Makan Enak Saat Perayaan Natal dan Tahun Baru, Tetap Waspada!

Makan Enak Saat Perayaan Natal dan Tahun Baru, Tetap Waspada!
dr. Uswatun Aortatika Khasanah, Sp.PD. (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta)

Perayaan Natal dan Tahun Baru selalu menghadirkan suasana hangat, penuh kebersamaan, dan tidak jarang dimeriahkan dengan meja makan yang melimpah hidangan. Namun di balik sukacita itu, ada satu catatan penting yang tak boleh diabaikan: peningkatan risiko gangguan kesehatan, khususnya kolesterol dan asam urat. Fenomena ini bukan sekadar asumsi, melainkan temuan yang kerap dijumpai tenaga kesehatan usai libur panjang.

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, dr. Uswatun Aortatika Khasanah, Sp.PD., mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak menjaga pola makan selama masa liburan agar momen bahagia tidak berujung pada masalah kesehatan.

Liburan akhir tahun biasanya membawa perubahan pola konsumsi. Frekuensi makan meningkat, porsi bertambah, dan jenis makanan cenderung tinggi lemak serta kolesterol. Daging merah, makanan bersantan, mentega, keju, hingga dessert manis menjadi sajian yang hampir tak pernah absen. Sementara itu, konsumsi jeroan dan beberapa jenis seafood berpotensi meningkatkan kadar asam urat.

Tak hanya makanan, minuman seperti alkohol, minuman manis tinggi fruktosa, dan kebiasaan tidur tidak teratur turut memperburuk kondisi kesehatan karena metabolisme tubuh tidak bekerja optimal.

Kolesterol & Asam Urat: Ancaman yang Sering Diabaikan

Kolesterol tinggi sering disebut silent killer karena jarang menimbulkan gejala. Banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah pemeriksaan medis, atau saat komplikasi muncul.

Sebaliknya, kenaikan asam urat biasanya memberikan sinyal lebih jelas. Rasa nyeri hebat, pembengkakan, kemerahan, hingga sensasi panas pada sendi—terutama di ibu jari kaki—menjadi tanda yang perlu diwaspadai. Jika keluhan muncul, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan sangat disarankan.

Bagi masyarakat yang memiliki riwayat kolesterol atau asam urat tinggi, disiplin menjadi kunci utama. Mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, mengatur porsi makanan, memilih protein lebih sehat seperti ayam tanpa kulit, tahu, tempe, serta ikan rendah purin, perlu menjadi prioritas.

Cara memasak pun layak diperhatikan. Mengukus, merebus, atau memanggang lebih dianjurkan daripada menggoreng. Konsumsi sayur dan buah sebaiknya diperbanyak, sementara jeroan, daging berlemak, alkohol, serta minuman manis perlu dibatasi.

Jangan Lupa Bergerak dan Istirahat Cukup

Selain pola makan, faktor lain seperti kurang tidur, stres, dehidrasi, dan minim aktivitas fisik turut memicu gangguan metabolik. Aktivitas ringan selama 10–15 menit setelah makan, misalnya berjalan santai, dapat membantu menjaga metabolisme tubuh.

Perayaan Natal dan Tahun Baru pada hakikatnya adalah ruang refleksi, rasa syukur, dan mempererat tali keluarga. Menjaga kesehatan bukan berarti menghilangkan kebahagiaan, tetapi memastikan sukacita dirayakan dengan penuh kesadaran dan keseimbangan.

UNISA Yogyakarta melalui tenaga medis dan tenaga akademiknya terus mengedukasi masyarakat agar semakin peduli terhadap kesehatan diri. Jika memiliki riwayat penyakit metabolik atau mengalami keluhan selama liburan, masyarakat diimbau tidak menunda konsultasi ke tenaga kesehatan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*