WARTAPTM.ID — Salam tiga jari yang digunakan demonstran dalam aksi #IndonesiaSadar pada Rabu (28/10/2026) memperlihatkan bagaimana sebuah simbol visual dapat melintasi batas negara dan menjadi bahasa solidaritas gerakan sosial. Di Indonesia, simbol tersebut memperoleh makna baru setelah bertemu dengan berbagai persoalan yang disuarakan masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi hingga krisis lingkungan.
Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan, menilai penggunaan salam tiga jari dalam aksi tersebut menunjukkan bahwa simbol tidak hanya berfungsi sebagai gestur, tetapi juga dapat membangun identitas dan kesadaran kolektif.
Menurut dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) itu, salam tiga jari memiliki jejak penggunaan dalam berbagai gerakan pro-demokrasi di sejumlah negara, seperti Thailand, Myanmar, dan Hong Kong. Simbol yang dikenal luas melalui budaya populer The Hunger Games tersebut kemudian diadopsi oleh berbagai kelompok dan diberi makna sesuai dengan situasi politik masing-masing.
“Ini menarik karena simbol visual tidak mengenal batas bahasa. Orang di negara berbeda bisa menggunakan gestur yang sama untuk menyuarakan kegelisahan dan perlawanan, meskipun konteks serta tuntutannya tidak selalu sama,” ujar Radius, Kamis (29/10/2026).
Fenomena tersebut, lanjut Radius, dapat dibaca melalui konsep Imagined Communities yang diperkenalkan Benedict Anderson. Konsep ini menjelaskan bagaimana individu yang tidak saling mengenal dapat membayangkan diri sebagai bagian dari komunitas yang sama melalui simbol, narasi, dan media.
Dalam konteks aksi sosial, simbol yang digunakan bersama dapat membuat seseorang merasa bahwa persoalan yang dihadapinya juga dialami orang lain. Dengan demikian, kegelisahan individual berpotensi berkembang menjadi kesadaran kolektif.
“Ketika simbol tiga jari beredar luas, orang dapat merasa bahwa kegelisahan yang mereka alami bukan persoalan individual. Ada orang lain yang merasakan dan mempersoalkan hal serupa. Simbol kemudian membentuk perasaan ‘kita’ di antara orang-orang yang bahkan tidak pernah bertemu,” jelasnya.
Radius juga menyoroti peran media sosial dalam mempercepat penyebaran dan pembentukan makna simbol. Foto, video, serta unggahan ulang memungkinkan salam tiga jari direproduksi dan digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat. Pada saat yang sama, pengguna dapat menafsirkan simbol tersebut berdasarkan pengalaman dan persoalan di lingkungan masing-masing.
Dari perspektif Desain Komunikasi Visual, kesederhanaan bentuk dan kemudahan pengenalan menjadi faktor yang membuat simbol tersebut efektif sebagai sarana komunikasi kolektif.
“Dalam perspektif Desain Komunikasi Visual, kesederhanaan dan kemudahan pengenalan membuat simbol tersebut efektif sebagai bahasa komunikasi kolektif,” katanya.
Di Indonesia, salam tiga jari yang disertai slogan “Sadar Dipalak, Sadar Dibakar, Sadar Dimiskinkan” terhubung dengan berbagai kegelisahan yang disuarakan dalam aksi. Simbol yang memiliki riwayat penggunaan lintas negara itu kemudian berhadapan dengan persoalan lokal, termasuk kesulitan ekonomi, korupsi, kebakaran hutan, dan kebijakan publik.
Radius menegaskan, kekuatan simbol tidak semata-mata terletak pada seberapa luas penyebarannya, melainkan pada persoalan nyata yang mampu direpresentasikan dan solidaritas yang dapat dibangun.
“Simbol global menjadi bermakna ketika diterjemahkan ke dalam persoalan lokal. Yang penting bukan sekadar seberapa viral tiga jari, tetapi pengalaman sosial apa yang diwakilinya dan apakah simbol itu mampu membangun solidaritas nyata,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa viralitas simbol tidak serta-merta membuktikan adanya koordinasi lintas negara ataupun solidaritas yang berkelanjutan. Makna dan dampaknya tetap perlu dilihat dari konteks penggunaan serta keterkaitannya dengan pengalaman masyarakat.
Dengan demikian, salam tiga jari tidak cukup dipahami sebagai gestur yang ramai di ruang digital. Simbol tersebut juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan, membentuk identitas kolektif, dan mempertemukan individu yang memiliki perhatian terhadap persoalan sosial serupa.

Be the first to comment