Cerpen Dosen UHAMKA Sentuh Empati Publik, Kisah Anak Berkebutuhan Khusus Menginspirasi

Cerpen Dosen UHAMKA Sentuh Empati Publik, Kisah Anak Berkebutuhan Khusus Menginspirasi

WARTAPTM.ID, TEGAL – Karya sastra kembali menunjukkan perannya sebagai medium dakwah kultural yang menyentuh sisi kemanusiaan. Hal ini tercermin dalam cerpen berjudul “Bagus dan Bu Guru Siti” karya dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), Hendra Apriyadi, yang mengangkat kisah nyata tentang pendidikan inklusif di pedesaan.

Dipublikasikan melalui media daring, cerpen ini mendapat respons luas dari pembaca karena menghadirkan potret perjuangan seorang anak berkebutuhan khusus dalam mengakses pendidikan, sekaligus ketulusan guru dalam mendampingi proses belajar.

Cerita ini mengisahkan Bagus, seorang anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder yang tinggal di Desa Tembongwah, Kabupaten Tegal. Di tengah keterbatasan yang dihadapinya, Bagus tetap menunjukkan semangat belajar yang tinggi—membaca, menulis, dan berhitung.

Hendra Apriyadi mengungkapkan bahwa cerpen tersebut lahir dari pengalaman nyata yang ditemuinya di lapangan.

“Cerpen Bagus dan Bu Guru Siti merupakan kisah nyata tentang seorang murid istimewa yang memiliki semangat luar biasa untuk terus belajar. Saya berharap cerita ini dapat membuka hati masyarakat agar semakin peduli terhadap pendidikan anak berkebutuhan khusus serta menghargai perjuangan para guru,” ujarnya.

Melalui alur yang sederhana namun menyentuh, cerpen ini menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menghadirkan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

Selain sosok Bagus, cerpen ini juga menampilkan figur inspiratif, Siti Muniroh, seorang guru yang dengan penuh kesabaran mendampingi anak-anak, termasuk siswa berkebutuhan khusus, di lingkungan dengan fasilitas terbatas.

Dengan latar desa di lereng Gunung Slamet, kisah ini menggambarkan bahwa keterbatasan tidak menjadi penghalang bagi lahirnya pengabdian yang tulus.

“Dulu Bagus hampir tidak pernah keluar rumah karena malu bersosialisasi. Alhamdulillah, sekarang ia mulai percaya diri, mau belajar, dan semakin berani berinteraksi,” tutur Siti Muniroh.

Kisah tersebut tidak hanya menyentuh emosi pembaca, tetapi juga menghadirkan harapan tentang perubahan yang dapat terjadi melalui pendidikan yang penuh empati.

Dampak cerpen ini tidak berhenti pada apresiasi pembaca. Kisah Bagus turut menggerakkan kepedulian berbagai pihak, termasuk dukungan nyata bagi keberlangsungan pendidikan anak tersebut.

“Kami berharap bantuan sederhana ini dapat menjadi penyemangat bagi Bagus untuk terus belajar dan meraih cita-citanya,” ungkap Hendra.

Apresiasi juga datang dari Abdul Mu’ti yang menilai cerpen tersebut mampu menyentuh dan menginspirasi berbagai kalangan.

“Cerpen ini menyentuh pembaca dan menginspirasi para guru, orang tua, serta masyarakat,” tulisnya.

Karya ini menegaskan bahwa sastra tidak sekadar menjadi ruang ekspresi artistik, tetapi juga medium dakwah yang mampu membangun empati, memperkuat kepedulian sosial, dan mendorong perubahan nyata di tengah masyarakat.

Melalui cerpen “Bagus dan Bu Guru Siti”, Hendra Apriyadi menghadirkan pesan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, serta setiap guru memiliki peran penting dalam menyalakan harapan.

Dalam konteks ini, sastra menjadi bagian dari gerakan Islam Berkemajuan—menghadirkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan keberpihakan pada mereka yang membutuhkan.

Be the first to comment

Leave a Reply