WARTAPTM.ID, PALEMBANG — Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, mengingatkan lulusan Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMAD) Palembang agar tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Lulusan perguruan tinggi juga perlu menguatkan nalar kritis, pertimbangan moral, dan kepekaan sosial untuk menghadapi tantangan masa depan.
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Muttaqin dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-3 UMAD Palembang, Kamis (29/10/2026). Sebanyak 287 wisudawan mengikuti prosesi tersebut.
Menurut Muttaqin, teknologi AI mampu membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan secara cepat, mulai dari mengolah informasi hingga menghasilkan teks dan kode komputer. Namun, kemampuan teknis tersebut tidak serta-merta menggantikan pertimbangan manusia dalam memahami konteks, menilai konsekuensi, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Ia menekankan pentingnya sound judgment, yakni kemampuan mempertimbangkan persoalan secara kritis, kontekstual, dan etis sebelum mengambil keputusan.
“Kekuatan AI ada pada efisiensi eksekusi tugas superfisial, namun berisiko menumpulkan kearifan nalar melalui shortcut yang abai terhadap konteks. Sebaliknya, manusia dibekali sound judgment—kapasitas bernalar yang kontekstual, nuansatif, penuh makna, dan berlandaskan evaluasi etis,” tegasnya.
Muttaqin menjelaskan, manusia memiliki sejumlah kapasitas yang perlu terus dikembangkan agar dapat menggunakan teknologi secara bijak. Kapasitas tersebut mencakup keberanian, imajinasi, penalaran moral, dan koneksi kemanusiaan.
Karena itu, ia mendorong para lulusan agar tidak gamang menghadapi perkembangan teknologi, termasuk berbagai perangkat AI. Sebaliknya, lulusan perlu menjadikan teknologi sebagai sarana pendukung tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri dan tanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Untuk mengembangkan kemampuan tersebut, Muttaqin memaparkan empat strategi yang dapat diterapkan alumni. Pertama, memperkuat literasi fundamental sebagai dasar memahami informasi dan persoalan secara mendalam. Kedua, mengembangkan pola pikir lintas disiplin melalui pendekatan liberal arts agar mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.
Ketiga, membangun resiliensi emosional agar mampu menghadapi tekanan dan perubahan. Keempat, menerapkan kepemimpinan etis dalam mengambil keputusan dan menjalankan tanggung jawab profesional.
Ia mengingatkan bahwa kemampuan menganalisis persoalan perlu diikuti tindakan nyata yang bertanggung jawab. Para lulusan juga perlu membangun ketangguhan diri, alih-alih mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Alumni UMAD Palembang harus memiliki resiliensi emosional yang tangguh. Jangan sedikit-sedikit mengeluh atau pasang status lelah di media sosial. Ubah analisis kritis menjadi aksi nyata yang bertanggung jawab dan beradab,” pesannya.
Bagi Muttaqin, lulusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) perlu memadukan penguasaan keahlian dengan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan. Penguasaan ilmu dan keterampilan profesional harus berjalan seiring dengan penguatan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), etika, serta kepedulian terhadap sesama.
Dalam kesempatan tersebut, Muttaqin juga mengapresiasi capaian para wisudawan yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Ia menyebut kelulusan mereka sebagai hasil kerja bersama, mulai dari perjuangan mahasiswa, dukungan orang tua, dedikasi dosen, hingga kontribusi persyarikatan dan pemerintah.
Ia turut menyoroti perkembangan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) sebagai ekosistem pendidikan tinggi yang memberikan akses pendidikan bagi masyarakat dengan latar belakang beragam.
Dalam sambutannya, Muttaqin juga menyampaikan bahwa PTMA memiliki 165 institusi dengan lebih dari 700 ribu mahasiswa aktif dan 20 ribu dosen. Ia juga menyampaikan bahwa 21 PTMA telah meraih akreditasi Unggul, sementara lebih dari 550 program studi memperoleh predikat Unggul.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, ia mendorong UMAD Palembang untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan mempercepat peningkatan jabatan akademik dosen. Upaya itu dinilai penting untuk meningkatkan mutu institusi sekaligus memperkuat daya saing UMAD di antara perguruan tinggi Muhammadiyah.
Menutup sambutannya, Muttaqin menitipkan tiga pesan bagi para wisudawan. Pertama, menyusun perencanaan masa depan secara matang. Kedua, memadukan profesionalisme dengan kesalehan sosial dan kesadaran spiritual. Ketiga, mengambil peran sebagai muharrik atau penggerak kebaikan di tengah masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan lulusan tidak cukup diukur dari kemampuan teknis maupun pencapaian karier. Lulusan juga perlu menunjukkan integritas, empati, dan tanggung jawab sosial dalam setiap peran yang dijalankan.
“Profesionalisme tanpa etika dan kesalehan akan melahirkan kesombongan. Jadilah lulusan yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki empati sosial dan menghadirkan Tuhan dalam setiap ikhtiar,” ujarnya.
Ia berharap para lulusan UMAD Palembang mampu menggunakan ilmu dan kemampuan yang dimiliki untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Dengan perpaduan keahlian, pertimbangan moral, dan nilai-nilai Islam berkemajuan, alumni PTMA diharapkan turut berkontribusi dalam menjawab tantangan zaman dan mendorong kemajuan bangsa.

Be the first to comment