Inovasi teknologi kembali dihadirkan oleh akademisi perguruan tinggi Muhammadiyah. Dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Jamaaluddin, mengembangkan sistem produksi garam berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT).
Pengembangan ini dilakukan bersama tim peneliti serta mitra industri PT DMK Teknik Utama sebagai upaya menghadirkan solusi produksi garam yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurut Jamaaluddin, potensi energi surya di Indonesia sangat besar dan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk berbagai kebutuhan industri, termasuk produksi garam.
“Indonesia memiliki energi matahari yang melimpah, sehingga sangat potensial dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan, termasuk dalam proses produksi garam,” ujarnya (30/3/2026).
Pemanfaatan Energi Surya untuk Produksi Garam
Dalam sistem yang dikembangkan, panel photovoltaic (PV) berfungsi menghasilkan energi listrik yang kemudian disimpan dalam baterai. Energi tersebut digunakan untuk mengoperasikan perangkat pemanas dan sistem pendukung lainnya dalam proses penguapan air laut hingga terbentuk kristal garam.
Menariknya, selain menghasilkan garam, teknologi ini juga mampu menghasilkan air murni dari proses kondensasi uap air. Hal ini menjadikan sistem tersebut memiliki nilai tambah dalam pemanfaatan sumber daya.
Keunggulan lain dari teknologi ini adalah kemampuannya menjaga stabilitas produksi. Berbeda dengan metode tambak tradisional yang sangat bergantung pada cuaca, sistem berbasis PLTS tetap dapat beroperasi meskipun intensitas matahari tidak maksimal.
Produksi Garam Lebih Stabil
Hasil uji coba menunjukkan peningkatan efisiensi produksi. Metode konvensional rata-rata menghasilkan sekitar 0,009 gram per cm² per jam, sedangkan sistem PLTS mampu mencapai sekitar 0,016 gram per cm² per jam.
“Dengan teknologi ini, produksi garam menjadi lebih stabil karena tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca,” jelas Jamaaluddin.
Selain itu, sistem ini dilengkapi dengan teknologi pemantauan berbasis IoT yang memungkinkan pengawasan secara jarak jauh. Melalui sensor yang terpasang, pengguna dapat memantau suhu, kelembapan, serta kinerja panel surya secara real-time.
“Kami berharap inovasi ini dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas industri garam nasional sekaligus mendukung pemanfaatan energi terbarukan yang ramah lingkungan,” tambahnya.
Dukung Proses Belajar Siswa SMK
Tidak hanya berfokus pada riset, inovasi ini juga dimanfaatkan untuk mendukung dunia pendidikan vokasi. Perangkat smart trainer PLTS telah diserahkan kepada SMK Pemuda Krian sebagai media pembelajaran.
Menurut Jamaaluddin, peran SMK sangat strategis dalam mencetak tenaga terampil di bidang teknologi.
“Melalui smart trainer ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dapat melakukan praktik instalasi dan pengoperasian sistem tenaga surya secara langsung,” ujarnya.
Kepala sekolah, Desy Kartikaningtyastuti, menyambut baik kehadiran alat tersebut. Ia menilai perangkat ini mampu memperkuat pembelajaran berbasis praktik di sekolah.
Dengan adanya fasilitas tersebut, siswa diharapkan dapat memahami prinsip kerja energi surya secara lebih aplikatif, mulai dari instalasi hingga proses konversi energi menjadi listrik.
Inovasi ini menegaskan kontribusi perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghadirkan solusi berbasis riset yang tidak hanya berdampak pada industri, tetapi juga mendukung penguatan pendidikan vokasi dan pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Be the first to comment