WARTAPTM.ID, JAKARTA — Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APPTIMA) membawa 500 judul buku terbitan berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) ke Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta.
Kehadiran APPTIMA dalam pameran yang berlangsung di Assembly, Jakarta International Convention Center (JCC), tersebut menjadi ruang untuk memperluas akses terhadap karya intelektual sivitas akademika PTMA sekaligus membuka jejaring penerbitan di tingkat nasional dan internasional.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengunjungi stan APPTIMA yang tergabung melalui UMSU Press, Rabu (30/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Fadli menerima sejumlah buku terbitan APPTIMA, termasuk buku yang mengangkat tema budaya dan kearifan lokal.
Fadli mengapresiasi keberadaan penerbit perguruan tinggi yang terus menerbitkan karya pengetahuan dari dosen dan akademisi dalam bentuk buku cetak. Ia juga menaruh perhatian pada sejumlah buku bertema budaya yang dipamerkan APPTIMA.
Salah satunya Suara-Suara Kaki Sinabung karya Rudianto, Wakil Rektor UMSU Bidang Riset, Inovasi, Pengabdian, dan Internasionalisasi.
Pada pembukaan IIBF 2026, Fadli juga mengajak penerbit dan pelaku industri perbukuan untuk aktif mengikuti pameran buku di tingkat nasional maupun internasional. Menurut dia, forum semacam itu membuka peluang pertemuan dan jejaring dengan penerbit dari berbagai negara.
IIBF 2026 sendiri diikuti peserta dari 25 negara.
Ketua APPTIMA sekaligus Direktur UMSU Press, Muhammad Arifin, mengatakan keikutsertaan APPTIMA dalam IIBF menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan buku-buku terbitan PTMA.
Sebanyak 500 judul buku yang dipamerkan berasal dari berbagai penerbit perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Buku-buku tersebut mencakup beragam bidang keilmuan, termasuk karya akademik dan buku yang mengangkat budaya serta kearifan lokal.
Menurut Arifin, distribusi buku PTMA kini tidak hanya menyasar lingkungan internal Muhammadiyah. APPTIMA juga memperluas akses melalui jaringan toko buku nasional dan platform perpustakaan digital.
“Kami sudah menyebarkan buku-buku ini tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, tetapi juga di toko-toko buku nasional. Kami juga bekerja sama dengan Gramedia dan platform perpustakaan digital,” jelasnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya APPTIMA agar karya akademik yang lahir dari PTMA dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
Selain pameran buku, APPTIMA memanfaatkan IIBF 2026 untuk memperluas jejaring penerbitan melalui Indonesia Rights Fair (IRF) 2026. Forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara penerbit, agen hak cipta, penulis, dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
IRF 2026 berlangsung bersamaan dengan IIBF pada 30 September–4 Oktober 2026 di JCC, Jakarta. APPTIMA memanfaatkan forum tersebut untuk membuka komunikasi dan peluang kerja sama terkait hak cipta karya.
Sejumlah penerbit dari berbagai negara turut terlibat dalam forum tersebut, antara lain India, China, Malaysia, Uni Emirat Arab, Turki, Singapura, dan Thailand.
Kehadiran APPTIMA dalam forum perbukuan nasional dan internasional tersebut memperluas ruang bagi karya-karya PTMA untuk tidak hanya beredar di lingkungan kampus, tetapi juga masuk dalam jejaring industri penerbitan yang lebih luas.
Bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, penerbitan menjadi salah satu jalur untuk membawa hasil pemikiran, penelitian, dan kekayaan pengetahuan akademik ke tengah masyarakat. Melalui penguatan distribusi dan jejaring internasional, karya-karya tersebut memiliki ruang yang lebih luas untuk dikenal dan diakses pembaca.

Be the first to comment