Kolaborasi Muhammadiyah dan LPDP, Resmikan 26 Pendanaan Riset dalam RISPRO Invitasi Berkemajuan

Kolaborasi Muhammadiyah dan LPDP, Resmikan 26 Pendanaan Riset dalam RISPRO Invitasi Berkemajuan
Kolaborasi Muhammadiyah dan LPDP, Resmikan 26 Pendanaan Riset dalam RISPRO Invitasi Berkemajuan, Kamis (19/2/2026).

Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) resmi memulai implementasi 26 proposal riset terpilih dalam program RISPRO Invitasi Berkemajuan.

Penandatanganan perjanjian pendanaan dan kegiatan peningkatan kapasitas penerima manfaat dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis (19/2/2026). Agenda ini menandai dimulainya fase pelaksanaan riset yang berorientasi pada teknologi tepat guna dan hilirisasi produk inovasi melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Riset Inovatif Produktif (RISPRO) merupakan skema pendanaan kolaboratif antara LPDP dan Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas riset nasional melalui hilirisasi inovasi, publikasi ilmiah, serta penguatan kepemilikan kekayaan intelektual.

Integritas dan Kebermanfaatan Amal Usaha Muhammadiyah

Program RISPRO Invitasi Berkemajuan didukung pendanaan total sebesar Rp20 miliar melalui mekanisme pooling fund, dengan kontribusi berimbang masing-masing Rp10 miliar dari LPDP dan Muhammadiyah. Skema ini dirancang untuk memastikan pembiayaan riset berlangsung terstruktur dan berkelanjutan.

Bambang Setiaji - Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah
Bambang Setiaji – Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah.

Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Bambang Setiaji, menegaskan bahwa kolaborasi ini harus dijalankan dengan integritas dan orientasi kemanfaatan publik.

“Kolaborasi ini harus dijaga dengan penuh integritas agar kepercayaan publik dan amanah riset tetap terpelihara. Kami berharap riset-riset yang dijalankan melalui program ini dapat memberi manfaat nyata, bukan hanya bagi ekosistem Muhammadiyah, tetapi juga untuk kemajuan Indonesia,” ujarnya.

Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto, menyampaikan bahwa hasil riset para peneliti akan memperkuat ekosistem AUM, mulai dari pendidikan, layanan kesehatan di rumah sakit, hingga pemberdayaan kelompok tani binaan.

Ayom Widipaminto - Direktur Fasilitasi Riset LPDP
Ayom Widipaminto – Direktur Fasilitasi Riset LPDP.

Menurutnya, jaringan lebih dari 160 perguruan tinggi dan ratusan rumah sakit Muhammadiyah menjadi “laboratorium hidup” yang memungkinkan proses uji coba dan implementasi inovasi dilakukan secara langsung di lapangan.

“Pendanaan bersama ini memastikan hasil riset benar-benar dihilirisasi, digunakan, dan dirasakan manfaatnya secara konkret oleh masyarakat melalui unit-unit amal usaha,” kata Ayom.

Seleksi Ketat dan Lima Fokus Strategis

Sebanyak 26 proposal dari 13 universitas dinyatakan lolos setelah melalui proses seleksi sejak September hingga Desember 2025. Program ini bersifat inklusif. Selain melibatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA), beberapa perguruan tinggi negeri juga berpartisipasi, seperti Universitas Indonesia dan Universitas Jenderal Soedirman.

Adapun lima tema strategis yang menjadi fokus pendanaan meliputi:

  1. Ketahanan pangan dan pertanian
  2. Transisi energi, material, dan manufaktur
  3. Kesehatan
  4. Rekayasa dan teknologi digital
  5. Sosial, ekonomi hijau dan biru, serta humaniora
Muhadjir Effendy - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Muhadjir Effendy – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, dalam amanatnya menyatakan bahwa kolaborasi ini diharapkan menguatkan posisi PTMA sebagai perguruan tinggi berbasis riset.

Ia menekankan pentingnya kualitas dan dampak riset, terutama pada aspek hilirisasi. “Setelah pendanaan diberikan, perlu ada asesmen terhadap dampak dan sejauh mana hasil riset benar-benar diimplementasikan di lapangan,” ujarnya.

Penguatan Kapasitas dan Akuntabilitas

Selain penandatanganan kontrak pendanaan secara tripartit, para periset juga mendapatkan pembekalan mengenai kebijakan pencairan dana, pelaporan, serta mekanisme monitoring dan evaluasi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap proyek berjalan transparan, akuntabel, dan tepat waktu.

Melalui teknologi tepat guna dan hilirisasi inovasi, program RISPRO Berkemajuan diharapkan mendorong kemandirian penguasaan teknologi kunci serta memperkuat daya saing nasional. Kolaborasi ini sekaligus menjadi praktik baik dalam pendanaan riset berbasis kemitraan, termasuk dari sumber non-APBN, guna meningkatkan belanja riset nasional yang saat ini masih berada di bawah 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Bagi Muhammadiyah, RISPRO Berkemajuan bukan sekadar skema pendanaan, melainkan bagian dari ikhtiar jangka panjang untuk menghadirkan riset yang berdampak langsung bagi masyarakat dan berkontribusi pada agenda pembangunan Indonesia menuju 2045.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*