Ismail Fahmi: AI Perkuat Peran Manusia, Bukan Menggantikannya

Ismail Fahmi AI Perkuat Peran Manusia, Bukan Menggantikannya

WARTAPTM.ID, YOGYAKARTA – Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ismail Fahmi, menegaskan bahwa kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) harus diposisikan sebagai alat yang memperkuat peran manusia, bukan menggantikannya.

Hal tersebut disampaikannya dalam sesi materi bertajuk “Rancang Bangun PTMA di Era Akal Imitasi” pada Leadership Training (LT) Angkatan XII bagi pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), Selasa (14/7/2026).

Dalam paparannya, Ismail memperkenalkan konsep “akal imitasi” sebagai kerangka berpikir dalam merespons perkembangan teknologi. Ia menegaskan adanya perbedaan mendasar antara akal manusia dan kecerdasan mesin.

“Akal adalah anugerah Ilahi yang memiliki niat, adab, dan mampu memahami makna. Sementara AI hanya meniru pola dari data tanpa niat dan tanpa adab,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan prinsip utama dalam transformasi digital di lingkungan Muhammadiyah. “AI memperkuat peran khalifah—bukan menggantikannya. Adab harus hadir sebelum alat,” tegasnya.

Lima Pilar Strategis PTMA di Era AI

Untuk menjawab tantangan tersebut, Ismail memaparkan lima pilar strategis sebagai rancang bangun pengembangan PTMA di era teknologi.

Pertama, literasi dan SDM adaptif. Ia menekankan bahwa kesiapan manusia menjadi prioritas utama sebelum adopsi teknologi. Literasi AI harus dipahami seluruh civitas akademika.

“Literasi AI adalah keterampilan sipil, bukan sekadar teknis,” ujarnya.

Kedua, kurikulum dan pembelajaran unggul. PTMA didorong mengintegrasikan konsep AI+X di setiap program studi, sekaligus merancang sistem asesmen yang tidak mudah disubstitusi oleh AI.

“Kita bergeser dari menguji apa yang mahasiswa tahu, menjadi apa yang mereka pertimbangkan,” jelasnya.

Ketiga, tata kelola, etika, dan fikih digital. Ia menekankan pentingnya regulasi yang menjaga integritas akademik, termasuk penyusunan panduan etika AI berbasis nilai Muhammadiyah sebagai sistem yang terus berkembang.

Keempat, riset yang berdampak. Menurutnya, riset AI harus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata umat, seperti dakwah digital, kesehatan, hingga mitigasi bencana.

Kelima, infrastruktur dan konsorsium. Ismail mendorong pembentukan konsorsium AI antar-PTMA untuk membangun kemandirian teknologi secara kolektif.

“Satu kampus mungkin tidak mampu berdiri sendiri, tapi ratusan PTMA bersama-sama sangat mungkin,” ungkapnya.

Ismail mengingatkan bahwa arah transformasi digital PTMA berada di tangan para pimpinan, bukan semata tanggung jawab teknis. Ia mendorong PTMA untuk menjadi produsen teknologi agar memiliki kedaulatan atas data dan masa depan.

“Akal tetap milik kita. Mesin hanya mengimitasi,” pungkasnya.

Melalui gagasan tersebut, PTMA didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga aktor utama dalam membangun ekosistem AI yang berlandaskan nilai, etika, dan kemaslahatan.

Be the first to comment

Leave a Reply