WARTAPTM.ID, SORONG – Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Ahmad Muttaqin, menegaskan bahwa keunggulan perguruan tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) tidak semata ditentukan oleh capaian akreditasi, tetapi oleh kokohnya fondasi ideologis Islam Berkemajuan.
Pesan tersebut disampaikan dalam agenda Silaturahmi dan Dialog Akademik: Internalisasi Risalah Islam Berkemajuan di Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong, Kamis (30/7/2026), yang dihadiri pimpinan kampus, dosen, serta jajaran struktural.
Menurut Muttaqin, Risalah Islam Berkemajuan (RIB) yang disahkan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta menjadi pijakan penting dalam membangun arah gerak PTMA di tengah tantangan zaman.
“PTMA yang unggul tidak hanya dibangun dari aspek administratif atau fasilitas, tetapi dari fondasi Islam Berkemajuan yang berakar pada tauhid, berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah, serta terus bergerak melalui ijtihad dan tajdid,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan merupakan kekuatan nilai yang mendorong lahirnya peradaban yang unggul dan berkeadaban. Islam, menurutnya, hadir untuk mengangkat derajat manusia, memerangi kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan, serta menghadirkan kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan.
Dalam konteks tersebut, PTMA memiliki peran strategis sebagai institusi yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga membangun peradaban berbasis nilai.
Muttaqin juga menekankan pentingnya sikap wasathiyah (moderat) sebagai karakter Muhammadiyah, yang menolak ekstremisme, menghargai perbedaan, dan mengedepankan perdamaian.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa pendekatan keilmuan di lingkungan PTMA harus bersifat holistik dengan mengintegrasikan tiga pendekatan utama, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Ketiganya, menurutnya, tidak dapat dipisahkan karena menjadi satu kesatuan dalam memahami realitas: teks wahyu sebagai pedoman, rasionalitas dan sains sebagai instrumen, serta kepekaan nurani sebagai penuntun moral.
“Wahyu dan akal tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus menyatu untuk mengangkat mutu peradaban manusia,” ujarnya.
Pendekatan ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara ayat qauliyah dan ayat kauniyah sebagai landasan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan menjawab persoalan kehidupan.
Dalam arah implementasinya, Muttaqin menegaskan empat gerakan utama yang harus menjadi napas PTMA, yakni; gerakan dakwah yang mencerahkan dan berbasis budaya, gerakan tajdid sebagai pembaruan pemikiran dan institusi, gerakan ilmu melalui riset dan inovasi, serta gerakan amal dalam bentuk penguatan institusi pendidikan.
Keempatnya menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membangun perguruan tinggi yang unggul sekaligus berkemajuan.
Kegiatan ini juga menjadi momentum strategis bagi UNIMUDA Sorong dalam memperkuat identitasnya sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kokoh secara ideologis.
Sebagai kampus yang telah meraih akreditasi Unggul di kawasan Tanah Papua dan Maluku, UNIMUDA terus meneguhkan komitmennya untuk menginternalisasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam seluruh aspek kehidupan akademik.
Melalui dialog ini, diharapkan seluruh sivitas akademika mampu memahami dan mengimplementasikan Risalah Islam Berkemajuan secara utuh dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Di akhir penyampaiannya, Muttaqin mengingatkan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut PTMA untuk tidak hanya adaptif secara teknologi, tetapi juga kokoh dalam nilai. Islam Berkemajuan, menurutnya, menjadi kompas yang memastikan bahwa kemajuan yang dicapai tetap berorientasi pada kemanusiaan, keadilan, dan keberadaban.
Be the first to comment