusahaan. Inovasi yang dipamerkan mencakup kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), robot humanoid, kendaraan otonom, teknologi dirgantara komersial, manufaktur presisi, energi terbarukan, hingga teknologi biomedis dan peralatan kesehatan.
Di sektor kesehatan, pengembangan robot bedah, perangkat diagnosis berbasis AI, robot rehabilitasi, dan sistem layanan kesehatan komunitas memperlihatkan beragam penerapan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Namun, pembelajaran penting dari Zhongguancun tidak hanya terletak pada teknologi yang dipamerkan. Kawasan tersebut juga menggambarkan bagaimana penelitian dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan melalui kolaborasi antarlembaga serta dukungan ekosistem inovasi.
Muhammad Aziz, akademisi UAD sekaligus pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menilai pengembangan inovasi membutuhkan keterhubungan antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri. Menurutnya, ekosistem yang saling mendukung menjadi bagian penting agar ilmu pengetahuan dapat memberikan manfaat nyata.
“Masa depan inovasi bukan hanya tentang siapa yang mampu menghasilkan teknologi paling canggih, tetapi juga tentang siapa yang mampu membangun ekosistem agar ilmu pengetahuan benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan. Tiongkok telah berhasil membangun ekosistem yang utuh, dengan mempertemukan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri dalam satu sistem yang saling mendukung,” ujar Muhammad Aziz.
Kata Aziz, pengalaman tersebut juga dapat menjadi bahan refleksi dalam memperkuat hubungan antara penelitian dan pemanfaatannya. Produktivitas akademik tidak cukup diukur dari publikasi ilmiah atau prototipe yang dihasilkan, tetapi juga perlu diikuti upaya mengembangkan hasil penelitian agar dapat diterapkan dan menjawab persoalan masyarakat.
Hilirisasi riset membutuhkan dukungan yang berkelanjutan, mulai dari kebijakan kelembagaan, pengembangan sumber daya manusia, pendanaan, perlindungan kekayaan intelektual, hingga kemitraan dengan dunia industri. Kolaborasi lintas sektor juga membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan pengguna.
Perguruan tinggi seperti UAD, UHAMKA, dan STIKes Muhammadiyah Ciamis memiliki peluang untuk memperluas kolaborasi lintas disiplin sesuai bidang dan kapasitas masing-masing. Kerja sama tersebut dapat diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan di bidang kesehatan, pendidikan, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat.

Be the first to comment