WARTAPTM.ID, PEKALONGAN — Irwan, pemuda asal Poncol, Kota Pekalongan, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak harus menghentikan langkah seseorang untuk meraih pendidikan tinggi. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) itu berhasil meraih gelar Sarjana Pendidikan Jasmani dengan predikat cumlaude setelah menempuh kuliah selama 3,5 tahun sambil berjualan nasi goreng dan bekerja sebagai pelatih renang.
Perjuangan Irwan membiayai pendidikannya dimulai sejak duduk di kelas II SMP. Saat itu, ia berjualan nasi goreng bersama ayahnya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, ketika sang ayah terserang stroke, Irwan mengambil alih usaha tersebut dan menjalankannya seorang diri.
“Untuk saya jualan nasi goreng itu sejak saya waktu duduk di kelas SMP kelas 2. Waktu itu saya berjualan nasi goreng karena terkendala dari orang tua saya sendiri dan ikut bantu,” kata Irwan.
Selama sekitar delapan tahun ayahnya menderita stroke, Irwan berusaha membantu perekonomian keluarga. Setiap malam, ia menggelar lapak nasi goreng di depan RS Siti Khadijah, Kota Pekalongan. Penghasilannya digunakan untuk membantu kebutuhan rumah tangga sekaligus membayar biaya kuliah di UMPP.
Rutinitasnya berlangsung padat. Setelah mengikuti perkuliahan sejak pagi hingga sore, Irwan bersiap berjualan selepas Magrib hingga pukul 02.00 atau 03.00. Ia mengaku hanya tidur sekitar empat jam sehari sebelum kembali menjalani aktivitas perkuliahan.
Di tengah kesibukan tersebut, Irwan juga bekerja sebagai pelatih renang di Kabupaten Batang. Pekerjaan yang telah dijalaninya selama dua hingga tiga tahun itu menjadi sumber penghasilan tambahan ketika pendapatan dari berjualan nasi goreng tidak menentu.
Sempat Ingin Berhenti Kuliah
Keputusan Irwan melanjutkan pendidikan tinggi bukan tanpa hambatan. Pada semester pertama, ia sempat berpikir untuk berhenti karena biaya kuliah yang harus dibayarkan cukup besar. Namun, ia memilih bertahan dengan mencicil pembayaran kuliah.
“Awal-awal semester satu itu sempat mau menyerah karena UKT-nya cukup tinggi. Akhirnya saya mencicil dan tetap melanjutkan kuliah,” tuturnya.
Tantangan berlanjut ketika Irwan mengerjakan skripsi. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan dan penyelesaian tugas akademik. Untuk mendukung pengerjaan tugas akhirnya, ia bahkan membeli laptop sendiri.
Dukungan keluarga turut membantunya melewati masa-masa sulit. Orang tua dan saudara-saudaranya membantu ketika ia menghadapi kekurangan biaya maupun kebutuhan selama kuliah.
Kerja keras tersebut berbuah hasil. Setelah menempuh pendidikan selama 3,5 tahun, Irwan menyelesaikan studinya dengan predikat cumlaude. Ia diwisuda pada Rabu (14/10/2026).
Dosen Apresiasi Perjuangan Irwan
Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani UMPP, Riski Aditya, mengaku bangga atas pencapaian Irwan. Menurut dia, Irwan menunjukkan kesungguhan dalam menjalani pendidikan meskipun harus bekerja untuk membantu keluarganya.
Riski mengetahui Irwan berjualan nasi goreng pada malam hari setelah menyelesaikan aktivitas kuliah. Ia juga menilai Irwan memiliki kemampuan akademik yang baik dan kompetensi di bidang perwasitan renang.
“Nilai-nilainya untuk Irwan ini cukup rajin dan nilai-nilainya cenderung bagus semuanya. Selain itu, dia memiliki kompetensi di bidang wasit renang,” ujar Riski saat ditemui pada momen wisuda UMPP.
Ia menilai keberhasilan Irwan menyelesaikan studi tepat waktu dengan predikat cumlaude patut diapresiasi, terutama karena mahasiswa tersebut harus membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan.
“Saya sebagai kepala prodi, sebagai dosennya, sangat bangga dan memberikan apresiasi atas perjuangan mahasiswa-mahasiswa kami yang sangat luar biasa,” katanya.
Setelah lulus, Irwan ingin mewujudkan cita-citanya menjadi guru olahraga. Ia pernah mengajar sebagai guru olahraga di SDN Poncol 2. Pengalaman mengajar dan keterampilannya di bidang renang menjadi bekal untuk melanjutkan langkah di dunia pendidikan.
Kepada mahasiswa lain yang menjalani kuliah sambil bekerja, Irwan berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Baginya, menyelesaikan pendidikan membutuhkan usaha, ketekunan, dan doa.

Be the first to comment